Eks NII Ken Setiawan, Kelompok Radikal: Menegakkan Khilafah Bagian Dari Jihad

2
173

Sangkhalifah.co — Paham-paham radikal dan ekstrim telah masuk ke kampus-kampus. Hal ini menjadi pembahasan khusus dalam webinar yang digelar oleh Media Sangkhalifah.co, Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir-Hadis Indonesia (FKMTHI) dan Yayasan Bina Bangsa Indonesia (BBI) Jakarta, Sabtu (08/08/2020).

Acara bertema “Radikalisme dan Pertarungan Ideologi di Kampus” ini secara khusus membahas kampus-kampus yang menjadi incaran kelompok radikal dan ekstremis untuk mengirimkan kader-kader terbaik mereka. Hadir sebagai pembicara, Eks NII Ken Setiawan. Ia mengatakan, adanya pandemi Covid-19 mempermudah kita untuk saling tukar ide dan informasi meski sebatas virtual.

“Anak-anak muda yang tergiur oleh ideologi radikal karena kurang masifnya pemerintah memasyarakatkan Pancasila. Atau bisa jadi karena mendapatkan guru yang salah ketika sekolah. Kelompok radikal sebetulnya sedikit, hanya saja mereka masif. Orang-orang yang toleran tidak mau aktif untuk melawan membuat tandingannya secara masif, sehingga terus-menerus massif,” terangnya.

Ken Setiawan menyampaikan, radikalisme didoktrinkan bukan dengan cara-cara murahan atau sekedar menebarkan virusnya. Mereka menggunakan dengan sistem dan pola yang sistematis, terstruktur, masif dan menyebarkan di pos-pos yang strategis.

“Radikalisme didoktrinkan bukan dengan cara-cara murahan, akan tetapi itu dilakukan dengan intens, bahkan rasional. Sehingga banyak anak-anak muda masuk ke dalamnya. Agama selalu menjadi tawaran kepada anak muda oleh senior-seniar kelompok radikal, sehingga anak-anak muda kerapkali gampang tergiur,” tuturnya.

Ia menerangkan, kelompok radikal memiliki kesamaan ajaran dan doktrin, baik di tatanan mind of state maupun di tatanan life of style. Kesamaan ini bisa menjadi indikator untuk mengusut mereka secara terukur. Ada tiga ajaran yang diajarkan yaitu iman, hijrah dan jihad. Ketiganya ini sangat menarik diberikan kepada generasi milenail.

“Dalam tataran iman, doktinisasi yang kerapkali disuguhkan kepada anak-anak muda adalah doktrin tauhid dengan disampaikan secara ekslusif; misalnya tauhid dikaitkan dengan Bendera Tauhid. Taghut yang dipredikatkan kepada Pancasila. Atau menggunakan logika-logika sesat yang sederhana seputar Islam, misalnya: “tauhid itu menyakini tidak ada hukum Allah. Jika masih meykini Pancasila sebagai hukum, maka nilai iman tidak sempurna,” tandasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, “dalam kasus hijrah, kelompok radikal mendalilkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah sebagai acuan hijrah di Indonesia dengan hijrah dari meyakini hukum-hukum di Indonesia dengan syariat Islam versi mereka. Mereka menakut-nakuti anak-anak muda bahwa orang-orang yang tidak hijrah akan masuk neraka Jahannam. Sedangkan dalam soal jihad, kelompok radikal memaknainya dengan jihad menegakkan khilafah. Dalam berjihad mereka menganggap selain mereka halal dibunuh, dan hartanya diamnggap harta rampasan,” tutupnya.

Dalam acara yang disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom Media Sangkhalifah.co Indonesia dan Youtube NU Channel tersebut juga dihadiri narasumber lain, yakni Ayik Heriansyah. Ia menjelaskan, perjalanan kaum radikal terus menampakkan jati dirinya bahkan di masa pandemi ini, dan salah satu sasaran empuknya adalah kampus.

“Kampus adalah masyarakat semu; masyarakat yang imajiner. Kampus menjadi miniatur masyarakat yang sesungguhnya. Siapa yang menguasai kampus maka bisa menguasai masyarakat. Kampus selalu dipengaruhi kondisi politik di luar kampus. Kelompok kampus selalu terhubungn dengan kelompok radikal luar kampus yang juga berkait dengan gerakan radikal trans-nasional. Kampus menjadi tempat pertarungan kelompok radikal,” terangnya.

Mantan Ketua DPD HTI Bangka Belitung dan Ketua FIKI Masjid UI 2001-2002 ini menambahkan, gerakan radikalisme ada di kampus-kampus. Karena kebebasan yang ada, maka membangun jaringan di luar kampus sangat mudah. Khususnya pertalian yang diikat oleh hubungan dan emosi politis.

“Kelompok radikal berebut posisi di kampus. Mahasiswa menjadi radikal dengan dua cara, pertama, dari SMA-nya sudah radikal (radikal lanjutan). Mereka ini yang akan menjadi penggerak utama. Kedua, mahasiswa yang masih polos kemudian ikut-ikutan kelompok radikal. Biasanya bentuk kedua ini agak sulit untuk didoktrin. Sebab mereka sekarang sudah melek informasi. Justru yang sulit dirubah adalah mereka yang lanjutan. 80% Mahasiswa radikal sudah radikal sejak SMA,” jelasnya.

Ia menyayangkan banyak yang mengaku toleran dan moderat tapi tidak ambil sikap dalam meng-counter dan memberikan perbandingan, baik berupa gagasan maupun alternatif di tataran praktik, semisal alternatif pengajian dan sejenisnya.

“Di mana kelompok moderat dalam konteks di atas? Mereka menyingkir dari kegiatan keagamaan di kampus. Mereka di kampus hanya untuk kuliah atau masuk UKM yang tidak ada hubungan dengan agama. Akibatnya aktivitas keagamaan di kampus dikuasai oleh kelompok radikal. Padahal hampir semua lembaga LDK di kampus sudah mengarah ke radikal. Mereka sudah terafiliasi HTI dan kelompok radikal lainnya. LDK susah dirubah afiliasi kepemimpinannya, sebab sudah di-setting oleh para pemimpin yang sudah dulu-dulu seniornya,” tutupnya.

Dalam webinar yang dimoderatori oleh Karin dan pembawa acara Ach Sayuthi ini menyampaikan bahwa kita siap memfasilitasi teman-teman yang tidak memiliki wadah namun memiliki kesamaan emosi dan visi-misi dalam membumikan semangat Bhinneka Tunggal Ika dan membumisasikan nilai-nilai Pancasila. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!