Front Pembela Islam, Beragama dan Rasa Aman

2
634

Sangkhalifah.co — Di penghujung tahun 2020, tepatnya 30 Desember, pemerintah Indonesia mengeluarkan keputusan besar yang dituangkan dalam SKB (Surat Keputusan Bersama) para menteri tentang pelarangan kegiatan FPI dan penggunaan atribut atau simbol FPI di seluruh tanah air Indonesia. Tentu keputusan besar ini menuai pro-kontra di antara yang mendukung penuh dan menolak.

Ada 7 alasan pemerintah membubarkan dan melarang kegiatan FPI yang secara de jure sudah tidak memiliki SKT (Surat Keterangan Terdaftar) sejak bulan Juli 2019. Dari 7 alasan yang menjadi argumen pembubaran yang ada, melalui tulisan ini saya ingin memggaris bawahi alasan nomer 5 dan nomer 6. Secara lengkap dikutip dari SKB yang beredar di media masa bunyinya sebagai berikut:

Lima, pengurus dan atau anggota FPI maupun yang pernah bergabung dengan FPI berdasar kan data sebanyak 35 orang terlibat tindak pidana tertentu (tipidter), dan 29 orang di antaranya telah dijatuhi pidana. Selain itu, 206 orang terlibat berbagai tindak pidana umum lainnya dan 100 di antaranya telah dijatuhi pidana.

Enam, jika menurut penilaian atau dugaaannya sendiri terjadi pelanggaran ketentuan hukum, maka pengurus dan atau anggota FPI kerap kali melakukan berbagai tindakan razia atau sweeping di tengah masyarakat, yang sebenarnya hal tersebut menjadi tugas dan wewenang aparat penegak hukum.

Inti dari alasan nomer 5 dan nomer 6 adalah karena pengurus atau anggota FPI kerap kali melakukan tindakan melanggar hukum, maka alasan keamanan menjadi salah satu alasan kuat bagi pemerintah mengambil tindakan tegas. tidak ada alasan yang menggambarkan bahwa pemerintah anti Islam, bukan karena FPI beraliran sesat, yang oleh karenanya dalam press conference tidak ada MUI yang mendampingi, karena tidak berkaitan dengan kesesatan aliran idiologis FPI sebagaimana yang diberitakan oleh KH. Cholil Nafis melalui akun twitternya.

Sesuai dengan judul di atas, saya ingin mengutip pendapat Habib Ali Zainal ‘Abidin bin Abdurrohman Al Jufri dalam buku Al Insaniayah Qobla Tadayun, yang berkaitan dengan hubungan beragama dan keamanan. Saya kutip suatu kisah di zaman Nabi. Pada suatu ketika datang seorang Arab Badui kepada Rasul bertanya tentang risalah Islam.

Ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “siapa engkau?”.

“Saya rasulullah,” jawab Nabi Muhammad SAW.

“Siapa yang mengutus engkau,” tanya Arab Badui tersebut.

“Yang mengutus saya adalah Allah,” tegas Nabi kembali.

Arab Badui pun masih bertanya, “dengan apa engkau di utus?”.

“Saya diutus dengan membawa risalah supaya engkau menyambungkan silaturahmi, memelihara darah, dan memberikan rasa aman, menghancurkan berhala, dan beribadah kepada Allah yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu,” tutup baginda Nabi Muhammad SAW.

Kisah tersebut merupakan kisah yang tertuang dalam hadis. Jita kita renungkan cerita hadis di atas bahwa asal risalah adalah tauhid dan akidah sebagaimana dalam firman Allah disebutkan:

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.

Namun dalam hadis yang disebutkan di atas, justru Nabi Muhammad ketika menjelaskan risalah yang dibawanya kepada orang awam itu mendahulukan 3 perkara sebelum menjelaskan ketauhidan. Ketiga perkara itu adalah: Pertama, silaturahmi. Dengan bersilaturahmi maka akan tercipta keamanan sosial, saling pengertian, terhindarnya ujaran kebencian, dan merekatkan harmonisasi sesama anak bangsa. Kedua, memelihara darah. Dengan memelihara darah, Islam ingin memastikan terciptanya keamanan hidup, Berkehidupan yang aman, damai, saling mencintai sesama anak bangsa, saling toleransi walaupun penuh perbedaan. Dan ketiga, keamanan jalan yang ditafsirkan sebagai keamanan umum oleh Habib Ali Al Jufri.

Mendahulukannya Nabi ketiga keamanan tersebut sebelum menjelaskan ketauhidan inilah yang disebut oleh Habib Ali Al Jufri sebagai الانسانية قبل التدين (kemanusiaan sebelum beragama). Coba perhatikan kalimat beragama bukan agama karena agama suatu hal dan keberagamaan adalah suatu hal lain. Beragama adalah internalisasi nilai-nilai agama yang terpatri dan tercermin dari sanubari dan tindakan orang yang melaksanakan agama. Di mana nilai agama tersebut bisa disalahgunakan dan disalahartikan oleh orang mengaku beragama.

Dalam buku itu Habib Ali menjelaskan logika sederhana kenapa hadis di atas mendahulukan tiga keamanan sebelum ketauhidan. Dengan terciptanya keamanan sosial, keamanan kehidupan, dan keamanan umum, akan secara otomatis tercipta kebebasan yang hakiki bukan pengekangan. Dia akan dengan mudah melaksanakan kewajiban agamanya sebagai hamba Tuhan, maka keimanannya akan terasa kuat dalam sanubarinya. Akalnya akan bisa berfikir dengan sehat dan logis ketika keamanan tercipta, stabilitas jiwa dan bernegara juga tidak akan terkendala rasa takut, tanpa rasa aman dan kedamaian bagaimana mungkin dia bisa melaksanakan ketauhidan yang nyaman.

Maka siapa pun yang beragama tapi tidak menghiraukan aspek-aspek dasar kemanusiaan, membuat resah, menteror dan memprovokasi sehingga hilangnya rasa keamanan dan kenyamanan maka bangunan keimanan dalam hatinya adalah bangunan keimanan yang rapuh yang berada di ujung jurang.

و مهما توهم صاحبه رسوخ ايمانه و هو غير بال بالروابط الانسانية ولا بحرمة الدماء ولا بحق الامان فلا يكون بناء الايمان في قلبه الا علي شفا جرف

Oleh karenanya penting bagi kita menyiapkan dan menguatkan fitrah-fitrah kemanusiaan, menjaga keamanan dan merawatnya, terciptanya kedamaian sehingga keberagamaan kita menjadi benar. Jiwa kita tenang dan kita bisa mengabdi keharibaan Allah dalam beribadah dengan hati yang bersih tanpa menyekutukannya. Kemudian terjauh dari sifat ogoisme, riya, sum’ah, sombong, merasa paling benar, jauh dari hawa nafsu, dan merasakan hakikat ilmu Allah SWT. []

*Solahuddin Al Ayyubi, Khodim Ma’had Al-Kholili

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!