Genealogi Politik Bungkus Islam dan Gerakan Ekstremisme Agama

4
1049

Sangkhalifah.co — Setelah mengerasnya paham fundamentalisme dan ekstremisme agama yang ditandai dengan gerakan keinginan mendirikan negara Islam (negara khilafah) dua setengah tahun terakhir di Indonesia, terbitlah beberapa buku yang berjudul Wasathiyah. Misalnya, Quraish Shihab memberi judul Wasathiyah Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama (2020); Azyumardi Azra, Relevansi Islam Wasathiyah: Dari Melindungi Kampus Hingga Mengaktualisasikan Kesalehan (2020); dan M. Kholid Syeirazi memberi judul buku barunya Wasathiyah Islam: Anatomi, Narasi, dan Kontestasi Gerakan Islam (2020).

Judul-judul itu tentu saja memikat. Meski bagian-bagiannya tak sepenuhnya tampak membahas tentang Wasathiyah Islam secara keseluruhan. Tapi, begitulah buku. Akan selalu mengikuti “pasar” fenomena dan “bungkus” narasi yang berkembang di pusaran masyarakat. Dan itu sah.

Apa yang ditawarkan M. Kholid Syeirazi? Tentu saja tak jauh berbeda dari buku-buku di atas. Kumpulan artikel tentang moderasi dan perihal gayutnya ekstremisme agama atau wajah Islam Indonesia yang ditulis secara renyah dan detail. Atau, seperti buku-buku di atas dan lainnya, misalnya bukunya Aksin Wijaya, Dari Membela Tuhan Ke Membela Manusia: Kritik atas Nalar Agamaisasi Kekerasan (2018), gagasan sentral buku ini adalah merespons isu keagamaan dan kebangsaan yang tengah berada dalam tarikan ekstremitas: ekstremitas agama dan ekstremitas pasar. Dari kaca mata Syeirazi, dua-duanya bertolak dari fundamentalisme: fundamentalisme agama ingin merobohkan nation-state dengan negara khilafah, fundamentalisme pasar ingin mengganti nasionalisme dengan korporatokrasi.

Sorotan bernas Syeirazi, ketika melihat genealogi gelombang revivalimse di dunia termasuk di Indonesia. Ia tidak berhenti pada pembahasan kemaruknya agama atau bangkitnya gerakan Islamisme, tapi Syeirazi berani melihat jauh pada lanskap politik propaganda yang ada dibelakangnya, termasuk menyangkut politik luar negeri (Arab Saudi) yang menjadi tonggak penting terhadap ekstremisme Islam melalui ekspor ekspansi doktrin ultrakonservatif Wahabisme ke seluruh dunia.

Syeirazi melihat, buah yang diperoleh dari gerakan itu (doktrin Wahabisme), yaitu penyebaran paham radikalisme melalui tiga jalur: ideologi, suaka politik dan pendanaan yang dampaknya sungguh mengejutkan. Selama puluhan tahun, Arab Saudi yang menganut paham puritanisme yang biasa disebut dengan Wahabisme, sebagaimana diakui oleh Muhammad bin Salman telah gencar berupaya mengekspor paham itu keseluruh dunia dengan uang minyak yang melimpah. Caranya, dengan mensponsori kebutuhan-kebutuhan sosial-negara. Misalnya di institusi pendidikan: pengadaan pembangunan madrasah, masjid, dan perguruan tinggi di negara-negara lain yang berafiliasi dengan universitas Islam di Arab Saudi.

Lebih jauh dari itu, akibat ekspansi yang ditandai dengan tonggak konsolidasi politik Arab Saudi menyebabkan empat kejadian besar. Syeirazi mencontohkan: tiga terjadi di luar negeri, satu di dalam negeri. Kejadian pertama adalah bentroknya Gamal A. Nasser dengan aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Seorang aktivis IM, Mahmoud Abd al-Lathif, berupaya membunuh Nasser pada Oktober 1954. Naser marah dan bertindak tegas. Dan karena itu, kelompok IM dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Sepanjang 1954-1970, Nasser memburu dan memenjarakan aktivis IM, termasuk pemimpinnya, Hasan al-Hudhabi dan Sayyid Qutb yang kemudian tewas di tiang gantungan.

Kejadian kedua, dikenal dengan sebutan kudeta Mekkah 1979. Pelakunya tak lain pemimpin Jamaah Salafiyah al-Muhtasiba (JSM). Menurut Syeirazi, ini dipengaruhi Bin Baz dan Nashiruddin al-Albani, Juhayman yang terobsesi menjaga kemurnian Wahabisme yang koyak dalam serangkaian liberalisasi di tubuh kerajaan Arab Saudi. Misalnya, Raja-raja memperbolehkan wanita bekerja di luar rumah, menjadi pembawa acara di televisi, mengizinkan pegawai non-Muslim, mengizinkan peredaran minuman beralkohol  di daerah-daerah hunian orang asing. Dan itulah yang membuat Juhaiman marah, karena menurutnya, kebijakan tersebut menyimpang dari norma Islam. Terjadilah protes besar-besaran dan terbuka untuk pertama kalinya dalam sejarah Arab Saudi yang memuncak pada insiden berdarah. Akibat insiden berlimbah darah itu, kerajaan mendeportasi siapa pun yang dianggap berpotensi menimbulkan ancaman stabilitas politik nasional.

