Gagal Paham Aktivis Polisi Cinta Sunnah dalam Berakidah

0
1134

Sangkhalifah.co — Islam sebagai agama hanya satu. Sejak diturunkan sampai sekarang, Islam ya tetap Islam. Namun cara pandang dan upaya memahami Islam (sebagai kumpulan doktrin dan panduan hidup) melahirkan ragam manhaj (metodologi atau jalan berpikir). Jadi, setiap Muslim dalam menelusuri tuntunan Qur’an-Sunnah yang diwariskan Nabi Muhammad, dibutuhkan satu jalan yang disebut manhaj. Kenapa butuh? Karena kita tidak lagi berjumpa dengan Nabi Muhammad, maka manhaj diperlukan dalam memahami ajaran agama.

Untuk memahami manhaj yang benar dalam beragama, maka dibutuhkan sanad (ketersambungan ilmu). Dari sinilah pendapat seseorang dapat diukur kualitas dan validitasnya. Perbedaan dalam mengoperasionalkan manhaj melahirkan mazhab dalam Islam. Mazhab bukanlah sebuah aliran dalam Islam, melainkan kecenderungan seseorang untuk memilih dari ragam pendapat yang ada. Dan pendapat itu bisa didasarkan atau tidak pada dalil-dalil Qur’an dan sunnah.

Mazhab yang popular di dunia ada empat: Imam Abu Hanifah (pengikutnya: Hanafiyah), Imam Malik (pengikutnya: Malikiyah), Imam Syafi’i (pengikutnya: Syafi’iyah) dan Imam Ahmad bin Hambal (pengikutnya: Hanabilah). Para pengikut imam-imam mazhab tersebut melahirkan para teolog (salah satunya) seperti Imam Al-Asy’ari yang mengikuti mazhab Imam Syafi’i di dalam Fikih dan Imam Al-Maturidi mengikuti mazhab Imam Abu Hanifah. Dua imam inilah (Asy’ari dan Maturidi) menjadi dua imam yang representatif dalam bidang akidah untuk aliran Ahlussunnah wal Jamaah (Sunni).

Kegagalan Polisi Cinta Sunnah (PCS)

Kegagalan pertama aktivis Polisi Cinta Sunnah dalam mengakui dirinya sebagai seorang Salafi. Tepat dan benarkah? Pertama, istilah “salaf” dilekatkan pada para sahabat, tabi’in hingga batas 300 Hijriyah. Disini istilah salaf berkaitan dengan sebuah zaman. Dan mereka itulah yang disebut sebaik-baiknya generasi. Maka kita kenal “generasi Salaf” bukan “manhaj salaf”.

Kaidah yang berlaku pun ada, seandainya mereka hidup di masa itu tetapi tidak selaras dengan substansi Qur’an-Sunnah maka mereka tidak disebut bagian dari “generasi salaf”. Contoh yang terkenal adalah sekte Musyabbihah (sekte yang menyamakan Tuhan dengan mahluk) yang diwakili seperti Hisyam bin Al-Hakam yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu punya jasad (menyamakan dengan manusia).

Kedua, istilah salafi . Disini setidaknya memiliki dua makna (dalam konteks PCS), salafi dalam pengertian mengikuti manhaj salah satu orang dari generasi salaf yang otoritatif; dan salafi dalam pengertian gerakan ideologis dengan menisbatkan pendapatnya pada seseorang. Hasil pemikirannya disebut “salafisme” dan gerakannya disebut “salafiyah”.

Makanya tokoh-tokoh yang mengajarkan pada forum pengajian yang digagas oleh aktivis Polisi Cinta Sunnah dalam menyebutkan hadis-hadis, kerap mengakhirinya dengan ucapan “hadis ini di-sahih-kan oleh Albani (Muhammad Nashiruddin Al-Albani) atau Utsaimin (Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin). Padahal, pakar hadis yang kualitasnya di atas keduanya sudah cukup, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Majah atau Imam Nasa’i. Memang keduanya bertugas sebagai auditor hadis? kan tidak.

