Gus Dur dan Pentingnya Mempertahankan Negara Pancasila

2
536

Sangkhalifah.co — Desember adalah bulan Gus Dur. Sebab di bulan inilah sebelas tahun lalu, bangsa Indonesia kehilangan sosok sekaligus guru bangsa tersebut. KH Abdurrahman Wahid, wafat pada tanggl 31 Desember 2009 di usia 69 tahun. Presiden Republik Indonesia ke-4 tersebut telah pergi meninggalkan banyak jasa, pemikiran, dan makna bagi bangsa Indonesia.

Gus Dur adalah sosok yang mengajari kita semua tentang arti kemanusiaan, pluralisme, kesetaraan, toleransi, kejujuran, dan sebagainya. Di bulan ini, banyak orang merayakan kerinduan kepada sosok Gus Dur. Sepak terjangnya selama hidup, baik sebagai ulama, kiai, intelektual, maupun pemimpin negara, meninggalkan banyak jasa, peran, dan makna mendalam bagi banyak kalangan.

Memperingati bulan Gus Dur adalah mengenang dan membaca kembali jejak pemikirannya yang progresif, yang bisa dijadikan bulan refleksi bersama demi kehidupan bersama yang lebih baik. Lebih dari itu, juga wujud penghargaan dan penghormatan kita sebagai bangsa, atas segala peran dan jasa beliau sepanjang hidupnya.

Salah satu pemikiran beliau yang sangat penting untuk kita resapi dan renungkan sebagai bangsa adalah pandangan beliau tentang Pancasila sebagai dasar dan falsafah bangsa Indonesia. Membaca kembali pandangan dan pemikiran Gus Dur tentang negara Pancasila, kita akan mendapatkan perspektif kuat yang datang dari pemikiran seorang tokoh bangsa sekaligus tokoh agama.

Kita tahu, Gus Dur tak hanya tokoh bangsa yang menjunjung pluralisme dan kesetaraan. Beliau juga merupakan seorang kiai, ulama, dan intelektual Islam yang tak diragukan lagi keilmuan agamanya. Gus Dur adalah putra dari KH. Wahid Hasyim dan cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratush Syaikh Hasyim Asy’ari.

Menghadirkan pemikiran tokoh-tokoh bangsa tentang Pancasila menjadi sangat penting. Di samping untuk kembali menghidupkan dan menguatkan nilai-nilai Pancasila di tengah kehidupan bangsa—yang kini mulai rapuh dan tergerus—juga untuk melawan narasi kelompok radikal-ekstremisme agama yang ngotot hendak mengganti dasar negara Pancasila dengan sistem khilafah.

Bagi Gus Dur, Pancasila adalah kesepakatan luhur dari para pendiri bangsa yang mewakili semua golongan di Indonesia. Oleh karena itu, semua warga Negara Indonesia terikat dengan lima dasar atau lima sila dalam Pancasila tersebut. Sebagai kesepakatan luhur yang diterima semua kelompok dan golongan di Indonesia.

Nur Khalik Ridwan dalam Negara Bukan-Bukan (2018) mengatakan bahwa Gus Dur menginginkan perlunya ketahanan dan kedaulatan Negara Indonesia yang berasaskan Pancasila. Setidaknya ada dua argumentasi yang diajukannya, yaitu pertama, secara organisatoris, karana Mukhtamar NU telah memutuskan di dalam komisi organisasi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ialah bentuk final, sebagai ikhtiar atau upaya mendirikan negara bagi kaum muslimin di Indonesia. Jadi, menurutnya, kita tidak bisa menerima bentuk yang lain.

Kata Gus Dur, “Kartosoewirjo membawa bentuknya sendiri, Darul Islam: Imran dengan Islam Jamaahnya. Kita tidak terima, dan nanti saya rasa akan ada yang lain, walaupun kesempatan sekarang bertambah kecil. Keinginan orang itu akan selalu ada.”

Kedua, jika sebuah negara telah memberikan wewenang kepada umat Islam untuk menegakkan tauhid maka negara itu sudah harus ditaati. Mengapa? Sebab kalau mau diganti, gantinya belum tentu bisa demikian. “Sekarang ini negara RI telah memberikan jaminan atau hak kepada warga negara untuk menegakkan keimanan mereka sendiri-sendiri. Negara semacam ini, misalnya, kita ganti: apa gantinya? Sebuah negara tauhid? Belum tentu”

Berdasarkan hal tersebut, presiden ke 4 itu menganggap bahwa negara Indonesia sudah menjamin pelaksanaan tauhid. Ini satu hal yang sudah mantap, mendasar, dan penting bagi umat Islam. Jadi, apakah negara Pancasila masih akan diganti dengan yang lain, yang belum tentu demikian, yang kemungkinannya bisa malah menimbulkan perpecahan? Apakah kita akan rela mengganti Pancasila dengan sesuatu yang belum tentu lebih tepat, cocok, dan baik bagi bangsa Indonesia?

Menukil kaidah fiqih, Gus Dur menyebutkan, al-yaqin la yuzalu bi asy-syakk (keyakinan tidak bisa dihilangkan dengan/karena keraguan). Jadi, negara Pancasila merupakan upaya final yang harus terus diupayakan bersama menuju kesempurnaan implementasinya. []

*Al-Mahfud, Penulis lulusan IAIN Kudus

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!