Haidar bin Sef, Hukum Allah dan Penceramah Radikal

0
449

Sangkhalifah.co — Pemberlakuan hukum Allah terus disuarakan oleh kelompok transnasional dan kelompok yang berfaham Islam sebagai ideologi bukan (sekedar) agama. Seruan untuk menerapkan hukum Allah Kembali terjadi di Masjid Alfalah oleh Haidar bin Sef, seorang anggota Jamaah Islamiyah wakalah Jawa Timur yang pernah divonis tiga tahun penjara pada tahun 2004. Pelanggaran yang dilakukannya karena menyembunyikan anggota Jamaah Islamiyah yang terlibat dalam teror bom di Hotel JW Marriot pada tahun 2003.

Ceramah-ceramah Haidar bin Sef selalu melahirkan orang-orang radikal-teroris. Misalnya tiga orang bernama Anindia Afiyantari (33), Retno Hernayani (36), dan Turmini (31) merupakan ketiga orang yang didakwa membiayai kegiatan terorisme. Ketiganya pula menjadi PRT asing pertama di Singapura yang ditahan dengan Undang-undang Keamanan Dalam Negeri atau Internal Security Act (ISA).

Menjadi tidak heran, jika ceramahnya di Masjid Alfalah mengajak orang untuk berhukum dengan hukum Allah yang (menurutnya) tujuannya “agar Islam tidak selalu dilecehkan”. Disini kita perlu preteli maksud dan makna hukum Allah, agar masyarakat tidak terkena virus radikal-teroris Haidar bin Sef tersebut.

Slogan “tidak ada hukum selain hukum Allah” atau “hanya Allah lah pemutus perkara di dunia” merupakan dua slogan yang pertama kali dibumingkan oleh kelompok Khawarij. Kalimat tersebut lahir dalam peristiwa arbitrase saat proses penyelesaian masalah antara kubu Ali dan Mu’awiyah (Gubernur Syam).

Haidar bin Sef memahami bahwa hukum Allah tetap berjalan dan harus menjadi acuan dalam kehidupan manusia. Tapi dirinya luput dan alfa bahwa sesungguhnya wahyu Allah sudah selesai dan tidak ada lagi pewahyuan pasca wafatnya Nabi Muhammad. Disisi lain, persoalan kehidupan tidak pernah berhenti. Wahyu yang ada harus ditafsirkan dengan metodologi yang benar. Dalam proses pentafsiran, dibutuhkan kapasitas dan kualitas pentafsir yang matang. Maksudnya, pentafsir tidak asal mentafsir teks Qur’an atau wahyu kecuali bagi mereka yang telah memenuhi syarat dan kriteria yang ditetapkan oleh para ulama mutaqaddimin (klasik) dan muta’akhirin (kontemporer).

Proses pemberlakuan teks Qur’an di era kekinian membutuhkan usaha keras (ijtihad) untuk menangkap ketentuan yang dimaksudkan teks tersebut. Upaya penyingkapan itu melahirkan keragaman pendapat dan pemikiran. Setiap ulama—sesuai latar belakang dan bidangnya—memiliki landasan dan pisau análisis dalam mentafsir ketentuan hukum Allah yang berkaitan dengan perbuatan manusia (mukallaf).

Video Haidar bin Sef yang berdurasi kurang lebih setengah jam tersebut telah memangkas pesan penting dalam proses pemberlakuan hukum Allah. Apa itu? tingkatan manusia dalam memahami firman Allah. Lebih jauh lagi, penerapan hukum Allah selalu melibatkan manusia sebagai objek yang menerima hukum Allah tersebut. Dari sinilah kemudian lahir bahwa apa yang dilahirkan oleh manusia tidak serta merta lepas dari kepengaruhan agama dan ajaran Islam itu sendiri.

Model ceramah Haidar bin Sef ini khas kelompok Khawarij. Apa cirinya? Mengajak memberlakukan hukum Allah sembari menuduh ulama lain masuk dalam kesesatan. Ciri khas lainnya bisa diafirmasi dari ceramah-ceramah lainnya yang memberikan pesan kepada masyarakat bahwa orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah akan mempengaruhi keimanannya.

Memang, Khawarij selalu menggembor-gemborkan keharusan untuk berhukum dengan hukum Allah juga menekankan pentingnya iman difaktakan; walaupun dengan pembatasan yang sangat kaku. Sebenarnya, dalam batas tertentu bahwa iman harus difaktakan juga disuarakan oleh kelompok Sunni-Syiah. Tapi kelompok Sunni-Syiah tidak membatasi secara kaku dengan pembuktian berupa jihad di jalan Allah (menegakkan Negara Islam” dan berhukum dengan hukum Allah.

Kekakuan dalam mentafsir sebuah teks melahirkan orang-orang radikal-teroris yang tegas membunuh Syaikh Ramadhan Al-Buthi dan Syaikh Adan Al Afyouni di Suriah. Jejak klasik lainnya adalah mereka tega membunuh ketiga orang yakni Ali, Mu’awiyah dan Amr bin Al-Ash. Bagi mereka, setiap yang dianggap salah harus dihukum mati. Mereka luput, Ketika proses penepatan orang bersalah dalam perspektif mereka, itu bukan kemauan Allah melainkan kemauan mereka sendiri.

Kelafaan Haidar bin Sef juga terkait narasinya berupa “agar Islam tidak selalu dilecehkan”. Dia lupa bahwa zamannya Nabi Muhammad SAW pun telah ada pelecehan terhadap agama. Tapi Nabi Muhammad SAW menyikapinya tanpa kaku. Potensi yang lebih besar justru manakala Islam tidak lagi dianggap sebagai agama melainkan sebagai sebuah ideologi dan dijadikan ideologi negara. Mengapa? Karena pemberlakuan tafsir tunggal akan terjadi.

Nabi Muhammad dalam sejarah hidupnya tidak pernah mengajak untuk mewujudkan hukum Islam sebagai asas dalam bernegara. Sampai di Madinah pun yang diwujudkan Nabi Muhammad adalah konsensus bersama. Disinilah penceramah seperti Haidar bin Sef ini luput bahwa yang dibentuk Nabi Muhammad adalah gerakan jihad kebangsaan bukan jihad dalam membuat Negara Islam.

Gerakan jihadis yang merajalela harus menjadi kewaspadaan kita bersama. Mereka mendoktrin orang-orang dengan tujuan agar pendengar menjadi militan dan terlibat dalam gerakan mereka: menegakkan Negara Islam dan menjadikan Islam sebagai ideologi negara. Penceramah Haidar bin Sef ini pun secara hukum telah memenuhi syarat sebagai “ceramah provokatif” yang mengajak masyarakat untuk tidak percaya kepada penguasa dan pemerintahan yang sah. []

Leave a reply

error: Content is protected !!