Gus Yaqut dan Pentingnya Moderasi Beragama di Media Sosial

0
588

Sangkhalifah.co — Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dalam siaran pers mengatakan, banyak orang yang terpapar paham radikalisme melalui media sosial maupun situs daring. Seiring banyaknya informasi keagamaan yang ada di media sosial atau situs daring yang tidak tersaring, dilansir dari merdeka.com, (21/3).

Pernyataan Menag tersebut tersirat empat makna, pertama di era digitalisasi ini, bukan rahasia umum bahwa kebiasaan masyarakat yang selalu berselancar di media sosial. Di waktu yang sama, masyarakat akan mudah menyerap segala informasi baik itu positif maupun negatif. Maka, tak heran jika ada seseorang menjadi radikalis maupun moderat setelah mengkonsumsi informasi dari media sosialnya.

Kedua, radikalisme sudah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat khususnya bagi pemerintah. Sebab, efek dari radikalisme ini adalah konflik antar sesama anak bangsa. Jika media sosial kita menjadi arus bagi radikalisme maka tak berlebihan jika dikatakan bahwa media sosial kita sudah menjadi zona radikalisme.

Ketiga, seharusnya media sosial adalah wadah untuk saling bertukar informasi yang sarat dengan kedamaian dan rasionalitas. Bukan, menjadi wadah saling untuk menyebar hoax, provokasi, kebencian dan memecah-belah masyarakat. Dengan kata lain, media sosial harus jadi perekat kemanusiaan antarsesama.

Keempat, Menang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berhati-hati dalam berselancar di media sosial. Di samping itu, mengajak para tokoh masyarakat untuk melakukan ujuk prestasi di media sosial. Ini dilakukan sebagai upaya kontra narasi terhadap bahaya radikalisme di media sosial.

Dari makna tersirat yang berserakan tersebut maka, satu konklusi yang pasti yakni, media sosial kita memerlukan asupan informasi yang penuh dengan gagasan nasionalisme dan moderat. Dengan kata lain, pentingnya melakukan moderasi beragama di media sosial.

Di samping itu, berdasarkan hasil survei nasional PPIM UIN Syarif Hidayatullah (2017), internet berpengaruh besar terhadap meningkatnya intoleransi pada generasi Indonesia. Dalam catatannya, siswa dan mahasiswa yang tidak memiliki akses internet lebih memiliki sikap moderat dibandingkan mereka yang memiliki akses internet. Padahal, mereka yang memiliki internet sangat besar, yaitu sebanyak 84,94% sisanya 15,06% siswa/mahasiswa tidak memiliki internet.

Data tersebut menunjukkan bahwa, pada tahun 2017 kemarin generasi milenial lebih cenderung mengandalkan internet dalam melakukan interaksi sosialnya termasuk sebagai sumber belajar agama. Tercatat, ada sebanyak 54,37% siswa dan mahasiswa belajar pengetahuan tentang agama dari internet, baik itu media sosial, blog, maupun website.

Untuk menghadapi kecendrungan seperti itu, maka tentu kita membutuhkan moderasi beragama. Dengan demikian, orang beragama diharapkan akan memiliki keluasan pandangan dengan menjadi lebih moderat, toleran, dan berorientasi pada penyempurnaan akhlak. Bukan beragama dengan cara memusuhi, mengafirkan, dan menyesatkan orang lain.

Oleh karenanya, maka tak heran jika Menang RI mengajak masyarakat khususnya para tokoh agama untuk aktif bermedia sosial guna menyuarakan moderasi beragama. Sebab, moderasi beragama merupakan suatu keniscayaan di kuatnya arus radikalisme di media sosial.

Namun, tetap perlu digarisbawahi bahwa, menurut Ahmad Najib Burhani (2021), moderasi beragama itu bukanlah melakukan ”moderasi terhadap agama”, tetapi memoderasi pemahaman dan pengamalan umat beragama dari sikap ekstrem.

Di samping itu, moderasi beragama bukanlah proses sekali jadi, perlu upaya terus-menerus dan menjadikannya sebagai habitus lintas generasi. Karena itu, semangat dan praktik keagamaan ini perlu terus dihidupkan dan disegarkan.

Pada titik inilah, maka untuk menyuarakan pentingnya moderasi beragama di media sosial, menurut Muhammad Adlin Silla selaku Kapuslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (2020), ada beberapa tahapan strategis dalam penerapannya, di antaranya adalah pertama, dengan memulai membiasakan menulis konten-konten positif dengan iringan sifat etis yang menyertainya yaitu khusnudzan dan terbuka.

Kedua, pemilihan materi yang disampaikan agar memiliki pesan kuat yang mempromosikan toleransi dan menolak tindakan ekstrim. Ketiga, menyajikan fakta-fakta atau argumentasi yang membantah pesan-pesan negatif kelompok ekstrim atau intoleran. Keempat, menggunakan narasi reflektif seperti kisah harmoni pertemanan dengan ragam latar belakang perbedaan.

Dengan demikian, masyarakat sedikit banyak akan merdeka dari radikalisme. Semoga. [Saiful Bari]

Leave a reply

error: Content is protected !!