Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Radikalisme Agama

0
171

Sangkhalifah.co — Aksi radikalisme kerap kali hanya dialamatkan kepada umat Muslim, yang tentunya mereka adalah kelompok yang setengah-setengah dalam memahami teks-teks agama. Tapi itu bukan faktor tunggal, dimana secara realitas ada banyak faktor. Dan yang terlibat dalam aksi radikalisme tidak saja umat Islam, melainkan non-Muslim juga.

Secara literal, kata radikalisme berasal dari baha latin “radix, radicis”. Dalam The Concise Oxford Dictionary (1997) diartikan akar, sumber atau asal mula. Sementara dalam Bahasa Inggirs kata “radical” memiliki arti ekstrim, fanatik, menyeluruh, revolusioner dan fundamental. Sehingga dari sisi bahasa, sebenarnya kata radikal bersifat netral. Bisa saja diartikan negatif ataupun positif.

Dalam kajian ilmu sosial, radikalisme diartikan sebagai bentuk tindakan yang ingin melakukan perubahan mendasar sesuai dengan pemahamannya terhadap realitas sosial ideologi yang dianutnya. Sementara dalam agama, radikalisme merupakan tindakan yang berupaya melakukan perombakan sosial dan politik secara total yang dipraktikkan dengan kekerasan.

Menurut para ahli, radikalisme bisa muncul karena beberapa faktor pemicu, di antaranya adalah: pertama, adanya ketimpangan sosial, kesejahteraan ekonomi belum merata. Kedua, konflik internal antar suku dan antar agama yang dibiarkan berlarut-larut. Ketiga, kepentingan pribadi para penguasa yang merugikan masyarakat luas. Keempat, angka kemiskinan, pengangguran dan anak putus sekolah yang terus naik, sementara respon pemerintah lambat. Kelima, eksploitasi alam besar-besaran sehingga muncul tindakan tindakan kriminal.

Baca: Menyawar Populisme Islam

Menurut Yusuf al-Qardlawi, radikalisme muncul oleh beberapa faktor, di antanya: pertama, Pengetahuan agama yang tidak utuh dan diperoleh dari proses belajar yang doktriner; kedua, Memahami Islam sebatas literalnya saja, sehingga pemahaman agama mereka hanya sampai kulit-kulitnya, tidak mendalam; ketiga, terlalu sibuk mempersoalkan masalah-masalah skunder (furu’) seperti perihal hukum membaca doa qunut, memanjangkan jenggot dan lain-lain, sementara masalah primer dilupakan; keempat, terlalu berlebihan dalam mengharamkan banya hal, sehingga memberatkan bagi umat; kelima, wawasan sejarah dan sosiologi yang lemah sehingga keputusan-keputusannya tidak sesuai konteks dan terkesan kaku; keenam, respon atas tindakan radikal lain; dan ketujuh, respon atas ketidakadilan ekonomi, sosial dan politik di tengah-tengah masyarakat. Radikalisme bukan hanya lahir sebagai ekspresi .

Sementara menurut Azyumardi Azra, ada beberapa faktor yang mendorong aksi radikalisme, antara lain sebagai berikut: pertama, pemahaman terhadap ayat-ayat al-Quran yang tidak utuh (sepotong-potong). Pemahaman teks-teks agama akan mereduksi terhadap ajaran-ajaran agama sendiri. Seperti memahami jihad hanya sebatas mengangkat senajta dan sarat kekerasan. Padahal jihad itu memiliki arti yang luas.

Kedua, kesalahan dalam membaca sejarah Islam, kemudian dikait-kaitkan dengan kondisi umat Islam pada masa tertentu. Seperti kelompok Wahabi yang mengkait-kaitkan tindakan mereka untuk memurnikan Islam dan diwarnai dengan cara-cara kekerasan. Ketiga, masih bertahannya de-privasi politik, sosial dan ekonomi dalam masyarakat.

Keempat, terus berlanjutnya konflik sosial bernuansa intra dan antar agama dalam pada masa reformasi yang disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya: kebebasan berkspresi yang mendorong untuk mengekspresikan gagasan atas kemauannya sendiri dengan tidak terlalu peduli pada pihak-pihak lain. Hal ini menyurutkan nilai-nilai toleransi; fragmentasi politik dan sosial yang masih terus berlanjut, terutama di kalangan elit politik, sosial dan militer yang berimbas pada kalangan bawah dan memancing konflik horizontal yang luas dan laten; penegakan hukum yang plin-plan, tidak konsisten; dislokasi dan disorientasi dalam masyarakat yang meluas akibat kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan harga kebutuhan hidup yang semakin mahal, membuat mereka terhimpit. Sehingga mereka muda marah, bahkan tenaga-tenaga mereka rela dibayar untuk melakukan aksi-aksi kekerasan.

Kelima, doktrin-doktrin kaum radikalis yang mudah diakses melalui internet, bukan hanya dari majalah-majalah cetak kalangan mereka.

Demikianlah kiranya beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan radikalisme. Dari beberapa faktor tadi juga bisa kita pahami bahwa aksi kekerasan dan radikalisme bukan saja dari pengaruh pemahaman agama yang salah, tetapi ada banyak hal. Sehingga aksi radikalisme bukan hanya dari kalangan umat Islam. Selagi  faktor-faktor itu ada, maka siapapun, baik Muslim ataupun non-Muslim, bisa terpapar dan melakukan aksi radikalisme. [Muhamad Abror]

Leave a reply

error: Content is protected !!