Hari Nusantara dan Paradigma Dakwah Nusantara

0
453

Sangkhalifah.co — Setiap bulan Desember bangsa ini memeringati Hari Nusantara. Sebuah peringatan penting, tonggak sejarah perjalanan bangsa sebagai negara kepulauan. Peringatan ini dimulai dengan Deklarasi Djuanda yang membuat luas wilayah laut Indonesia yang awalnya 1 juta km persegi menjadi 3,1 juta km persegi. Melalui UNCLOS 1982, kawasan Indonesia bertambah menjadi 5,8 juta km persegi.

Selanjutnya, melalui UU 17 tahun 1985, Indonesia meratifkasi UNCLOS 1982 bahwa Indonesia adalah negara kepulauan. Sejak saat itu, dunia mengakui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar yang wilayahnya terdiri dari ribuan pulau-pulau yang antara satu pulau dengan pulau lainnya disatukan oleh wilayah lautan.

Peringatan Hari Nusantara pada dasarnya memiliki empat tujuan utama: Pertama, merubah mindset bangsa Indonesia mengenai ruang hidup dan ruang juang dari matra darat menjadi matra laut (matra darat dan matra laut berimbang); Kedua, menjadikan bidang kelautan sebagai arus utama (mainstream) pembangunan nasional; Ketiga, menghasilkan model pembangunan terintegrasi bagi kepulauan terluar dan atau terpencil; Keempat, mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mampu mengelola potensi sumber daya alam laut untuk kesejahteraan masyarakat dan disegani dunia.

Paradigma dakwah Nusantara

Memeringati Hari Nusantara adalah menguatkan kembali kemaritiman Indonesia lewat pembangunan yang berparadigma Nusantara atau kepulauan. Namun, paradigma Nusantara harus terus dikuatkan bukan hanya dalam hal politik, namun juga dalam konteks dakwah keagamaan. Sebab, paradigma dakwah Nusantara telah terbukti mampu menghasilkan keberagamaan masyarakat yang damai, moderat, dan toleran.

Corak keberagamaan masyarakat yang damai, toleran, dan moderat inilah yang kita butuhkan sekarang. Terutama untuk mengokohkan ikatan persaudaraan, persatuan, dan kesatuan bangsa di tengah segala perbedaan dan kemajemukan yang ada.

Di samping itu, dakwah khas Nusantara juga penting untuk kembali dikuatkan di tengah ancaman penyebaran paham-paham radikalisme-ekstremisme agama yang disebarkan melalui model-model dakwah radikal yang gemar menyebarkan kebencian,  permusuhan, bahkan kekerasan. Jelas, hal tersebut adalah ancaman bagi ikatan persatuan dan kesatuan bangsa.

Dakwah Nusantara artinya model, corak, atau pendekatan dakwah agama yang berparadigma Nusantara. Yakni paradigma dakwah yang toleran, santun, damai, dan menghargai tradisi yang sudah ada di masyarakat, tanpa diiringi kebencian dan permusuhan.

Gambaran paradigma dakwah Nusantara bisa kita lihat misalnya dari model dakwah para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa. Dakwah tersebut merupakan model dakwah yang sangat menghargai, bahkan mengapresiasi budaya atau tradisi di masyarakat. Penyebaran agama dilakukan tidak dengan menjajah tradisi dan budaya yang ada sebelumnya, melainkan—ajaran agama tersebut—secara kreatif dan harmonis meresap dalam berbagai tradisi dan budaya terebut. Sehingga, masyarakat menyambutnya dengan ramah dan tangan terbuka.

Paradigma dakwah Nusantara adalah dakwah agama yang dilakukan dengan penuh hikmah, kebijaksanaan, empati, dan pengertian. Said Aqil Siroj (2015: 216) menjelaskan, strategi para wali dalam mengembangkan ajaran Islam di bumi Nusantara terdahulu dilakukan dengan beberapa langkah strategis. Pertama, tadriji (bertahap), tidak ada ajaran yang diberlakukan secara mendadak, semua melalui proses penyesuaian. Bahkan kadang secara lahir terlihat bertentangan dengan Islam, tapi ini hanya strategi. Misalnya, mereka dibiarkan minum tuak, makan babi, atau mempercayai Sang Yang, kemudian secara bertahap mereka diluruskan sesuai ajaran Islam.

Kedua, taqlid taklif (memperingan beban). Masyarakat yang masih awam tidak langsung disuruh sembahyang atau puasa. Awalnya, masyarakat hanya dibebani sesuai semampunya saja, sehingga setiap orang mampu melaksanakan. Ketiga, ‘adamul haraj (tak menyakiti), artinya para wali membawa Islam tidak dengan mengusik tradisi masyarakat yang sudah ada. Bahkan para wali tidak mengusik agama dan kepercayaan mereka, melainkan memperkuatnya dengan cara-cara Islam.

Mencermati corak paradigma dakwah Nusantara tersebut, tergambar model pendekatan dakwah yang bijaksana, penuh hikmah, dan kebaikan yang mampu merangkul: menciptakan rasa aman , nyaman, dan penuh kebaikan serta bermuara pada kemanfaatan. Sebagaimana Islam itu sendiri yang rahmatan lil alamin, menyebarkan kebaikan bagi seluruh semesta. Inilah corak dakwah yang terbukti menghasilkan semangat moderasi beragama di masyarakat: umat beragama yang bijak, toleran, menjaga prinsip keseimbangan, dan menjunjung tinggi komitmen persaudaraan, persatuan, dan kesatuan.

Dakwah agama berparadigma Nusantara adalah jawaban atau solusi atas persoalan merebaknya dakwah-dakwah radikal penyebar provokasi kebencian. Di dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, paradigma dakwah Nusantara adalah inspirasi berharga yang harus terus dijaga dan dipraktikkan para pendakwah agama. Sebab, hanya dengan model dakwah tersebutlah, akan mampu menciptakan umat beragama yang toleran, moderat, sekaligus warga negara yang cinta Tanah Air dan berkomitmen pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). []

*

Leave a reply

error: Content is protected !!