Eks Napiter: Kerja Kontra Narasi Harus Lebih Masif

0
348
Eks Napiter dalam webinar yang diselenggarakan FKMTHI, Yayasan BBI dan Sangkhalifah.co via zoom, Sabtu (13/6/2020).

Sangkhalifah.co — Eks Narapida Teroris dan Eks Pimpinan Jamaah Anshorud Tauhid (JAT), Haris Amir Falah menilai, program kontra narasi dan keterlibatan civil society harus lebih masif, sistematis dan terstruktur. Upaya ini tidak saja menjadi kewajiban pemerintah, tapi kita sebagai civil society harus bersama-sama menyebarkan konten-konten moderat.

“Kalau program kontra narasi dan moderat menurut saya perlu ada peningkatan. Saat ini kita program-program kita belum tersentuh optimal. Harus bersama-sama, tidak bisa sendirian. Apalagi saya dkk eks napiter, tidak mungkin mampu menyadarkan karena keterbatasan yang kami miliki,” kata Haris setelah mengikuti acara webinar yang diselenggarakan FKMTHI, Yayasan Bina Bangsa Indonesia dan Media Sangkhalifah.co, Sabtu (13/6/2020).

Haris mengatakan, kerja kontra narasi mestinya dianggap pekerjaan mulia. Karena bagian dari jihad membela negara dan agama. Dan tidak dianggap hanya kewajiban pemerintah dan negara.

“Kita ini menghadapi kelompok radikal ekstrim. Radikal ekstrim itu mereka yang mengkafirkan negara; mengatakan Pancasila bertentangan dengan Islam; mereka bersembunyi dibalik-balik lembaga, institusi yang se-visi dan ber-taqiyyah; dan mereka sangat kuat memegang akidah dan manhaj mereka. Salah satu yang terdapat dalam akidah mereka adalah negara yang ada saat ini kafir; masyarakat di dalamnya juga kafir. Sebab kekafiran itu, maka jihad dengan pembunuhan menjadi keharusan mereka,” ujar Haris.

Haris mengatakan, mereka memiliki trilogi dalam pergerakan. Dulu saya mengenal namanya iman, hijrah dan jihad. Tapi ketiganya berbeda dengan pemahaman masyarakat umum.

“Doktrin abadi mereka adalah iman. Iman yang mereka pelajari, siapa yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka, dia adalah musuh yang harus diperangi; kedua, hijrah. Hijrah ini wilayah dan proses pembai’atan dan janji setia. Seperti di ISIS dan HTI yang ada sumpahnya; ketiga, jihad. Jihad ini hanya dengan satu cara, melakukan pembunuhan. Jika ada anggota yang tidak bisa beperang, mereka dikelompokkan ke i’dad (persiapan), yaitu proses militerisasi sampai bisa menembak dan lain sebagainya,” tutupnya.

Sementera itu, Direktur Nasaruddin Umar Office Mas’ud Halimin menambahkan, kerja-kerja kontra narasi jangan sampai menjadi kontra produktif jika tidak diimbangi oleh bekal ilmu pengetahuan yang cukup dan salah memberikan ramuannya.

“Dalam berdakwah, kita itu seperti apoteker. Kita harus mengerti jenis penyakit orang yang diidap dan dosisnya. Jika tidak mengerti, alias asal saji, maka itu bisa jadi kontra produktif. Misalnya kita melarang cadar di kampus. Kita harus memberikan informasi yang kokoh, bi-qadri uqûlihim atau sesuai style si penerima,” kata Mas’ud Halimin.

Mas’ud menambahkan, begitu juga dengan upaya pembumisasian Pancasila. Kita harus mengerti dulu Pancasila agar menyajikannya tidak asal saji dan disesuaikan dengan keinginan pasar tanpa mengurangi kesakralan Pancasila.

“Dalam kontra narasi untuk mengukuhkan Pancasila, kita harus mampu memasarkan barang dan menyajikan solusi yang tepat dan bijaksana. Kita harus mampu memberikan pemahaman yang sempurna sesuai style dan kemampuan daya tangkap lawan. Ini kan di media sosial, misalnya yang terapapr anti-Pancasila seorang dosen, kita men-counter-nya dengan meme. Seharusnya kan dengan tulisan dan lain sejenisnya,” jelasnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!