Harmonisasi Sosial Sebagai Upaya Deradikalisasi di Tengah Masyarakat Multikultural

1
501

Sangkhalifah.co — Sebagai upaya deradikalisasi bagi masyarakat, perlu dilakukan harmonisasi sosial di tengah-tengah mereka. Dalam konteks Indonesia, harmonisasi sangat urgen dilakukan mengingat masyarakatnya yang multikultural. Keragaman bangsa yang berdasarkan pada perbedaan agama, ras, suku dan golongan harus dikompromikan satu dengan lainnya. Upaya tersebut sebagai langkah dalam memutus dan menghindari konflik antar sesama bangsa.

Ajaran tentang toleransi harus mendapatkan porsi tertinggi dalam praktik pergaulan bangsa. Sebagai sesama bangsa, harus menyadari pentingnya rasa cinta tanah air. Rasa patriotisme harus dikembangkan sebagai satu nilai budaya yang tak terbantahkan. Di samping demikian, universalitas nilai-nilai kemanusiaan menjadi penting juga diperhatikan. Karenanya, toleransi harus didasarkan rasa cinta tanah air, sebagai sesama bangsa dan atas dasar nilai-nilai kemanusiaan.

Peristiwa demi peristiwa yang telah mewarnai perjalanan bangsa ini, harusnya menjadi satu pengalaman berharga. Bukan sebaliknya, malah dijadikan umpan untuk menciptakan konflik yang seharusnya dihindarkan. Perilaku benar sendiri, diskriminasi terhadap liyan, justifikasi yang mengarah pada takfir, itu semua harus dilenyapkan. Sebab, di tengah pergaulan bangsa penuh ragam ini yang diperlukan bukan surga dan neraka. Akan tetapi, hal yang lazim diperjuangkan bersama adalah persatuan dalam universalitas kemanusiaan.

Dalam hal ini, harmonisasi sosial menjadi satu modal utama untuk menciptakan kerukunan di tengah masyarakat. Tanpa membiasakan hal tersebut, rasanya kerukunan akan sulit diwujudkan. Sehingga, jalinan komunikasi dan persaudaraan sebagai satu bangsa menjadi niscaya demi wujud kerukunan yang hakiki. Hal semacam ini tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran diri masing-masing. Harus ditanamkan bahwa prinsip persaudaraan sebangsa lebih penting daripada sekadar persamaan dalam pilihan politik dan agama.

Hal lain, yang tak kalah penting adalah upaya membuka diri terhadap perbedaan yang lazim terjadi sebagai bangsa yang multikultural. Perbedaan itu harus diposisikan sebagai kekayaan, bukan sebagai jurang pemisah antar golongan yang mutlak berbeda. Sehingga, pergaulan sosial yang terwujud di antara sesama bangsa ini selalu terjaga. Adapun tujuan utamanya selalu diarahkan pada prinsip persatuan Indonesia. Ketika terjadi riak-riak yang mengganggu keharmonisan bangsa, harus segera diselesaikan dengan dialog tanpa mendiskreditkan satu pihak tertentu. Di sinilah, letak kesadaran utama membangun toleransi dalam satu kesatuan bangsa.

Jika perbedaan yang ada merupakan keniscayaan, tentu saja harus dicari titik temu sebagai keniscayaan pula. Karenanya, penting untuk memposisikan nilai-nilai persatuan yang dibalut dalam universalitas kemanusiaan sebagai jalur khusus meraih tujuan bersama. Andai saja, terus berpikir tentang mana yang benar dan selainnya salah tentu tidak akan ketemu ujungnya. Pada akhirnya, perang batin, meningkat menjadi perang mulut, sampai terpaksa berakhir di meja hijau pengadilan. Inilah yang harus dihindarkan, apabila tetap berpacu dalam upaya mengeja kata ‘persatuan’ dalam koridor keharmonisan bangsa.

Allah Melarang Mencaci Orang Lain 

Salah satu bentuk radikalisme yang marak di tengah masyarakat Indonesia adalah sikap Takfiri. Mereka yang menganut faham ini, akan mudah mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham atau satu agama dengannya. Bahkan, dalam konteks satu agama sekali pun bisa terjadi ucapan kebencian yang berdampak provokatif dan intoleran. Terlebih lagi, apabila dikaitkan dengan konteks lebih luas seperti beda agama tentu akan lebih runyam lagi. Inilah yang seharusnya dihindarkan oleh masyarakat yang multikultural seperti bangsa Indonesian. Kalau sesama agama saja tidak bisa rukun, lalu bagaimana jika antar pemeluk agama?

Menjawab pertanyaan di atas, perlu kiranya melihat secara mendalam ajaran utama Islam sebagai agama rahmat untuk semua. Ketika menyinggung kerukunan antara sesama muslim, wajib hukumnya menghindari sikap dan perilaku mencaci orang lain (QS. al-Hujurat [49]: 11). Dalam tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa melecehkan orang lain, termasuk kategori sikap sombong. Ini sebagaimana dikutip dari sebuah hadis bahwa, “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” HR. Muslim (Ibnu Katsir, 2000: 13/154).

Dalam konteks ayat tersebut, secara eksplisit tampak bahwa kemungkinan besar ada sekelompok merasa paling benar, baik dan sempurna dibandingkan yang lain. Perilaku salah mereka, adalah melecehkan dan mencaci yang lainnya. Ini sangat relevan jika dikaitkan konteks Indonesia, yang mana tetap saja ada kelompok yang merasa paling benar. Tidak berhenti di situ, mereka pun tidak segan menyalahkan dan menjelekkan orang lain. Parahnya, pemerintah pun menjadi sasaran perilaku jahat mereka yang begitu sombong tak karuan.

Ketika bersinggungan dengan agama lain, sebagai muslim pun dilarang mencaci sesembahan pemeluk agama lain (al-An’am [6]: 108). Karena, hal ini dapat memicu terjadinya permusuhan. Di sisi lain, hal itu berpotensi mereka bakal mencaci balik Tuhan yang disembah orang muslim. Nabi Muhammad Saw. sebagai pembimbing umat muslim secara umum kala itu, melarang untuk mencaci Tuhan kaum musyrikin yang seringkali mengganggu kaum muslimin (Shihab, 2002: 3/605). Ini penting dilakukan sebagai antisipasi, kalau saja mereka membalas justru akan kembali lagi kepada nama Tuhan sendiri.

Karenanya, hemat penulis kedua ayat di atas penting sebagai landasan dalam menjaga sikap dan perilaku pada lingkup pergaulan antar pemeluk agama yang berbeda. Sekaligus, keduanya dapat menjadi landasan untuk program deradikalisasi di tengah masyarakat. Tentunya, sangat relevan dengan kondisi bangsa Indonesia yang multikultural. Perbedaan agama, ras dan suku tidak boleh dijadikan jurang pemisah dalam harmonisasi sosial. Akan tetapi, semua perbedaan itu harus dikelola sedemikian rupa dengan landasan agama masing-masing agar bertemu dalam kata perdamaian. Sehingga, semua proses itu akan berakhir pada sila “Persatuan Indonesia”. [Abdul Fattah]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!