Eksistensi FPI Mencoreng Wajah Ramah Bangsa Indonesia

1
145

Sangkhalifah.co — Babak baru pasca Munarman ditangkap Densus 88 sepekan yang lalu masyarakat Indonesia mulai tahu betapa terorisnya anggota-anggota FPI. Tak hanya karena rajin sweeping dan gemar melontarkan ucapan-ucapan kotor, FPI melalui Munarman sudah diduga kuat diafiliasikan dengan organisasi teroris ISIS dengan dugaan kuat baiatnya Munarman dengan ISIS di 3 tempat yaitu Medan, Jakarta dan Makassar. Artinya, FPI adalah organisasi yang bisa dikatakan tangan panjang dari organisasi transnasional yang memiliki wajah keras, intoleran, dan tidak sejalan dengan wajah ramah bangsa Indonesia.

Seperti diketahui bahwa organisasi-organisasi Islam transnasional yang mencoba diekspor ke Indonesia semua berwajah garang, tidak adaptif, dan menentang dasar-dasar kebangsaan, seperti ISIS, HTI, Jama’ah Islamiyyah, dan organisasi-organisasi turunnya yang lahir di Indonesia tetapi terinspirasi oleh organisasi transnasional itu. Gerakan transnasional sangat berbeda dengan gerakan Islam di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah yang dikenal santun, ramah, toleran dan tidak mudah marah-marah jika ada perbedaan. Baik organisasi transnasional maupun turunan-turunannya di Indonesia jika dibiarkan maka hanya akan menimbulkan kerusakan dan chaos di tengah masyarakat.

Azyumardi Azra menyebut bahwa gerakan radikal seringkali muncul karena merasa keinginan politiknya tidak terwadahi secara baik dalam sebuah negara, sehingga mereka melakukan tindakan kekerasan. Ini sangat relevan dengan FPI yang didapuk Rizieq Shihab, di mana ia lahir karena ketidakpuasan atas aspirasi politiknya di tengah masyarakat. Tetapi bodohnya FPI, tidak sekadar mengkampanyekan ideologinya melalui prinsip-prinsip organisasinya, tetapi malah terindikasi kuat telah melakukan baiat sumpah setia dengan organisasi terorisme dunia, yaitu ISIS. Ini yang membuktikan bahwa sebetulnya, FPI tidak lain kecuali organisasi teroris.

Organisasi yang muncul sebab pergulatan politik akan menjadi sangat bahaya manakala membawa baju agama. Ia akan berwajah garang dan mencoreng eksistensi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah dan santun. Demikian adalah FPI, organisasi yang lahir sebab pergulatan politik dan dioles dengan agama, memakai sorban, gamis, udeng-udeng dan sebagainya dengan tanpa melihat substansinya. Al-Zaztrow pernah menyebut bahwa FPI adalah kelompok Islam yang dalam memahami teks agama terlalu sempit dan skriptualis. Pemahaman agama demikian yang mudah menular seseorang untuk memilki jiwa radikalis, bahkan jiwa teroris.

Aksi kekerasan FPI yang sudah sangat masyhur di mana-mana dengan menggunakan simbol-simbol agama membuktikan bahwa ideologi FPI adalah ideologi radikal. Ditambah dengan terbuktinya beberapa anggota FPI yang melakukan tindak kekerasan terorisme, maka bukan hanya dinamakan organisasi radikal yang bisa mencoreng eksistensi wajah bangsa Indonesia, tetapi juga merupakan organisasi teroris. FPI dan eks-eks pendukungnya harus dilakukan tracking agar mereka tidak mengikuti Munarman yang sangat diduga kuat telah berbaiat dengan ISIS. Penangkapan Munarman hanya sebagai salah satu indikasi saja untuk membongkar borok FPI sebagai organisasi teroris.

Ideologi yang dimiliki sebuah gerakan berdampak pada politik keagamaan. Gerakan politik FPI yang selalu membawa-bawa simbol agama untuk melakukan kekerasan dapat sangat mungkin berdampak pada model keagamaan masyarakat di Indonesia. Dari yang tadinya toleran, santun, dan menyejukkan menjadi intoleran, pemarah dan menakutkan. Itu karena dakwah sebuah organisasi akan berdasar pada ideologi dan aktivitas yang dilakukan oleh anggotanya. Bila jelas-jelas FPI berideologi radikal bahkan teror, bukan tidak mungkin bila masyarakat akan terbentuk menjadi masyarakat yang fanatik, intoleran dan beragama dengan cara garang.

Indonesia adalah bangsa yang beragam, yang sangat mudah menerima Ideologi-ideologi transnasional. FPI memang sudah dibubarkan. Dua pentolannya sudah ditangkap oleh kepolisian. Tetapi demikian tidak berarti ideologinya hilang begitu saja. Masih banyak eks-eks simpatisan FPI yang memiliki dendam kepada pemerintah yang telah membongkar kebobrokan moral Rizieq Shihab dan Munarman. Jangan sampai eks-eks FPI bergabung dengan organisasi-organisasi yang masih legal dan mempengaruhi ideologi dan cara dakwah mereka dengan cara-cara radikal yang FPI lakukan. Sebab cepat atau lambat, jika eks FPI tidak ditebas habis, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan terus melempar bola panas untuk merubah wajah keberagamaan di Indonesia dengan cara yang kasar dan intoleran. [Eep]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!