Hamas dan Buah Busuk dalam Keranjang

2
8595

Sangkhalifah.co — Pembela Israel (sebagiannya tidak mau mengaku dan berlindung di balik kata ‘netral’ atau ‘moderat’) sering menggunakan Hamas sebagai dalil bagi kesalahan Palestina.

Saat aksi demo “March of Return” (menuntut hak kembali ke tanah dan rumah yang dirampas Israel) dihadapi dengan gas air mata dan peluru mematikan (bahkan jurnalis dan paramedis pun ditembaki) oleh Israel, mereka berdalih: itu gara-gara Hamas! Yang demo itu Hamas, mereka teroris! Mereka itu dapat duit jutaan Dollar tapi berbuat kejahatan kepada orang Palestina! Kalau tidak ada Hamas, Israel tidak mungkin menyerang!”

Pengacara HAM Palestina, Noura Erekat ketika diwawancarai media AS, CBC News, berkata, “Jika kita terus melihat Hamas sebagai sumber masalah, artinya kita men-dehumanisasi [menganggap bukan manusia] bangsa Palestina yang sudah melakukan demo melawan Israel selama 70 tahun, sejak belum didirikannya Hamas.”

Supaya orang Indonesia lebih mudah membayangkan situasinya: apa yang Anda bayangkan soal pejuang kemerdekaan kita dulu? Heroisme para pejuang, kan? Terbayang gak, kalau di antara para pejuang kemerdekaan itu ada orang-orang yang brengsek? Ah, rasanya gak mungkin!

Tapi coba baca catatan peneliti sejarah, kang Hendi Jo dalam bukunya “Zaman Perang”. Di situ Anda akan temukan bahwa jalannya perang tidaklah hitam putih. Selalu ada tokoh antagonis di pihak terjajah, selalu ada tokoh protagonis di pihak penjajah. Anda bisa baca juga catatan-catatannya di Facebook. Misalnya, ini saya kutip:

Sementara itu, di tengah penderitaan rakyat akibat perang, kisah revolusi juga menyisakan berbagai cerita aksi-aksi cari untung dan cari selamat dari para pelakon perang di di pihak republik. Di Klender, Jakarta Timur diberitakan bagaimana ratusan pemuda dari Lasykar Rakyat Jakarta Raya pimpinan tokoh hitam bernama Panji bergabung dengan militer Belanda dan difasiliasi membentuk Hare Majesteit’s Ongeregelde Troepen (HAMOT) alias Pasukan Liar Sri Ratu (tentunya yang dimaksud Ratu Willhelmina, ratunya orang Belanda) untuk menghadapi kaum republiken.

Aksi cari untung juga dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam kesatuan Beruang Merah di Cikampek. Alih-alih menghadapi tentara Belanda mereka malah terlibat dalam aksi mem-back up penyelundupan barang-barang ke pasar gelap dari wilayah republik ke wilayah pendudukan Belanda (atau sebaliknya). “ Mereka pun segera mendapat julukan “ber-uang merah” (memiliki uang Belanda)…” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusiener Jakarta 1945-1949.

Nah, situasi yang sama juga terjadi di Palestina. Cerita tentang kehidupan mewah elit-elit “pejuang” Palestina sudah sejak lama tersebar. Kebrengsekan elit Hamas ini semakin terbongkar dalam Konflik Suriah. Alih-alih mendukung pemerintah Suriah yang memberi mereka makan dan perlindungan selama bertahun-tahun (Hamas berkantor di Damaskus, karena ditolak di negara-negara Arab lain yang berteman dengan Israel), pimpinan Hamas (Khaled Mash’al dan Ismail Haniyeh) malah mengibar-ngibarkan bendera FSA. Brigade Izzudin Al Qassam bahkan juga melatih para “mujahidin”.

Aksi mereka ini bisa disebut pengkhianatan yang terdahsyat terhadap aliansi anti-Israel (Iran-Suriah-Hizbullah).

Perlu dicatat bahwa Hamas pernah berkomitmen untuk menghentikan perlawanan bersenjata, dan menjadi partai politik (berjuang lewat politik dan diplomasi). Pada tahun 2006, Hamas menang pemilu demokratis pertama di Palestina dan menguasai parlemen. Para pengamat internasional menilai bahwa pemilu saat itu benar-benar demokratis.

Namun apa yang terjadi? Karena Partai Hamas yang menang, AS dan Uni Eropa malah memboikot dan menghentikan suplai bantuan mereka kepada Palestina. Padahal, Hamas sangat membutuhkan dana internasional untuk menjalankan roda pemerintahannya. Pada saat itu, Iran langsung menyediakan diri untuk menyumbang 50 juta Dollar kepada Hamas. Dan Iran menepati janjinya, sampai akhirnya Hamas berkhianat.

