Faham Takfiri Menjadi Sumber Perpecahan Bangsa

1
482

Sangkhalifah.co — Persatuan bangsa merupakan dambaan semua umat manusia. Kerukunan dan perdamaian menjadi kunci utama terjalinnya persatuan bangsa. Sebagai bangsa yang multikultural, Indonesia telah membuktikannya dengan memegang teguh pada Pancasila. Di samping menjadi falsafah hidup berbangsa, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila mampu mengilhami terwujudnya persatuan dalam perbedaan. Sampai hari ini, patut dipercaya Pancasila memiliki kekuatan menyatukan tanpa menyudutkan.

Sebagai bangsa yang besar, bangsa Indonesia tak luput dari ujian dan goncangan. Berbagai ancaman dan gangguan pun sering terjadi bahkan dari dalam tubuh bangsa sendiri. Para pengacau itu tidak lagi melihat Indonesia sebagai rumah bersama, melainkan tempat yang harus ditaklukkan demi meraih cita-cita kelompok sendiri. Mereka pun dengan penuh kebanggaan mengaku sebagai pembela Islam. Faktanya, alih-alih menjadi penyejuk sesama saudaranya, namun justru malah suka mengkafirkan liyan walau sesama Islam. Mereka inilah yang disebut sebagai kelompok Takfiri.

Faham Takfiri sejatinya bukan produk lama di tubuh bangsa ini. Faham ini mengajarkan untuk mengkafirkan orang lain yang tidak sefaham dengan kelompoknya. Secara fisik, faham ini tidak berbahaya. Namun, pengaruhnya bisa meracuni cara beragama tanpa kasat mata. Para penganutnya ada di sekitar kita. Bahkan, lebih parahnya bisa saja dari kalangan anggota keluarga atau teman terdekat. Hal ini menjadi satu musuh yang sulit diprediksi. Kendati demikian, mereka tetaplah saudara seiman yang berbeda dan menyimpang dalam tataran pemikiran. Karenanya, meluruskan pemahaman mereka jauh lebih sulit daripada sekadar berdebat tanpa ada ujungnya.

Seperti dikatakan Ahmad Nurwakhid (2020), bahwa Takfiri menjadi salah satu ciri-ciri radikalisme di Indonesia. Faham ini menuduh kafir orang lain yang tak sefaham dengan kelompoknya. Hal ini senada dengan ungkap Mahfud MD (2019), bahwa Takfiri menjadi satu ciri kelompok Islam radikal. Mereka menuduh kelompok lain sesama Islam salah dan kafir hanya karena berbeda. Misalnya, memegang boneka Garuda saja dituduh menyembah berhala. Prinsip dasarnya, yang tidak sama dengan kelompoknya adalah kafir (okezone.com, 2019). Kasus penyerangan di Solo awal Agustus yang lalu, juga dipicu faham Takfiri. Dari faham Takfiri tersebut, memicu adanya intoleransi terhadap orang lain.

Secara historis, faham Takfiri telah dicontohkan oleh kaum khawarij pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib (w. 661 M). Khawarij menjadikan pokok ajaran mereka pada pelaku dosa besar. Siapapun yang melakukan dosa besar dinilai kafir dan halal darahnya. Pemahaman ini bermula dari perbedaan pandangan terhadap konsep hakimiyah yang diilhami dari QS. al-Maidah [5]: 44. Siapa saja yang tidak memutuskan (hukum) berdasarkan kitab suci adalah kafir. Gelar kafir pun dituduhkan khawarij kepada Ali hanya karena mengutus Abu Musa al-Asy’ari dalam peristiwa tahkim. Kekejaman mereka berlanjut dengan terbunuhnya khalifah di tangan si khawarij.

Cukup jelas bahwa faham Takfiri sangat berbahaya. Bermula dari pemahaman yang salah, berakibat fatal menghalalkan saudara seiman. Bahkan, pemimpin sendiri yang dulunya diikuti penuh loyalitas pun jadi sasaran pembunuhan. Apabila kelompok Takfiri ini dibiarkan, mereka akan menciptakan perpecahan sesama bangsa. Sesama saudara Islam saja tidak segan menyalahkan, apalagi terhadap non muslim yang jelas berbeda keyakinan. Meskipun kelompok ini minoritas, namun dalam pergerakan cukup ekstrim dan bisa mengancam mayoritas.

Pancasila Sebagai Ideologi Pemersatu Bangsa

Memahami Pancasila sebagai ideologi secara benar harus menjadi titik mula kesadaran berbangsa. Pancasila yang berintikan persatuan bangsa menutup sekat-sekat perbedaan menjadi jalinan keragaman yang indah. Kecintaan bangsa kepada tanah airnya harus menjadi nilai penting bagi setiap pribadi bangsa. Maka menanamkan pemahaman terhadap Pancasila harus dimulai sejak dini. Sebab, dengan ideologi ini Indonesia mampu menjaga keharmonisan persatuan dari konflik sesama bangsa.

Ketangguhan Pancasila cukup kuat dalam menghadapi serangkaian ancaman disintegrasi bangsa. Dari berbagai bentuk dan motif yang ada, ancaman itu tak mampu merobohkan ideologi bersama bangsa ini. Salah satu buktinya, Pancasila menyatukan bangsa ini dalam keragaman perbedaan yang ada. Agama, ras, suku dan golongan apapun merasa satu bangsa di bawah payung besar Pancasila. Kendati bukan agama, Pancasila justru mampu mengayomi semua agama yang ada. Ini sekaligus bukti bahwa Pancasila mengajarkan titik temu dari segala perbedaan, yakni nilai toleransi.

Faham kebangsaan yang dilandasi nilai toleransi harus teraplikasi dalam segala aspek kehidupan. Jika persatuan adalah cita-cita bersama, rasa saling mengerti dan memahami harus menjadi kunci utama. Di dalam segala perbedaan yang ada, tidak perlu dipertajam menjadi perpecahan. Kendati demikian, kebersamaan dalam rasa saling menghargai dan menghormati harus dijunjung tinggi. Bukan tak mungkin persatuan bangsa akan selalu terjaga, apabila seluruh bangsa teguh memegang falsafah Pancasila. [] 

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!