Eks-Napi Teroris Bongkar Empat Narasi Radikal di Ranah Digital

4
172

Sangkhalifah.co — Mantan Napi Teroris Jamaah Islamiyah (JI) Arif Budi Setyawan membongkar empat narasi yang kerap dimainkan dan disebarkan di ranah digital. Menurutnya, seluruh pengusung ideologi pasti akan membutuhkan pendukung, sehingga mereka akan mencari banyak orang yang bisa diajak berjuang bersama.

Tujuan jangka panjang dari narasi yang disebar oleh kelompok radikal di media sosial adalah untuk merekrut atau mendapatkan simpatisan yang diharapkan. Dengan begitu, para simpatisan pengusung radikalisme itu bisa ikut memperjuangkan ideologi.

“Tapi ada jangka pendeknya. Kelompok radikal dan ekstremis itu juga membutuhkan dukungan pendanaan untuk kebutuhan finansial kepada istri-istri para anggota ISIS yang dipenjara. Jadi, satu tujuan jangka pendek ketika ada penyebaran propaganda itu adalah untuk mendapatkan bantuan dukungan finansial dari para pendukungnya,” ungkap Arif, dalam webinar yang disiarkan langsung melalui Youtube Sang Khalifah, pada 31 Oktober lalu.

Ia lantas memberikan contoh bahwa ada tiga Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi buruh migran di Singapura yang menyumbangkan uang untuk pendanaan kelompok pengusung ideologi radikal.

“Mereka tidak menyumbangkan uangnya untuk terorisme tapi untuk keluarga dari anggota ISIS yang dipenjara,” jelas Arif.

“Kalau di Singapura (pendanaan terhadap terorisme itu) terkena delik (hukum), sementara di Indonesia tidak ada. Maka di Indonesia ada banyak sekali yang seperti itu. penggalangan dana yang mereka lakukan untuk mendukung perjuangan mereka,” tambahnya.

Menurut Arif, narasi perekrutan yang disebarkan di ranah digital adalah hal biasa yang dilakukan oleh para ekstemis.

“Ada empat tahapan narasi (di ranah digital). Dua (tahap) pertama dilakukan tidak hanya oleh ISIS, tapi dua terakhir dilakukan oleh kelompok kekerasan. Tapi kalau dua di atas itu dilakukan juga oleh kelompok radikal non-kekerasan,” katanya.

Pertama adalah narasi kegelisahan atau penderitaan yang dialami umat Islam. Narasi ini dimainkan setelah narasi umum tentang ajaran Islam, muamalah, ibadah, dan fiqih tuntas disampaikan kepada simpatisannya.

“Narasi penderitaan umat Islam di dunia ini kemudian digiring pada narasi bahwa umat Islam saat ini sudah tertindas dan dizalimi. Mereka memicu supaya umat Islam jadi gelisah,” ungkap Arif.

“Di tahapan pertama ini, kalau penerima narasi berpikir kritis kemudian bahwa memperjuangkannya itu dengan jalan lebih konkret yang tidak merongrong atau mengganggu pemerintahan seperti dengan kegiatan sosial memberantas kemiskinan, langkah yang diambil di situ tidak terlalu menjadi masalah,” imbuhnya.

Lalu, jika narasi kegelisahan itu sudah muncul maka dilanjutkanlah kepada narasi yang kedua. Bahwa penyebab kegelisahaan atau penderitaan umat Islam lantaran ulah musuh-musuh Islam.

“Ini sama dengan narasi pertama. Kalau narasi kedua ini dilanjutkan dengan tindakan yang tidak mengganggu pemerintahan dan merugikan umat Islam yang lain seperti dialihkan dengan memberantas kemiskinan, pendidikan, membina pesantren maka sampai di sini narasi itu masih bisa diredam,” kata Arif.

Hal inilah yang menurutnya menjadi peran dan tugas kalangan muslim moderat untuk meredam narasi mereka agar berhenti pada narasi kedua. Jangan sampai, imbuh Arif, narasi tersebut dibawa kepada narasi ketiga yakni narasi perlawanan.

“Bahwa jalan untuk mengeluarkan umat Islam dari penderitaan dan penindasan itu adalah dengan melakukan perlawanan. Narasi inilah yang dulu saya terima dan saya iyakan. Kita harus melawan,” tutur Arif.

“Karena kalau tidak melawan, mereka akan semakin semena-mena. Kezaliman akan semakin parah. Jadi kita harus melakukan perlawanan,” lanjut Arif, menggambarkan kelompok radikal dan ekstemis menarasikan sebuah perlawanan.

Katanya, apabila orang sudah menerima narasi perlawanan maka sedikit lagi akan mengamini narasi keempat yakni melakukan aksi terorisme dengan kekerasan. Baik levelnya yang masih dalam tahap persiapan seperti melakukan pelatihan maupun pada tahap aksi nyata untuk melakukan teror.

“Aksi teror itu sebagai bentuk perlawanan untuk menunjukkan kepada musuh bahwa kami bisa melawan, kalian jangan teruskan kezaliman kepada umat Islam karena kami bisa melawan,” pungkas Arif. Demikian narasi yang dimainkan oleh kelompok radikal dan ekstremis. []

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!