Fenomena Dakwah Yang Mengajak Pemberontakan

0
637

Sangkhalifah.co — Metode untuk menyebarkan Islam adalah dengan menggunakan dakwah. Dakwah telah sejak 14 yang lalu dipraktikkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Dakwah juga telah dijalankan oleh Walisongo dalam konteks dunia Nusantara. Baik Rasulullah maupun para Walisongo keduanya sukses berdakwah. Bukti kesuksesan keduanya adalah orang-orang berbondong masuk Islam dengan hati yang penuh kedamaian. Mereka ikhlas memeluk Islam karena murni menemukan ketentraman. Hati mereka menjadi tentram dan adem dengan nilai-nilai Islam yang didakwahkan oleh para da’i yang mereka temui dengan santun, mengedepankan kebijaksanaan, dan tidak sekalipun menghakimi.

Dakwah sendiri secara bahasa adalah berasal dari Bahasa Arab, da’â yang berarti ‘mengajak’. Akal sehat kita akan memahami dengan sederhana bahwa mengajak adalah dengan cara yang baik, menghindari pemaksaan, dan mengedepankan musyawarah mementingkan objek dakwah. Jika dakwah dijalankan dengan memaksa maka jelas itu bukan dakwah, tapi pemaksaan (untuk tidak mengatakan pemalakan). Jika dakwah dilakukan dengan cacian, maka jelas itu juga bukan dakwah, tetapi ajang menghina makhluknya Allah. Jika dakwah dipraktikkan dengan membenci mereka yang tidak sepaham, maka pasti bukan dakwah akan tetapi mengajak permusuhan. Kita tak boleh tertipu hanya dengan simbol-simbol Islam, seperti simbol jubah, nama habib, jenggot panjang, akan tetapi dakwahnya justru bertolak belakang dengan apa yang diajarkan Rasulullah.

Pada QS. An-Nahl ayat 125 Allah SWT berfirman yang artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”

Baca: Pemuda dan Urgensi Pengarusutamaan Literasi Pancasila

Melalui ayat di atas, Allah hendak memberitahu makhluk-Nya bahwa dakwah harus disampaikan dengan cara yang baik. Al-Baghawi dalam Ma’alim fi Tanzil menyebutkan bahwa “mauizah hasanah” adalah metode dakwah yang disampaikan dengan kelembutan dan ketentraman, bukan dengan kemarahan, pemaksaan dan pemberontakan. Maka jelas jika ada yang berdakwah tidak dengan mauizah hasanah sesengguhnya telah melawan ketentuan Allah dalam Al-Qur’an. Ia bukan sedang mendakwahkan Islam, akan tetap sebetulnya sedang mengkerdilkannya.

Kita lihat fenomena di lapangan saat ini. Khususnya yang bergulir sejak 15 hari yang lalu dan hingga hari ini dan mungkin akan terus berjalan seperti demikian, yaitu dakwah disampaikan oleh seseorang dan sebagian orang yang mengaku Islam tetapi dakwahnya tidak membuat ketenangan jiwa. Dakwahnya melahirkan seseorang menjadi “pecundang”. Dakwahnya hanya membentuk seseorang menjadi pribadi yang pendendam, pembenci, dan garang bahkan ada pula yang mengajak melakukan pemberontakan.

Hati yang bersih pasti akan bisa memilih mana yang benar apakah setelah kita mengikuti kegiatan dakwah harusnya hati tenang atau justru berkecamuh untuk membenci orang lain yang ridak sekeyakinan (?) Jawabannya pasti ketenangan jiwa.  Hanya mereka yang sakit hatinya yang akan memilih untuk membenci orang lain atau pemerintah setelah mendengarkan dakwah.

Ulama tafsir lain seperti Al-Maraghi dalam Tafsir Al-Maraghi menyatakan bahwa mau’izah hasanah yang dimaksud dalam ayat di atas dapat dimaknai dengan tutur kata yang damai dan mempersatukan umat. Selain itu dapat berarti ucapan-ucapan yang menyejukkan dan nasehat yang baik. Lihatlah Rasulullah, bagiamana saat beliau berdakwah, beliau tidak pernah memasang wajah garang, marah-marah di atas mimbar, mencaci pemimpin, memaki mereka yang tidak sepaham, dan memprovokasi umat. Sayangnya, sebagian orang dalam praktiknya saat ini tidak sadar. Dakwah yang dilakukannya dengan cara menyakiti perasaan orang lain dianggapnya sebagai cara yang juga dilakukan oleh nabi dan diajarkan Islam. Sungguh hatinya telah tertutup dengan ajaran iblis yang mengajak pada kebencian dan permusuhan.

Baca: Kesadaran Identitas Indonesia Sebagai Pencegahan Terorisme dan Radikalisme

Ayat Al-Qur’an di atas tidak berhenti pada metode dakwah dengan mau’izah hasanah, akan tetapi juga dengan hikmah (bijaksana) dan jadil hiya ahsan (berdepat denga cara yang baik). Maka sesungguhnya, dakwah yang diajarkan Al-Qur’an dan Rasulullah adalah mengajak, bukan mengejek. Dakwah yang diajarkan keduanya adalah menentramkan hati, bukan melahirkan pemberontakan. Dakwah yang diminta oleh keduanya adalah mempersatukan umat yang masih terpecah dalam permusuhan, bukan menambah pertikaian yang berkepanjangan. Maka orang-orang yang berdakwah dengan cara kekerasan dan melahirkan pemberontakan pada umat ini selain akan ditolak manusia juga akan ditolak oleh alam. Alam akan membuatnya terhina di mata Allah, manusia, dan seluruh makhluk Tuhan.

Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan akhlak, innama bu’istu liutammima makarimal akhlak. Beliau diturunkan ke muka bumi agar akhlak umatnya menjadi lebih baik dan semakin mulia di sisi Allah. Maka contohlah dakwah Rasulullah yang penuh kedamaian, tidak pernah mencaci-maki. Jika kita memang mengaku sebagai peneladan Baginda Nabi Muhammad, seharusnya berdakwah dengan cara yang menyatukan umat, bukan memprovokasi massa untuk membenci sekelompok lain atau bahkan mengolok-olok pemerintah sah. Mengutip pernyataan Gus Miftah dalam NU Channel, kita memang harus menghormati keturunan Rasulullah, sebab hormat lebih baik daripada takwa. Namun demikian kita tak harus mengikuti akhlak seseorang, sekalipun ia habib, jika kelakuannya melanggar syariat. []

Leave a reply

error: Content is protected !!