Fanatisme Politik Melahirkan Kesalahan Dalam Tafsir

2
220

Sangkhalifah.co — Setiap agama selalu mempunyai sekte-sekte di dalamnya. Kristen mempunyai protestan, Katolik dan ortodoks sebagai sekte terbesar, Yahudi mempunyai 5 sekte di dalamnya; Parisi dan Sudduki. Begitupun Islam. Islam sudah diramal oleh Nabi Muhammad Saw. akan terpecah dalam 73 golongan.

Latar belakang timbulnya perpecahan sering kali terjadi akibat perbedaan memahami ajarannya dan fanatisme politik yang berlebihan. Dalam sejarah awal Islam, setelah wafatnya Nabi, kepemimpinan umat Islam mengalami kekosongan.

Kekosongan kepemimpinan umat Islam itulah yang membuat umat Muslim kebingungan karena tidak ada ketetapan dari Nabi perihal penggatinya. Akhirnya nama Abu Bakar muncul sebagai pengganti yang dirasa pantas menggatikan Nabi sebagai pemimpin Madinah kala itu. Setelah kepemimpinan Abu Bakr, ada tiga kepemimpinan Islam; Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Pada era setelah kepemimpinan Usman, terjadi kekacauan politik akibatnya perebutan kekuasaan dalam tubuh umat Islam tidak bisa dielakkan.

Kepemimpinan Ali sebagai khalifah al-Rasyidin memdapat perlawanan dari lawan politiknya, Muawiyah bin Abi Sufyan, sepupu Usman. Perlawanan awal berupa penolakan untuk tidak membaiat Ali dan akhirnya pecah menjadi perang Siffin yang kemudian diakhiri dengan diadakannya tahkim (arbitrase) dikarenakan pasukan dari Muawiyah menancapkan al-Quran di ujung tombaknya. Itu artinya sebuah tanda adanya keinginan berdamai. Sayyidina Ali menerima keinginan yang diajukan oleh pasukan Muawiyah.

Tahkim dipilih sebagai jalam tengah menyelesaikan sengketa rupanya tidak disetujui oleh semua pihak dari pasukan Ali. Dalam perjalanan tahkim ada kelompok yang tidak sepakat akan keputusan tahkim tersebut. Alur peristiwanya adalah kedua belah pihak mengutus perwakilan untuk berunding. Dari kubu Muawiyah diutuslah Amr bin Ash dan dari kubu Ali diutus Abu Musa al-Asy’ari. Masing-masing perwakilan kedua kubu menyepakati bahwa dari pihak Ali mengutus Abu Musa al-Asy’ari untuk mengumumkan diturunkannya Ali dari jabatannya sebagai khalifah dan pihak Muawiyah mengutus Amr bin Ash untuk mengumumkan bahwa Muawiyah diturunkan dari jabatan khilafahnya.

Namun, ketika pengumuman dilangsungkan, setelah Abu Musa mengumumkan pengunduran Ali sebagai khilafah, Amr bin Ash langsung membaiat Muawiyah sebagai khalifah yang baru, karena Muawiyah tidak bisa diturunkan dari jabatan khalifahnya sebelum menjabat. Akal licik dari politik kubu Muawiyah ini akhirnya menimbulkan percekcokan antara kedua belah pihak.

Dari peristiwa tahkim yang tidak sesuai dengan kesepakatan itu, lahirlah kelompok sempalan dari kubu Ali yang dikenal dengan khawarij (orang yang keluar dari barisan). Kelompok ini tidak sepakat akan keputusan diadakannya tahkim, padahal dulunya mereka menyepakati keputusan ini. Akhirnya kedua kubu: Ali dan Muawiyah dinilai kafir oleh mereka.

Opini mereka tentang kekafiran para sahabat yang sepakat akan keputusan tahkim tersebut didasarkan pada potongan ayat Al-Quran surah al-Maidah, 5: 44, wa man lam yahkum bima anzala Allahu faulāika hum al-Kāfirūn (barang siapa yang tidak memutuskan perkara dengan hukum Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir).

Pendapat kelompok Khawarij mengenai ayat ini ditentang oleh para ulama jumhur disebabkan akan dihukuminya kafir bagi semua yang bermaksiat kepada Allah, sebagaimana dijelaskan al-Razī dalam Mafātih al-Ghaib. Sedangkan ayat ini betujuan mengungkapkan pengingkaran hukum Allah berupa rajm bagi pezina muhsan bukan untuk menghukumi semua perkara yang tidak diperintahkan oleh Allah.

Kesalahan Khawarij Dalam Menafsirkan Al-Quran

Nabi Muhammad pernah bersabda, Sayyidina Abdullah bin Abbas berkata: Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang berkata mengenai Al-Quran tanpa ilmu maka bersiaplah untuk menempati tempat duduknya di neraka” (HR. Imam Ahmad. No 1965) hadis ini dijadikan landasan oleh para ulama bahwa tidak untuk menafsirkan Al-Quran menggunakan hawa nafsu sendiri. Fanatisme politik adalah nafsu yang tidak bisa dibendung oleh kelompok Khawarij dan akhirnya memaksakan nafsu politiknya untuk menafsirkan ayat suci Al-Quran.

Ketidak-puasannya pada keputusan Sayyidina Ali menjadikan Khawarij sebagai sekte yang dipengaruhi oleh perbedaan pandangan politik sangat tidak wajar dalam menafsirkan ayat Al-Quran khususnya pada surah al-Maidah, 5: 44. Ketidak wajaran ini karena penafsirannya yang bertentangan dengan asbab al-nuzul, khitab dari ayat tersebut (orang Yahudi yang mengingkari adanya hukum rajm) dan Hadis Nabi. Saya katakan bertentangan dengan Hadis karena orang-orang yang setuju dengan tahkim dan kemudian dihukumi kafir oleh Khawarij sebagiannya adalah orang-orang yang diberi kabar baik oleh Nabi sebagai penghuni surga.

Khawarij kontemporer muncul di Indonesia dengan bermacam-macam nama meski dengan metode dan cara pandang yang sama; fanatisme politik. Perbedaan objek saja yang membedakan. Kalau Khawarij generasi awal melesatkan tuduhan kafir kepada para sahabat yang setuju tahkim. Sedangkan khawarij kontemporer ini meletakkan status kafir pada masyarakat yang tidak menentang demokrasi, sebagai sistem yang dinilai produk kafir dan menganutnya adalah bagian dari menentang ayat Tuhan. Padahal, di Ulama Indonesia tidak ada yang mengatakan hukum had atau hukum rajm tidak ada dalam Al-Quran seperti yang dilakukan kaum Yahudi yang menjadi latar belakang ayat itu diturunkan. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!