Gorontalo, HTI dan Keterlibatan Perempuan

2
1110

Sangkhalifah.co — Gorontalo menjadi salah satu tempat penyebaran keagamaan oleh gerakan Hizbut Tahrir Indonesia, selain Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Jamaah Tabligh, Wahdah Islamiyah dan gerakan lainnya. Semuanya memiliki ciri khas dan doktrin yang beragam. HTI masuk melalui jalur Sulawesi Selatan, yang lebih dahulu ditabur virus Khilafah Tahririyah oleh syabab-syabab dan tokoh-tokoh HTI Makassar.

Kultur masyarakat Gorontalo yang menghargai perbedaan menjadi tempat nyaman—dalam umumnya benak kaum khilafers di Indonesia. Di samping itu pula, semboyan “Adati hula-hulaa to syaraa, saraa hula-hulaa to Qur’an”, yang menjadi pegangan masyarakat Gorontalo, diyakini khilafers tidak akan mendapat gejolak yang sama dengan keberadaan mereka di pulau Jawa. Dan kemudahan dalam menyakinkan dengan argumentasi kesamaan basis doktrin dalam beragama di Serambi Madinah. Lebih ekstrim lagi, para pembawa Khilafah Tahririyah ke Gorontalo menyakinkan bahwa dengan faslafah Serambi Madinah, kita bisa menegakkan kembali ajaran Islam secara kaffah.

Inayah Rohmaniyah mencoba menelaah kembali gerakan keagamaan di Gorontalo, yang ditulisnya dalam buku Sholehah Demi Khilafah; Perempuan Dalam Gerakan & Ideologi Politik Hizbut Tahrir Indonesia (2020). Dimana “sejarah HTI di Gorontalo di mulai dari tahun 2009 dibawa oleh ustadz Ihsan Sibali yang menjadi anggota resmi HTI Makasar”. Mula-mula bermain di sekitar kampus, terkhusus kampus Universitas Negeri Gorontalo dan masjidnya, kemudian Ihsan Sibali—menurut penelitian Syukrin Thaib (2013)—menemukan orang-orang yang sepemahaman. Ihsan menganggap bahwa ini embrio dan berpotensi untuk dikembangkan, termasuk kampus-kampus seperti IAIN Sultan Amai.

Begitu pula yang diwartawakan oleh Sahmin Madina bahwa “Keluarga KAHMI Wilayah Provinsi Gorontalo pada tahun 2008 mengundang Ihsan Sibali sebagai pembicara dengan tema Quo Vadis Demokrasi. Pada acara tersebut untuk pertama kalinya, masalah Khilafah Islamiyah yang diusung oleh HTI didiskusikan di Gorontalo.” Dari sini, Gorontalo dimasukin virus Khilafah Islamiyah ala Hizbut Tahrir Indonesia, 20 tahun setelah mereka bergerilya di pulau Jawa dan Sumatera.

Disamping itu, falsafah yang mirip namun praktiknya berbeda dengan di Gorontalo, yakni Minangkabau “Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, lebih dulu dimasuki kaum khilafers. Memang, jika kita melihat style penerapan virus Khilafah Tahririyah ini, akan memiliki kemiripan dengan yang di Minangkabau. Replikasi itu ditiru oleh Ihsan Sibali di masjid dan masyarakat kampus Universitas Negeri Gorontalo. Maka dibuatlah kajian-kajian kecil untuk mensosialisasikan gagasan Taqiyuddin Al-Nabhani. Buku-buku yang digunakan kajian adalah Al-Syakhsiyah Al-Islamiyah; Fikru Al-Islam; Nizhomu Al-Hukmi fi Al-Islam dan lain sebagainya.

Tidak saja di masjid kampus UNG, tapi virus Khilafah Tahririyah pun menjalar dan kampus-kampus seperti IAIN Sultan Amai Gorontalo, Universitas Ihsan Gorontlao, Universitas Gorontalo, Politeknik Gorontalo, Universitas Muhammad Gorontalo dan lainnya telah tersusupi dan diatur secara sistematis pergerakannya. Hingga kini, menurut Muhammad Makmun Rasyid, aktivis khilafers itu masih ada di kampus-kampus Gorontalo. Kesulitan kini adalah mereka berganti baju dan sebagian ada yang menyesuaikan dengan kondisi sosio-politik yang terdapat di kampus-kampus. Artinya, menurut Makmun Rasyid, tinggal membersihkan saja karena ideologi tidak akan mati walau baju yang dipakai bisa berubah-rubah.

Di samping kampus, sekolah juga menjadi tempat sasaran aktivis HTI. Berdasarkan wawancara dengan LA, mantan aktifis pengajian MHTI, Kota Gorontalo (19 Oktober 2018) disebutkan ada sekolah-sekolah yang memiliki program untuk mengharuskan siswa-siswinya setiap malam selama enam bulan rutin mengikuti pengajian atau dakwah dengan pemateri dari HTI.

Perubahan identitas dan style pasca pembubaran pun harus diperhatikan. Misalnya, semula menggaungkan secara terbuka, kini dirubah secara terbatas. Dari yang semula bisa berdakwah di radio, kini tidak bisa lagi. Misalnya, salah satu ungkapan pemandu acara radio, “di radio kampus isiya program-program HTI, sejak 2014 sampai 2015, mereka gantian, bahkan penyiarnya juga aktifis dari HTI”. Dalam kondisi seperti ini, mereka merubah gaya berdakwahnya. Dan HTI di Gorontalo tidak dan belum punah.

Dan perempuan-perempuan yang vokal serta memiliki kharismatik dalam merekrut, akan diberikan tugas sebagai koordinator lapangan dan pemandu-pemandu lainnya. Ragam cara agar tetap eksis sebagaimana perintah Juru Bicara Hizbut Tahrir di Indonesia, Ismail Yusanto dan pengurus DPD-nya.

Kondisi demikian membuat seluruh elemen yang setia pada NKRI tidak lagi diam jika melihat pergerakan yang dilakukan HTI di Serambi Madinah. Dan para pemangku kebijakan untuk lebih ketat dalam merekrut orang-orang yang bekerja di institusi maupun lembaganya. Sebab, jika sekali Anda memberikan angin segar, maka aktivis HTI akan segera menyusun strategi dalam menguasai roda dan mencuri-curi waktu dalam menambah amunisi dan massa. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!