Eksklusivisme dan Intoleransi: Watak Dasar Teroris

3
606

Sangkhalifah.co — Selama Covid-19 ini, sejak Maret hingga sekarang sudah ada 150an teroris ditangkap. Di hilir, tidak ada masalah. Karena kalau bicara terorisme harus berbicara soal radikalisme. Sebab radikalisme adalah paham yang merupakan fase menuju terorisme.

“Teroris adalah perilaku, tindakan, dan perbuatannya. Sementara radikalisme adalah pemahamannya,” ungkap Direktur Pencegahan BNPT RI Brigen Pol R Ahmad Nurwakhid pada Seminar Pelibatan Civitas Academica dalam Pencegahan Terorisme melalui FKPT Banten, di Universitas Pamulang Viktor, dikutip Sang Khalifah dari Kanal Youtube Sasmita Jaya Group, Sabtu (28/11).

Lalu di mana letak intoleransi dan eksklusivisme? Para pengamat dan akademisi sering menjadikan leveling atau tahapan. Mulai dari eksklusivisme, intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

“(Tahapan) itu tidak salah. Tapi sebenarnya eksklusivisme dan intoleransi adalah watak dasar terorisme. Jadi semua teroris pasti berpaham radikal, pasti intoleran. Tetapi tidak semua orang berpaham radikal otomatis menjadi teroris,” jelasnya.

Semua sarjana, katanya, pasti melalui fase atau proses pendidikan dari SD hingga SMA. Namun tidak semua siswa SD, SMP, SMA, dan mahasiswa otomatis menjadi sarjana. Inilah analogi yang dipakai Brigjen Ahmad Nurwakhid dalam menerangkan klasifikasi seseorang menuju terorisme dan watak dasar teroris.

“Jadi status SD sampai SMA ini sama, siswa. Hanya level dan kompetensinya berbeda. Ini hanya analogi saja. Seperti itulah hubungan antara radikalisme dan terorisme,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa akar dari terorisme adalah persoalan ideologi yang menyimpang. Dalam Ilmu Kriminologi dikatakan, setiap individu manusia memiliki potensi untuk berbuat jahat.

“Radikal dan terorisme dikategorikan oleh dunia internasional sebagai kejahatan luar biasa. Juga dikatakan sebagai kejahatan kemanusiaan. Ahli hukum menyatakan terorisme sebagai kejahatan yang serius,” tuturnya.

Oleh karena itu, teori atau pendekatan yang lebih relevan adalah Ilmu Krimonologi. Lalu potensi jahat itu akan muncul menjadi niat jahat, ketika dipicu oleh beberapa faktor. Niat dan motif ketika bertemu dengan kesempatan maka jadilah kejahatan.

“Demikian pula radikalisme dan terorisme. Akar masalahnya adalah ideologi yang menyimpang. Setiap manusia punya potensi ideologi yang radikal. Potensi itu akan menjadi niat atau motif radikal ketika dipicu oleh banyak faktor seperti politisasi agama,” katanya.

Sejalan dengan itu, Mantan Napi Teroris Kurnia Widodo memaparkan faktor dominan radikalisme yakni ideologis. Sedangkan faktor lainnya adalah kemiskinan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, keluarga, dendam, dan pertemanan.

Secara praktik, katanya, bukan hanya orang-orang yang bermasalah. Namun orang-orang kaya, pejabat, polisi, dan bahkan tantara bisa terpapar radikalisme yang kemudian sepakat dengan aksi-aksi terorisme. Bahkan, ikut melakukannya.

Kurnia mencontohkan, Direktur Investasi dan PTSP Otoritas Batam Dwi Joko Wiwoho melakukan hijrah ke ISIS di Suriah. Padahal Dwi ini adalah seorang pejabat, bukan seorang yang memiliki faktor dominan seperti yang telah disebutkan di atas.

“Dia hijrah ke Suriah, sampai luntang-lantung hidupnya,” ungkap Kurnia.

