Harga Mati dalam Menolak Khilafah Tahririyah

2
348

Sangkhalifah.co — Mau atau tidak mau, seluruh rakyat Indonesia harus satu suara menolak khilafah, seperti yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan ISIS. Di samping karena ormas HTI, pengasong khilafah sudah tidak lagi memiliki legalitas sah di Indonesia, juga karena tidak ada satu bukti pun negara di dunia yang berhasil menerapkan khilafah. Klaim bahwa khilafah akan memberikan kesejahteraan adalah ilusi yang diada-adakan oleh mereka yang masih tertidur pulas di alam mimpi.

Bukannya memberikan kesejahteraan, kelompok-kelompok pengasong khilafah seperti ISIS dan Hizbut Tahrir (HT) justru membuat kegaduhan di sana-sini. Negara-negara di dunia baik negara mayoritas Muslim maupun mayoritas non Muslim telah sepakat menolak khilafah. Penggunaan simbol-simbol agama oleh kelompok pengasong khilafah hanyalah bualan semata, yang tidak lain tujuannya untuk melampiaskan nafsu politiknya, yang dibungkus dengan ayat-ayat suci demi mengelabuhi orang-orang awam.

Hari ini kita masih dibuktikan dengan ke-tidaktahudiri-an para pengasong khilafah. Mereka masih saja mengemis-ngemis kepada rakyat Indonesia agar jualan khilafahnya “dibeli”. Sehingga masih banyak orang-orang, bahkan sampai pada tingkat kementerian, yang terbius oleh rayuan khilafah yang sungguh membahayakan keutuhan bangsa. Islam jelas-jelas memerintah umatnya untuk taat kepada pemerintah dengan segala aturannya. Namun khilafah yang legalitasnya sudah dibekukan pemerintah itu justru terus dikoar-koarkan oleh para pengasong khilafah. Mereka “katanya” paling membela Islam, namun sejatinya tanpa sadar setiap saat menentang tata aturan pemerintah yang pada dasarnya adalah bagian dari ajaran Islam.

Ketidaktaatan para pengasong khilafah terhadap aturan pemerintah yang merupakan esensi ajaran Islam membuat umat banyak terjerumus kepada ajarannya yang belum jelas. Lihat saja banyaknya artis yang tergiur masuk pemikiran pengasong khilafah. Sebut saja Teuku Wisnu, Arie Untung, Dude Harlino, Mario Irwinsyah dan Tommy Kurniawan, adalah sederet artis yang kerap tergiur kajian aktivis khilafah seperti Fatih Karim. Melalui akun Twitter mereka kerap mengunggah aktivitas belajar pada orang-orang yang gerakan khilafahnya sudah tak “halal” di Indonesia. Para aktivis khilafah ini pun juga mengunggah di beberapa media sosialnya dengan artis-artis kenamaan itu. Belum lama juga, owner Batik Trusmi Cirebon Sally Geovani tergiur aktivis khilafah Fatih Karim. Gerakan khilafah disinyalir juga masuk dalam tubuh DPRD Cirebon yang menghapus kata “khilafah” sebagai ideologi yang tertolak Pancasila, yang sebelumnya sudah pernah disebutkan.

Masih banyak deretan orang-orang yang terbius dengan aktivitas khilafah yang jelas-jelas sudah terlarang di negara ini. Melalui Perppu No 2 Tahun 2017 pengusung khilafah HTI telah resmi dilarang, sehingga sudah seharusnya, seluruh gerakan yang mengkampanyekan ajaran dan ideologi HTI wajib ditolak dan tidak legal untuk diikuti. Khilafah merupakan ideologi yang tidak sedikitpun cocok untuk ditegakkan di Indonesia. Sebab bangsa Indonesia terdiri dari keragaman dalam berbagai sisinya, baik etnis, suku, ras, bahkan agama.

Khilafah sudah pasti tertolak. Memaksakannya tegak di bumi Indonesia sangat berpotensi melahirkan kekacauan dan benturan antar bangsa. Maka, umat Islam wajib mempertahankan negaranya dari kehancuran apapun, termasuk dari rongrongan khilafah. Menolak khilafah adalah mutlak, tak bisa ditawar. Karena menolak khilafah berarti menolak kehancuran di bumi pertiwi.

Para penyeru khilafah berdalih akan menerapkan syariat Islam secara kaffah, menyeluruh. Lihat saja ceramah-ceramah pentolan khilafah yang terus berdagangan khilafah, seperti Ismail Yusanto, Rokhmat S. Labib, Hafidz Abdurrahman, Farih Karim, dan sejumlah aktivis khilafah lainnya. Pertanyaannya, syariat Islam yang mana? Syariat Islam tafsiran sispa? Padahal, menurut Ibn ‘Aqil, syariat sangatlah beragam. Memutlakkan satu bentuk syariat Islam sama dengan menolak syariat Islam yang lain. Hal ini yang membuat ulama sekelas Imam Malik menolak kitab Al-Muwatta-nya dijadikan konstitusi negara, sebab konten kitab itu hanyalah satu perspektif syariat, dan masih banyak syariat Islam versi lainnya. Ini bukti kerendahan dan tingginya ilmu Imam Malik. Berbeda dengan aktivis khilafah yang terus mempropagandakan syariat Islam versinya untuk diyakini orang lain yang tidak setuju, padahal tidak ada ulama sekalipun di antara kelompok pengasong khilafah itu.

Penulis merasa heran sama para pengasong khilafah. Landasan apa yang mereka banggakan untuk menjadi alasan umat harus memperjuangkan khilafah. Padahal, tidak ada kisah sukses yang memadai dalam sistem sistem khilafah. Empat khalifah pertama yang menggantikan Rasulullah misalnya, justru terbunuh ketika khilafah tegak. Perang Jamal yang melibatkan Sayyidina Ali dan Siti Aisyah, yang korbannya tidak sedikit, juga justru terjadi ketika khilafah ditegakkan. Atau, pembantaian para intelektual (mihnah/inkuisisi) juga terjadi di mana khilafah dijadikan sistem bernegara. Khilafah tak memiliki kisah sukses. Tidak ada kata lain kecuali kita semua harus menolak khilafah dan siapapun yang mengkampanyekannya. Lagi pula, khilafah bukanlah rukun Iman yang harus diyakini orang Islam, bukan pula rukun Islam yang harus dijalankan Muslim. Tidak mempercayainya tidak sama sekali berdosa. Jangan pernah ragu untuk menolak khilafah.

Sudah terbukti di hadapan mata kita semua bahwa khilafah adalah sistem yang absurd yang terus dikampanyekan oleh orang-orang yang tidak tahu apakah masih memiliki akal atau tidak. Negara mana di dunia ini yang sekarang telah disejahterakan oleh khilagfah? Tidak ada. Negara mana yang masyarakat Muslimnya rukun, taat aturan, dan maju secara intelektual karena telah menegakkan khilafah? Fiktif.

Jangan mau dibohongi para pengasong khilafah. Cukuplah menggunakan nalar nalar sehat bahwa Indonesia adalah negeri yang sudah dijanjikan Allah dengan Pancasilanya. Mari bersama membangun negeri ini dengan Islam yang sejati, Islam yang menghargai perbedaan, Islam yang memiliki visi masa depan, Islam yang harmoni dengan nilai-nilai keindonesiaan. Bukan khilafah Islamiyyah. Islam bukanlah khilafah Islamiyyah. Khilafah Islamiyyah bukan juga Islam. Khilafah Islamiyyah hanyalah produk gagal yang kembali dijual-belikan oleh para politikus agama. Maka harga mati bagi bangsa Indonesia untuk menolak khilafah. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!