Filsafat Toleransi sebagai Tawaran Pencegahan Radikalisme dan Terorisme

0
189

Sangkhalifah.co — Secara sederhana filsafat dapat didefinisikan sebagai proses berfikir yang bertujuan untuk membahas kebenaran (al-bahts al-haqîqah). Pendefinisian ini bukan berarti filsafat hendak mendiskreditkan kebenaran, akan tetapi pada prosesnya juga menghargai adanya kebenaran yang lain yang beragam. Sedangkan toleransi diartikan dalam kamus-kamus bahasa yaitu sikap, pemikiran, ataupun perilaku yang berlandaskan pada penerimaan terhadap sikap atau pendapat orang lain, baik dalam keadaan sepakat atau berbeda pendapat. Baik esensi makna yang dikandung filsafat ataupun toleransi dapat dipahami sebagai konsep yang berlawanan dengan radikalisme dan terorisme yang mengkaplingkan kebenaran hanya untuk diri kelompoknya, dan di sisi lain menganggap haram bahkan sesat kebenaran kelompok lain.

Meskipun secara esensial baik filsafat maupun toleransi memiliki landasan yang kuat dalam ajaran-ajarannya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa dalam waktu tertentu ditemukan adanya akar-akar intoleransi pada keduanya. Nilai-nilai toleransi tergilas oleh kecenderungan orang-orang yang berfikir ekslusif, terkungkung dengan dogma agama, intoleransi dan fanatik buta. Dalam teologi Islam misalnya, lahir sekte-sekte seperti Khawarij yang mendaki sebagai kelompok Islam paling benar dan menganggap sesat kelompok di luar dirinya. Generasi Khawarij ini kemudian secara ajarannya diwarisi oleh ISIS dan HTI yang juga memiliki cara pandang yang sama. Sedangkan dalam tradisi filsafat juga pernah tertanam adanya intoleransi, seperti yang diutarakan Ibn Rusyd atas kritik Al-Ghazali yang menganggap filsafat sebagai kerancuan-kerancuan. Rusyd menganggap kritik Al-Ghazali tidak berlandaskan amanah ilmiah, namun karena latar belakang ideologi ‘Asyariyahnya.

Akar filsafat sebetulnya adalah toleransi. Konsepsi pencarian kebenaran dengan menghargai kebenaran lain yang menjadi definisi filsafat merupakan konsep dasar ajaran inklusif tersebut. Preseden ini diimplementasikan misalnya oleh Ibn Rusyd, yang walaupun ia merupakan filsuf Muslim yang konsen pada filsafat Islam, namun ia sangat mengapresiasi pemikiran filsafat Yunani. Bahkan, dalam kitabnya; Fasl al-Maqâl Fî Taqrîr mâ Naima Al-Syarî’ah wal Hikmah min Al-Ittishâl, ia memberikan fatwa bahwa setiap Muslim wajib mengambil manfaat keilmuan dari Yunani. Ia mengibaratkan keilmuan Yunani seperti pisau untuk menyembelih, yang ketika kita hendak menyembelih hewan misalnya, tidak perlu selalu mencari pisau dari orang yang beragama Islam. Jika pisau itu benar dan tajam, maka harus dipakai, jika tidak maka harus diwaspadai.

Konsepsi Ibn Rusyd dalam memandang “liyan” bukan dari sisi latar belakang ideologi keagamaan persoalan, akan tetapi kemanfaatan yang dapat digunakan untuk pengembangan pemikiran dan peradaban. Wajar jika kemudian Ibn Rusyd juga dikenal sebagai filsuf Muslim yang banyak menganalisa bahkan mengkritik teori-teori filsafat Yunani. Ini amat bertentangan dengan konsep keagamaan kelompok radikal dan teror yang enggan mau terbuka dalam beragama. Mereka tidak mau mempelajari ilmu-ilmu dari orang Islam yang bukan kelompoknya (apalagi dari luar Islam), sehingga pemikirannya rigid, ekslusif, dan intoleran. Kelompok radikal dan teror seperti ISIS, HTI dan semisalnya, selamanya tidak akan bisa menerima konsepsi-konsepsi lain yang berbeda apakah itu konsep beragama ataupun konsep sosial kenegaraan.

Bahkan lebih lanjut, dalam Tahâfut at-Tahâfût-nya, Ibn Rusyd juga mengedepankan nilai-nilai inlusif ketika menyikapi pendapat-pendapat lawan dialognya yaitu Al-Ghazali. Secara esensial, Rusyd mengusung konsep adil untuk mengkritik Al-Ghazali yang dianggapnya tidak memaparkan kritik yang ilmiah dalam mengomentari filsuf Yunani. Ia menegaskan, di antara keadilan, sebagaimana menurut Aristoteles, adalah jika seseorang mempersilahkan orang lain mengutarakan argumentasinya sebagaimana dirinya memiliki kesempatan mengeluarkan argumentasinya. Bagi pencari kebenaran, kata Ibn Rusyd, apabila menemukan pendapat yang janggal dan tidak menemukan argumentasi yang baik dari lawan bicaranya yang dapat menghilangkan kejanggalannya, seyogyanya tidak terburu-buru untuk menyesatkan.

Tradisi toleransi dalam filsafat yang salah satunya diajarkan oleh Ibn Rusyd ini jelas-jelas berlawanan dengan kelompok teroris dan radikal. Mereka adalah kelompok yang tidak mengenal konsepsi keadilan dalam pemikiran maupun tindakan. Sehingga, mereka menutup diri untuk menerima atau minimal mendengarkan argumentasi kelompok di luar dirinya agar terbangun kesepahaman satu dengan yang lainnya. Kelompok teror selalu mengutamakan hawa nafsu dan menyingkirkan konsep-konsep keagamaan yang toleran serta terburu-buru menganggap orang di luar dirinya sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Seperti nenek moyangnya yakni Khawarij, kelompok teror seperti ISIS dan HTI selalu menganggap orang-orang yang berbeda keyakinan dan keagamaan dianggap sebagai orang kafir, fasik dan zalim.

Konsep filsafat toleransi yang salah satunya diwujudkan oleh sikap Ibn Rusyd ini patut dijadikan lanskap toleransi keyakinan dan keagamaan. Ada dua hal penting yang patut digarisbawahi dalam konsep filsafat toleransi untuk menjadi tawaran meminimalisir radikalisme dan terorisme, yaitu inlusivitas beragam dan keadilan dalam berbagai aspeknya. Dua hal ini penting ditanamkan pada generasi Islam, bahkan mestinya sejak dini, untuk membentuk pribadi yang toleran, inklusif, dan memiliki nilai-nilai keagamaan yang esensial. Filsafat toleransi harus menjadi inspirasi sekaligus jalan solusi untuk menemukan pemahaman keagamaan yang terbuka, sehingga tidak akan lahir lagi kelompok-kelompok Islam seperti ISIS dan HTI yang berjuang mengatasnamakan agama, namun sejatinya hanya memanfaatkan agama. []

Leave a reply

error: Content is protected !!