Gerakan Strategis Meredam Arus Radikalisme Era Digital

0
217

Sangkhalifah.co — Dinamika arus radikalisme belum dapat dikatakan surut. Justru sebaliknya, tren yang ada makin berkembang tidak terkendalikan. Sangat dinamis dan seksi dalam perkembangannya. Diakui radikalisme bukan satu-satunya musuh yang mengancam eksistensi kebangsaan. Namun, bila dirunut ke akar persoalan radikalisme boleh disebut sebagai titik mula persoalan kekerasan lain yang berkaitkelindan. Sebut saja kasus intoleransi, ekstremisme hingga praktik terorisme selalu memiliki arus hubungan dengan radikalisme. Ini membuktikan, radikalisme selalu butuh keseriusan dalam penanganan berikut tindakan.

Survei terbaru BNPT pada Desember 2020 terhadap radikalisme harusnya cukup menjadi bahan untuk selalu berbenah. Meskipun dikatakan trennya mengalami penurunan, bukan berarti harus lengah. Semua pihak harus selalu sigap terhadap ancaman yang sewaktu-waktu menyerang. Karena musuh yang dihadapi berupa sesuatu yang tidak nampak, tentu tingkat waspadanya harus lebih tinggi. Buktinya, arus radikalisme menjadi satu fenomena yang paling dekat dalam ranah dunia digital.

Tidak heran apabila beberapa pakar mengatakan bahwa kaum remaja Indonesia rentan radikalisme. Itu sebagai konsekuensi logis mengingat remaja merupakan mayoritas pengguna media sosial. Menurut survei BNPT pada Desember 2020 yang lalu, 85% generasi milenial rentan terpapar radikalisme (bali.inews.co.id, 2020). Setidaknya, ini cukup memberikan sinyal bahwa laju pergerakan radikalisme di dunia maya begitu signifikan. Dunia maya diibaratkan hutan belantara. Ketika orang masuk ke dalam dengan akses internet bebas, akan mudah menemukan apa saja yang disukanya. Tetapi, keselamatan dari konten bernuansa radikal belum tentu terjamin.

Mengutip Kepala BNPT, Boy Rafli Amar (2020) menyatakan bahwa ada kecenderungan menerima preferensi konten keagamaan yang tidak utuh di kalangan remaja. Hal ini karena, mereka dalam pencariannya memilih yang berdurasi singkat. Pada saat yang sama, mereka masih kurang sadar untuk mematuhi ketertiban sosial dalam bermedia sosial (bali.inews.co.id, 2020). Hal ini secara tidak langsung menjadi pintu gerbang masuknya faham radikal kepada mereka. Jika tidak dibarengi sikap kritis dan dasar ilmu agama yang mapan, tentu konten keagamaan itu akan diterima begitu saja.

Melihat data di atas, tentunya harus ada tindakan responsif baik langsung maupun tidak langsung. Tindakan langsung bisa dilakukan dengan memblokir laman yang terindikasi radikalisme. Di samping itu, perlu adanya penguatan faham keagamaan inklusif yang mendukung gerakan cinta tanah air melalui lembaga-lembaga negara. Ini bisa dilakukan para pemangku jabatan di jajaran pemerintahan. Tentu saja tindakan demikian tidak cukup. Masyarakat sipil sebagai pengguna internet dan media sosial juga harus mendukung dan ikut menyebarkan kontra narasi radikalisme. Karenanya, perlu gerakan bahu membahu, saling mendukung dalam meredam arus radikalisme ini.

Adapun beberapa tindakan responsif secara tidak langsung dapat melalui dunia pendidikan maupun grup-grup media sosial. Dalam ranah pendidikan, setiap guru dapat dibekali pemahaman moderasi keagamaan secara bertahap. Perlu juga ditanamkan pentingnya pendidikan agama yang berorientasi pada kehidupan multikultural. Hal ini sangat lazim dilakukan, mengingat bangsa Indonesia terdiri dari banyak ragam dan perbedaan. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan secara kecil-kecilan melalui bangku pendidikan. Pada intinya, para praktisi pendidikan harus menjadi teladan pentingnya melakukan kontra narasi radikal di media sosial.

Pentingnya Kesantunan Berbasis Digital

Hari ini, media sosial melaju begitu pesat mengikuti arus informasi yang sedang trending dan viral. Tidak peduli bahasan tentang apapun, akan mudah diakses para pengguna internet dari berbagai kalangan. Mulai anak-anak hingga dewasa bahkan memiliki hak yang sama untuk akses bebas itu. Mereka hanya terbatas pada lama dan tidaknya dalam penggunaan internet. Artinya, semua berkesempatan untuk menjadi penerima dan penyambung arus informasi via internet.

Postingan bernada kebencian dan provokatif menjadi barang yang tak terhindarkan. Di sela-sela itulah, agen pengusung radikalisme bekerja menyusup dan mencari sasarannya. Di sisi lain, masyarakat internet pun belum dapat sadar dan peka secara mandiri menyikapi kabar apapun beredar. Tak jarang mereka termakan kabar hoaks. Bahkan, lebih parahnya tanpa mereka sadari telah menjadi bagian dari persebaran arusnya. Inilah tantangan dunia digital yang harus dihadapi. Jika dulu radikalisme tidak secara online saja banyak memakan korban, apalagi di masa sekarang ketika semua berbasis digital. Seakan arus dunia digital itu semakin terdepan menjadi pasar bebas pengusung radikalisme.

Karenanya, dalam bentuk apapun yang dihadapi masyarakat digital harus tetap menggunakan kacamata kesantunan. Jika ingin selamat dari propaganda kebencian dan kekerasan, maka selalu utamakan kata kunci kesantunan dan moralitas pada mesin pencarian. Kalau pun judul utama berbasis agama, kritisisme sebagai “user” juga harus digunakan. Jangan hanya karena pakaian dan simbol yang ditampilkan, menjadi sebab terlena oleh kata-kata dan doktrinnya. Sebab, dalam era sekarang semua yang serba digital sangat mudah diakses dan menarik tampilannya. Jika tanpa pertimbangan dan sikap kritis akal berbasis kesantunan, bukan tak mungkin akan menjadi korban radikalisme bernalar fatalisme dan kebodohan. [Abdul Fattah]

Leave a reply

error: Content is protected !!