Habib Quraish Shihab: Tujuan Syariat Allah untuk Membangun Tanah Air

3
229

Sangkhalifah.co — Pendiri Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Prof Habib Quraish Shihab menjelaskan makna wathan yang berarti adalah tempat atau tanah air. Istilah ukhuwah wathaniyah, katanya, lebih tepat dimaknai sebagai persaudaraan senegara daripada persaudaraan sebangsa.

Menurutnya, tanah air adalah bagian dari kebangsaan. Seseorang tidak bisa menjadi suatu bangsa kecuali mampu mencintai tanah air tempat tumpah darahnya. Kemudian, kata Prof Quraish, Allah menjadikan syariat bertujuan untuk membangun dunia dengan bermula dari tempat seorang berada yakni tanah air.

“Jadi harus dimulai dari diri sendiri. Kemudian kita bangun dulu desa kita, kota kita, negara kita. Kemudian kita melangkah ke luar untuk menciptakan peradaban persaudaraan kemanusiaan ke dunia,” ungkapnya dalam Peluncuran dan Diskusi Buku Islam & Kebangsaaan: Tauhid, Kemanusiaan, dan Kewarganegaraan, dikutip Media Sang Khilafah dari Kanal Youtube Lentera Hati, pada Sabtu (28/11).

Selain itu, Pakar Tafsir ini mengatakan bahwa sebenarnya masih ada satu persaudaraan yang sering dilupakan banyak orang. Prof Quraish menyebutnya sebagai persaudaraan semakhluk. Katanya, manusia dengan binatang dan alam raya itu adalah satu makhluk yang bersaudara.

“Kita bersaudara dengan burung. Kita bersaudara dengan binatang. Jadi ada ukhuwah makhlukiyah. Bukan sekadar ukhuwah wathaniyah dan insaniyah,” katanya.

Ukhuwah makhlukiyah merupakan fase persaudaraan tertinggi setelah ukhuwah wathaniyah dan insaniyah. Karena di atas persaudaraan semakhluk itu mencerminkan dari bagaimana seseorang meyakini soal Ketuhanan Yang Maha Esa.

Baca: Santri: Garda Terdepan Dalam Mengawal Pancasila

“Kita semua adalah hamba-hamba Tuhan dan makhluk-makhluk Tuhan. Kita bersaudara dengan semua makhluk-Nya,” tutur Penulis Kitab Tafsir Al-Misbah ini.

Sementara itu, Menko Polhukam RI Mahfud MD mengatakan bahwa buku yang dibuat oleh Prof Quraish Shihab sudah sangat benar. Bahkan ia menyebut, buku itu sangat membuat orang Islam Indonesia menjadi tenang setelah membaca dan memahami.

Buku itu, lanjutnya, dapat meyakinkan orang Islam bahwa berbangsa dan bernegara di Indonesia ini sudah benar. Tidak ada pertentangan dengan ajaran Islam. Hal ini penting untuk terus diglorifikasi karena ternyata, hingga kini, masih sering muncul kampanye yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara salah menurut Islam.

“Kalau mau berislam yang benar berdasar Pancasila ini harus dibongkar, baik ideologinya maupun strukturnya. Sekurang-kurangnya kita membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia karena beranggapan seperti itu,” katanya.

“Kita (pemerintah) juga membuat UU Keormasan karena ada kampanye-kampanye bahwa negara berdasar Pancasila salah dan haram,” lanjut Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI ini.

Lebih jauh, katanya, Islam memang mengajarkan hidup bernegara sebagai sebuah prinsip. Hal itu tidak bisa dihindari karena umat Islam harus memiliki negara. Karenanya, Nabi pun mendirikan sebuah negara. Dalam sejarah bangsa-bangsa di masa lalu pun, tutur Mahfud, tidak ada orang yang tidak hidup di suatu negara.

“Bernegara adalah fitrah atau sunnatullah bagi manusia,” tegas menteri kelahiran Sampang, Madura ini.

Selanjutnya, kata Mahfud, di dalam sumber primer Islam yakni Al-Quran dan Sunnah, umat Islam dibebaskan perihal bentuk negara yang diinginkan. Kalau bernegara adalah sebuah keharusan dan keniscayaan tapi bentuk atau sistem pemerintahan bisa bermacam-macam, tergantung kesepakatan bangsa, waktu, dan tempat.

Baca: Ikhtiar Santri Membungkam Radikalisme Agama

“Kalau khilafah diartikan sebagai sistem pemerintahan, maka tidak ada sebenarnya satu sistem yang harus diikuti. Setiap bangsa itu bebas untuk membuat bentuk pemerintahannya sendiri, apakah mau demokrasi, otokrasi, dan monarki,” ujarnya.

“Karena Islam sendiri di dalam Al-Quran dan Sunnah itu membebaskan. Silakan mau membentuk negara apa, yang penting punya negara, dan penting prinsip-prinsip bernegara seperti kemanusiaan dan keadilan,” katanya.

Kemudian Cendekiawan Muslim sekaligus Pakar Pancasila Yudi Latif mengatakan bahwa saat ini kebangsaan Indonesia sedang dihimpit dari dua sisi. Pertama, orang-orang yang skeptif terhadap kebangsaan.

“Muncul dari kalangan yang mengidap superiority complex yang merasa kebangsaan ini sudah dalam posisi di tubir (tebing yang curam) dan pada akhirnya harus menyerahkan diri kepada pasar bebas atau korporasi global,” jelas Yudi Latif.

Di sisi lain, kebangsaan Indonesia juga sedang dirongrong oleh gerombolan kelompok yang juga melakukan serangan kepada negara ini. Kalangan ini mengalami, disebut Yudi Latif sebagai inferiority complex atau kalangan yang gagap menghadapi penetrasi global.

“Mereka adalah kelompok deluser yang tidak melihat adanya peluang di dalam dunia yang multikultur. Mereka tidak nyaman dengan relasi global yang semakin kompleks dan majemuk. Mereka mencoba menyelamatkan diri dengan ikatan-ikatan identitas primordial berbasis agama yang banyak berkembang di dunia Islam,” tuturnya. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!