Ketiga, kejadian pendudukan Uni Soviet ke Afghanistan pada akhir 1979. Sejak terjadinya perang Dunia kedua, Arab Saudi bermintra dengan Amerika Serikat untuk memerangi komunisme. Mereka  memobilisasi umat Islam atas nama jihad melawan tentara ateis Uni Soviet.  Sementara di Afghanistan, mereka mencucurkan miliaran dolar untuk menyokong kiprah para mujahidin yang dipimpin para militan Ikhwanul Muslimin. Dengan uang minyak yang melimpah, Arab Saudi memberi bantuan resmi kepada mujahidin Afghanistan sebesar US$4 miliar, dan ini belum termasuk bantuan swadaya lainnya.

Keempat, adalah kejadian yang ditandai dengan keberhasilan Revolusi Islam Iran pada 1979. Seperti diketahui, Iran adalah negara kuat paham Syiah. Tapi puritanisme doktrin Wahabi (Arab Saudi) sangat Anti Syiah. Oleh sebab itu, Arab Saudi merasa perlu membendung pengaruh pengaruh Syiah di Iran dengan menggelontorkan banyak uang untuk mempertahankann dominasinya sebagai pusat (politik) Islam seluruh dunia. Persaingan Arab Saudi-Iran yang mempropagandakan kampanye melawan Syiah tidak melewati perang “tangan”. Tapi peran dingin layaknya AS dan Uni Soviet. Mereka tidak bertempur secara langsung, melainkan melakukan perang proksi yang sengit dengan strategi-strategi (kotor) politiknya.

Empat kejadian ini menurut Syeirazi, menandai atau menjadi tonggak penting dari permainan bidak Arab Saudi yang berdampak pada panorama gelombang revivalisme/politik keagamaan di seluruh dunia. Termasuk, yang paling penting kejadian Jihad Afghanistan yang terbentuk jaringan jihad internasional, dengan maskotnya Osama bin Laden, yang kini menggigit pembinanya sendiri: Arab Saudi dan Amarika Serikat. Bahkan, dari ekspansi politik-doktrin puritan Wahabisme itu, terbentuklah paham salafi-jihadi di seluruh dunia, termasuk ISIS. Menurut Syeirazi dengan mengutip Fareed Zakaria (2017), Arab Saudi bersama Qatar telah memberikan dukungan finansial secara diam-diam kepada ISIS dan kelompok radikal lainnya.

Maka, sungguh sangat ironis jika negara-negara seperti Indonesia dan penggerak moderasinya kalau hanya bisa mengutuk kelompok ekstremisme agama tanpa mau/bisa menyaingi negara-negara tetangga perihal taktik politik dan modal-modal sosialnya. Dan  karena itu, kita sungguh-sungguh harus mengupayakan pertahanan dari modal-modal tersebut. Kalau tidak, kita tak mungkin bisa melindungi umat hingga mengaktualisasi kesalehannya dari paham ekstremisme agama.

Seperti yang kita ketahui, tranformasi Islam dunia khususnya Indonesia, tidak kebal. Di sini, hampir dari segala sisi tidak terlepas dari kebijakan agresif Arab Saudi. Sebut saja gelontoran beasiswa-beasiswa pendidikan dan pendirian gedung-gedung sosial, seperti masjid, kampus, dan bangunan sosial lainnya. Bahkan, pendirian LBPA/LIPIA dan pondok-pondok besar dan moncer yang ada di belahan Indonesia, tidak terlepas dan berada di-“kangkangan”-nya. Maka, bisa jadi tidak salah atau salah, jika dampak dari pasokan politik bungkus Arab Saudi tersebut menyumbang perubahan wajah muslim Indonesia lebih puritan, intoleransi dan bercorak jihadis.

Seperti kata Syeirazi, tanpa komitmen menghentikan dakwah Wahabisme dan membendung politik bungkus Arab Saudi, yang disokong dari donatur-donatur swasta Arab Saudi, termasuk juga pendanaan segala bentuk websitenya, proyek wasathiyah Islam yang digaungkan Muhammad bin Salman dan penggerak wasathiyah Islam di Indonesia, hanya akan berhenti sebagai jargon-jargon kosong. Atau bahkan akan kapok sendiri.

Buku yang berhalaman 572 dan ber-font size besar ini, dapat memberikan ingatan kembali pada politik bungkus bernuansa agama dan bagaimana politik pelik Islam yang dapat dimainkan dengan cara-cara “kejam” dan dinamis di tempat-tempat strategis dunia dan Indonesia. Dengan telaten dan sungguh-sungguh, Syeirazi berhasil melihat anatomi, narasi dan kontestasi gerakan politik Islam yang masih sedang gayut di tengah-tengah umat manusia. []

*Agus Wedi, Pengelola Komunitas Serambi Kata Surakarta

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!