Selain itu adalah pula seorang lulusan STPDN yang terkena kasus teror, Yudi Zulfahri. Di STPDN, sebenarnya diajarkan dan dipupuk rasa patriotik. Namun karena faktor ideologis, Yudi pun akhirnya bisa terpapar virus radikalisme.

“Kemudian ada polisi, Brigadir Syahputra Anggota Polres Batanghari yang meninggal di Suriah. Sofyan Sauri mantan Sabhara. Yuli Harsono mantan tantara juga masuk ke kelompok ini,” ungkap Kurnia.

Modus yang ditawarkan oleh para teroris itu adalah dikatakan bahwa mayoritas umat Islam tidak bertauhid dengan benar. Bagi mereka, kalimat laa ilaaha illallah adalah sebuah penafian atau pengingkaran.

“Jadi kalau kita tidak mengingkari kekafiran maka kita bukan Islam yang benar. Kita tidak mengingkari thagut kita tidak bertauhid dengan benar,” ungkapnya.

Problemnya, mereka menyatakan Indonesia sebagai negara thagut atau kafir. Sedangkan para aparat dan tentaranya disebut sebagai anshorut-taghut. Jika demikian, watak dasar teroris ini dengan serta-merta menghalalkan pembunuhan, pemboman, dan aksi-aksi terorisme yang lainnya.

“Maka tidak heran kasus terorisme itu yang diserang pos polisi. Tentara sedang santai kemudian ditusuk dan diambil senjatanya. Karena polisi dan tentara dianggap sebagai pilar dari negara yang dianggap kafir secara muayyan sehingga halal untuk dirampas harta-bendanya,” jelas Kurnia.

Sementara itu Pakar Tafsir Muhammad Makmun Rasyid menyatakan bahwa berita bohong atau hoaks diproduksi oleh orang pintar yang tidak bertanggung jawab dan dikonsumsi oleh orang baik yang bodoh.

“Dalam bahasa akademiknya, dia ilmiah tapi tidak amaliyah. Karena informasi dan pengetahuan baru sekadar informasi tapi pertanggungjawaban itu sesuatu yang lain,” ungkap Makmun.

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa orang yang tidak mampu mempertanggungjawabkan keilmuannya maka sangat berpotensi untuk melakukan sesuatu yang tidak sebagaimana mestinya. Inilah yang juga dilakukan oleh kelompok-kelompok radikalis, ekstremis, dan teroris.

“Mereka melepaskan tanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan karena melepaskan teks dengan konteks dan kontekstualisasi. Jadi kalau di Al-Quran mereka melepaskan asbabun-nuzul, kalau di hadis asbabul-wurud,” katanya.

Ia menambahkan, para ekstremis dan teroris seringkali mengutip Al-Maidah ayat 44, wa man lam yahkum bimaa anzalallahu fa ulaa-ika humul kafirun. Menurut Makmun, di dalam ayat ini ada kata ‘man’ yang berarti bukan negara, lembaga, institusi tetapi artinya adalah orang. Dimana watak dasar teroris juga suka menyimpangkan ayat-ayat Qur’an untuk kepentingan legitimasi gerakannya.

“Makanya Al-Quran sudah mengunci kita dan menjadi pembuka Nabi dalam berdakwah. Law annaa ahlal quraa aamanu wattaqau lafatahna ‘alaihim barakatin minas-sama’i wal ardli wa lakin kadzdzabu fa akhaznahum bimaa kaanu yaksibuun,” kata Makmun.

“Jadi yang kita ubah bukan negaranya tetapi ahlal qura (penduduknya). Kalau penduduknya baik maka negara apa pun stemple dan labelnya akan mengikuti dengan sendirinya. Karena kalau penduduknya tidak baik, sebagus apa pun negara itu sekalipun berlabel Islam tidak akan menjadi baik,” tuturnya. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!