FPI, Kolonialisasi Agama dan Komitmen Ulama

2
385

Sangkhalifah.co — Front Pembela Islam (FPI) akhirnya secara de Jure dibubarkan oleh pemerintah Indonesia melalui keputusan enam pejabat tertinggi di Kementrian/Lembaga Negara serta secara de facto telah menjadi organisasi masyarakat (ormas) yang tidak boleh lagi bereksistensi di Indonesia. Bubarnya FPI sendiri merupakan jawaban dari perjalanan panjang berbagai kegelisahan yang digaungkan sejak lama oleh para akademisi, para tokoh, bahkan sosok bapak bangsa, almarhum KH. Abdurrahman Wahid sejak lebih dari satu dekade yang lalu menyampaikan keinginannya untuk membubarkan ormas preman tersebut.

FPI tak ayal dalam perjalanannya, sepak terjang mereka hampir sama dengan ormas Hizbut Tahrir, yakni selalu meresahkan masyarakat dengan narasi ideologisnya. Mereka senantiasa merongrong ideologi dengan khilafah dan NKRI Bersyariah yang utopis. Mereka pun menjadikan narasi agama sebagai legitimasi untuk menghidupkan misi politisnya. Bagi kalangan yang tidak satu nafas dengan mereka, otomatis dilabelli sebagai kafir dan telah melakukan kemungkaran. FPI sendiri mengafirmasi diri sebagai ormas Pembela Islam.

Padahal jika ditelusuri sejatinya peran ormas Islam di Indonesia sangatlah vital dalam proses mewadahi ekpresi keagamaan masyarakat. Peristiwa Pembubaran FPI tersebut menandakan banyak kelompok radikal yang bersembunyi dibalik jubah agama. FPI sendiri memang merupakan bagian dari kelompok radikal di Indonesia (Aksin Wijaya, 2020).

Berbeda dengan FPI, Nahdlatul Ulama secara historis berdiri sebagai wujud komitmen para Kiai dan Ulama terdahulu untuk menjaga eksistensi Islam yang ramah dan moderat. Karena dalam sejarah Islam disebutkan Nabi Muhammad Saw berdakwah dengan cinta dan kasih sayang, tidak ada kekerasan sedikitpun. Maka tak heran, Islam menjadi agama yang mudah diterima oleh masyarakat arab.

Kelahiran NU juga merupakan bentuk perlawanan para ulama kepada para penebar radikalisme agama (Wahabi) dan turut serta sebagai penjaga eksistensi agama rahmah dengan semboyan “Kebangkitan Ulama”. Karena masa kejayaan keilmuan Islam, Islam di jazirah arab sempat meroket (yang diwakili oleh kelompok Sunni), banyak para ulama nusantara yang belajar sekaligus mengajar di sana. Namun kemudian terhenti pasca menguatnya dominasi kelompok Wahhabi setelah kekalahan dinasti Turki Utsmani. Dua kota Suci Mekkah-Madinah kemudian dikuasai oleh paham Wahabiyah.

Hal itu merupakan bentuk dari kekalahan kaum intelektual Moderat-Sunni, yang dulu menguasai kota Mekkah dan Madinah dengan peradaban keilmuan. Kekalahan mereka merupakan akibat dari tidak adanya Wadah oganisasi yang mampu menampung aspirasi umat muslim moderat, lahirnya NU adalah bagian dari respon peristiwa tersebut. Di sana pun terdapat para ulama asli Nusantara yang berjejaring dengan ulama nusantara lainnya, salah satunya yang terkenal adalah Syekh Nawawi Al-Bantani.

Kolonialisasi Agama

FPI secara tak sadar, meminjam bahasa Aksin Wijaya (2020) dalam bukunya Manatap Wajah Islam Indonesia telah mengkolonialisasi agama di ruang publik. Mereka memaksa masyarakat atau suatu kelompok tertentu, agar mengikuti aturan dan ajaran mereka, padahal hal ini jelas menyalahi aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Mereka bukan menjadi ormas yang meneduhkan, namun menjadi ormas galak nan membabi buta, jika teradapat suatu hal yang menyalahi misi ideologis mereka.

Kehadiran ormas represif cum radikal seperti FPI sangatlah mengganggu ruang publik di Indonesia. Tetapi, hal ini juga menjadi dilema tersendiri bagi negara Indonesia yang berlandaskan demokratis nan reformatif. Sejak kemunculannya pada tahun 1998, mereka masih konsisten dengan wajah keberagamaan mereka yang dulu, yakni bringas dan berani melakukan intimidasi bahkan tindakan represif.

Dalam perjalanannya pun FPI konsisten membenturkan diri menjadi oposisi pemerintah. Bahkan mereka seringkali membenturkan antara kalangan ulama dan umara (penguasa). Pun mobilisasi digital mereka sangatlah kuat, mereka didukung oleh para buzzer yang cerdik dalam memobilisasi wacana agama dan sosial politik di media.

Untuk itu, melihat hal ini perlunya kita meneguhkan komitmen ulama kita sebagai penjaga NKRI. Salah satunya bisa melalui dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Sebagaimana menurut Buya Syafi’i Ma’arif dalam artikelnya di Kompas (05/01), bahwa kedua ormas tersebut harus menjadi benteng utama dalam membendung infiltrasi ideologi yang telah kehilangan perspektif masa depan untuk Islam, Keindonesiaan dan Kemanusiaan. Kemudian yang lebih penting dari itu menurut Buya adalah keduanya mesti bergandengan tangan untuk menjaga keutuhan Indonesia dari segala macam tangan perusak (dalam hal ini seperti FPI), termasuk dari mereka yang memakai bendera agama. Akhirnya, kedepan kita perlu terus meneguhkan diri untuk berkomitmen dalam rangka menguatkan sendi-sendi kehidupan bangsa di tengah-tengah masyarakat. [Ferdiansah]

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!