Dan mengapa harus disertakan Albani atau Utsaimin? Hal ini sebagai penanda bahwa pendapatnya mengikuti tokoh-tokoh Salafi/Wahabi sebelumnya. Dan semua tokoh-tokoh pendoktrin/pengajar di kegiatan Polisi Cinta Sunnah menyakini pembagian akidah ke dalam tiga bagian: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Dan inilah salah satu ciri khas gerakan Salafi-Wahabi dalam ber-Islam. Yang juga membedakan mereka dengan aliran Ahlussunah wal Jamaah (Sunni). Dalam konteks Indonesia seperti Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah. Disini saya perlu menegaskan bahwa Salafi-Wahabi bukanlah bagian dari Ahlussunah wal Jamaah, tapi aliran baru dalam Islam yang ber-manhaj dan ber-mazhab tokoh-tokoh mereka.

Sebab itu, banyak pendapat yang mengatakan bahwa dari pembagian tauhid menjadi tiga sebagaimana disebutkan di atas adalah akar permasalahan antara Salafi-Wahabi dengan mayoritas ummat Islam. Dan trilogi akidah ala Salafi-Wahabi ini juga menjadi cikal bakal penyesatan dan pengkafiran terhadap ummat Islam yang tidak se-aliran dengan Salafi-Wahabi.

Disini menjadi jelas. Tagline “mazhab Salaf” merupakan upaya pengkaburan kepada masyarakat, seakan-akan apa yang dibicarakan dan dinyatakannya semuanya telah sesuai ajaran Rasulullah. Sekali lagi, belum tentu sama dengan orang-orang yang hidup pada generasi salaf!

Kemudian, tagline “mazhab salaf” ini diikuti dengan gerakan pemurnian. Masyarakat yang tidak mengerti persoalan agama dan gerakan/aliran dalam Islam menganggap bahwa mereka adalah perkumpulan orang-orang yang benar dalam berislam dan yang lain tidak sesuai dengan aktivitas kenabian. Ini sebuah kegagalan dalam berpikir!

Maka kerap saya katakan bahwa akidah yang dianut oleh aktivis Polisi Cinta Sunnah bukanlah akidah yang diikuti mayoritas umat Islam di dunia (Ahlussunah wal Jamaah) tapi akidah yang dirumuskan oleh tokoh Wahabi. Sebab, sebelum masa Ibnu Taimiyah wafat pembagian akidah atau ajaran mereka ini tidak dikenal dan pendiri Salafi-Wahabi terputus sanad keilmuannya dengan Ibnu Taimiyah, jaraknya 600 tahun.

Dan anehnya para aktivis Polisi Cinta Sunnah dengan mengikuti para pengajarnya dari kalangan Salafi-Wahabi kerap berargumen bahwa kita tidak saja harus bermanhaj Salaf dalam bidang akidah, tapi Fikih dan lain keseluruhannya.

Untuk men-counter pernyataan di atas, sederhana. Mazhab atau manhaj salaf siapa dulu? Sebab, pengertian “Salaf” yang hakiki bukanlah mazhab tapi suasana (ber)keagamaan pada zaman/generasi al-Salafus al-Salih yang diberkahi oleh Allah.

Sebab itulah, umumnya sebuah mazhab dinisbatkan kepada pendirinya. Misalnya mazhab Hanafi dinisbatkan pada Imam Abu Hanifah atau hadis ini sahih dan disahihkan oleh Bukhari, maka hadis itu disebut hadis sahih Bukhari. Dan tidak ada istilah “hadis sahih Salaf”. Tambah jelas lagi kan bahwa tagline “mazhab/manhaj Salaf” itu merupakan penisbatan kepada seorang tokoh (dalam konteks PCS adalah para tokoh/guru Salafi-Wahabi) dan bukan penisbatan pada sebuah masa para sahabat.

Dan saya ingin menegaskan, memang untuk jualan kita laku, maka bumbu-bumbu agama menjadi strategi jitu. Apalagi produk tersebut diberi embel-embel istilah-istilah yang terdapat dalam Islam. Seperti Hizbut Tahrir Indonesia dengan istilah “khilafah”-nya dan Salafi-Wahabi dengan “salaf”-nya. [Bersambung]

Leave a reply

error: Content is protected !!