Pada Januari 2013, Presiden Assad akhirnya angkat suara, menyindir Hamas secara terbuka, “Saya mengapresiasi warga Palestina yang terhormat yang tinggal di Suriah, yang berjuang bersama saudara-saudara Suriahnya; dan tidak memperlakukan Suriah seperti hotel, meninggalkannya ketika situasi menjadi sulit.”

Sejak Israel didirikan tahun 1948, jutaan warga Arab Palestina hidup di pengungsian karena tanah dan rumahnya dirampas. Salah satu kamp pengungsian terbesar adalah di Suriah dan Suriah pernah disebut UNHCR sebagai negara yang memberikan pelayanan terbaik kepada para pengungsi.

Buah Busuk dalam Keranjang

Pertanyaannya sekarang, apakah Hamas keseluruhan yang berkhianat, atau elitnya saja? Yang jelas, sejak 2013, sebagian elit Hamas, misalnya Mahmoud Zahar dan Rafaat Murra, bolak-balik mengklarifikasi (termasuk juga datang ke Tehran) bahwa Hamas tidak ikut campur dalam konflik Suriah.

Secara diplomatis, pemerintah Iran menjawab klarifikasi ini, “The Islamic countries and the region’s public opinion will never leave the oppressed Palestinian people alone” (Negara-negara Islam dan opini publik di kawasan tidak akan pernah meninggalkan rakyat Palestina sendirian).

Poin yang disampaikan Iran adalah: tetap fokus pada akar masalah. Ketika ada buah busuk dalam satu keranjang, buanglah buah itu, dan tetap rawat buah yang lain agar tetap segar.

Berita terbaru, Iran bersama Rusia kini mendorong agar ada perubahan dalam struktur Hamas. Bagaimanapun, ada pejuang-pejuang Palestina di dalamnya yang memang selama ini memperjuangkan kemerdekaan tanah air mereka. Salah satu perubahan yang mulai terlihat adalah naiknya tokoh-tokoh muda yang asli Gaza, seperti Mohammed Deif dan Yahya Sinwar. Keduanya lahir dan besar di Gaza, merasakan sendiri pahitnya hidup dalam penjara terbesar di dunia itu. Beda jauh dengan Khaled Mashal yang lahir di Jordan dan hidup nyaman di Kuwait, lalu Damaskus, lalu kini di hotel bintang lima di Qatar.

Akhir kata, mari kita kembali ke catatan sejarah soal polah pejuang kemerdekaan Indonesia dan mari berefleksi. Apakah kita harus menafikan seluruh perjuangan para pahlawan hanya gara-gara sekelompok pejuang yang brengsek itu?

—————-

Foto: anak-anak Palestina di puing sekolah mereka yang dihancurkan tentara Israel, desa Abu Sinwar,Tepi Barat, 4 Feb 2018. Catat: TIDAK ADA HAMAS di sana. Lihat peta, antara Gaza dan Tepi Barat itu dipisahkan oleh wilayah [jajahan] Israel. Masih mau pakai Hamas untuk membenarkan penjajahan Israel?

*Dina Y. Sulaeman, Pengamat Timur Tengah

2 comments

  1. yoga 17 Mei, 2021 at 02:46 Balas

    Setiap perjalanan politik pasti ada pahit-manisnya, entah itu di pihak terjajah atau penjajah, kecuali para Nabi, para pejuang yang tidak pernah salah dan hadir untuk melawan ketidakadilan di setiap masanya. Masih mending Hamas, perjalanannya pasang-surut namun sampai hari ini masih bisa konsisten dalam komitmen Muqawamahnya kembali. Bandingkan dengan PLO? Yang lebih awal dijagokan dalam Muqawamah Palestina akhirnya menyimpang sejak Oslo Accords tahun 90-an, dan skrg Mahmoud Abbas adalah legasi dari penyimpangan itu dan hanya menjadi ganjalan bagi gerakan perlawanan Palestina. Dan negara kita seringkali merujuk ke Mahmoud Abbas yang memegang West Bank hari ini sbg “representatif” untuk urusan Palestina.

    Setidaknya Hamas sudah menyadari kesalahannya dalam kasus Suriah. Wakil ketua Politbito Hamas Abu Marzouk diwawancarai Al-Mayadin yaitu media pro-Assad, pada 2013, dan mengatakan bahwa Khaled Meshal yang mendukung oposisi Suriah kala itu dan tindakannya tak mewakili sikap resmi Hamas. Marzouk juga sudah mengadakan pertemuan dengan Hizbullah dan pejabat Iran di Lebanon, mereka sepakat menjalin kembali perdamaian. Semenjak itu Hamas menegaskan hanya akan fokus dengan melawan Israel di Palestina. Rasionalitas memang tetap harus dikedepankan dalam perjuangan

Leave a reply

error: Content is protected !!