Dugderan: “Jihad” Menjaga Keberagaman, Menepis Kebencian

0
378

Sangkhalifah.co — Puasa Ramadan menjadi bulan yang sangat bermakna bagi umat Islam di seluruh dunia. Dalam memaknai datangnya bulan Ramadan, umat Muslim dari berbagai negara memiliki cara dan tradisi masing-masing dalam mengekspresikan kegembiraan menyambut keberkahannya. Bahkan, di Indonesia, tradisi berbeda-beda dalam menyambut Ramadan juga nampak berbeda antar daerah.

Tak jarang, tradisi yang berkembang dalam menyambut atau menandai datangnya bulan Ramadan memancarkan spirit atau nilai-nilai yang dijunjung tinggi masyarakat setempat. Dalam tradisi Dugderan misalnya, kita melihat di samping kegembiraan datangnya bulan Ramadan, juga ada pancaraan semangat menjaga keharmonisan dan keberagaman. Di masa pandemi saat ini, tradisi Dugderan mungkin ditiadakan sebagai pencegahan penularan Covid-19. Namun, tak ada salahnya saat ini mengupas tradisi menarik ini dan mengambil nilai-nilai dan pesan berharga di dalamnya.

Dugderan adalah tradisi khas kota Semarang yang biasanya diisi kirab budaya, karnaval, dan juga diramaikan ratusan pedagang dalam pasar rakyat. Menurut sejarahnya, tradisi Dugderan tak lepas dari perkembangan dakwah Islam.

Seperti dilansir Republika (2/5/2018), dulunya Dugderan berawal dari pertemuan para ulama. Di penghujung bulan Sya’ban, ulama dari dari berbagai wilayah, dengan difasilitasi Bupati Semarang, RMTA Purbaningrat (1881), berkumpul untuk melakukan halaqoh. Halaqoh ini untuk berembuk menentukan kesepakatan menentukan awal Ramadan.

Hasil halaqah atau Suhul Halaqah tersebut kemudian diserahkan ke Bupati untuk disebarluaskan ke masyarakat, lewat pengumuman akbar di Masjid Agung Kauman. Sebagai penanda sudah adanya keputusan para ulama tersebutlah, maka ditabuh bedug yang disertai dentuman meriam. Suara bedug (dug) dan meriam (der) ini kemudian memunculkan istilah “dugderan”.

Warak, Simbol Keberagaman

Hingga kini, tradisi Dugderan diperingati setiap tahun dan menjadi momentum pertanda datangnya bulan Ramadan yang disambut meriah oleh berbagai lapisan masyarakat. Meski dalam perkembangannya mengalami banyak perubahan, namun esensi Dugderan tak pernah berubah. Di samping sebagai pertanda datangnya bulan Ramadan, Dugderan juga lekat dengan ekspresi keberagaman masyarakat Semarang.

Adanya ikon berupa Warak Ngendog, mainan atau boneka berukuran raksasa yang biasa diarak dalam Dugderan, menggambarkan hal tersebut. Keterangan dari wikipedia menyebutkan bahwa “warak” dalam bahasa Jawa berarti “badak”. Namun, ada pula yang menyebut dari bahasa Arab yang bermakna “suci”. Sedangkan “ngendog” (bertelur), adalah simbol dari pahala yang didapatkan setelah sebelumnya menjadi proses suci (puasa di bulan Ramadan).

Di samping tentang semangat menjaga kesucian di bulan Ramadan dan pahala yang didapatkan setelahnya, Warak Ngendog juga menyimpan narasi tentang harmoni dan keberagaman. Warak adalah hewan imajiner atau fantasi yang menjadi simbol kerukunan berbagai macam etnis yang ada di Semarang, yakni Jawa, Tionghoa, dan Arab. Akulturasi harmonis ini tergambar dari bentuk kepala naga (Tionghoa), badan unta (Arab), dan kaki kambing (Jawa). Baik Jawa, Tionghoa, maupun Arab, merupakan etnis-etnis yang menjadi bagian dari sejarah kota Semarang.

Lewat simbol Warak Ngendog, kita menangkap pesan bahwa masyarakat Semarang bisa hidup berdampingan secara harmonis dalam kemajemukan. Semangat keberagaman inilah yang kemudian terus disuarakan setiap Tradisi Dugderan dari tahun ke tahun.

Hal tersebut juga disadari pemerintah setempat, sehingga selalu membingkai tradisi ini dalam semangat kemajemukan. Seperti pernah dikatakan Hendi Prihadi, Wali Kota Semarang, dalam momentum Dugderan tahun 2016, “Warak Ngendog merupakan gambaran perilaku “menungso ingkang becik” (manusia yang baik). Ini menjadi komitmen bahwa Semarang wajib dijaga oleh semua warganya. Perbedaan menjadikan Semarang lebih hebat” (Liputan6.com, 5/6/2016).

“Jihad” Merawat Harmoni, Menepis Benci

Tradisi Dugderan dan simbol akulturasi atau keberagaman harmonis dalam Warak Ngendog, memberi kita inspirasi semangat masyarakat untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan. Hewan mitologi Warak Ngendog yang konon sudah ada sejak zaman Pangeran Pandanaran tersebut menggambarkan adanya masyarakat yang berkembang dalam kultur keharmonisan yang kuat.

Kita pun bisa memaknai Dugderan dan Warak Ngendog sebagai salah satu bentuk upaya (jihad) masyarakat melalui tradisi untuk selalu merekatkan dan menjaga keharmonisan antar etnis.  Bahwa perbedaan tak perlu membuat kita berjarak atau bertikai. Dugderan dan Warak Ngendog seolah memberi pesan bagi siapa pun yang melihatnya bahwa perbedaan adalah anugerah yang mesti disyukuri, dijaga, dan dirayakan dalam kebembiraan bersama.

Dugderan yang menjadi penanda awal Ramadan, yang juga dihelat dengan arak-arakan Warak Ngnedog simbol akulturasi harmonis antar-etnis, adalah tradisi menarik tentang bagaimana masyarakat menyambut bulan suci dengan terus menjaga nilai-nilai persaudaraan. Dengan kata lain, ini tentang bagaimana masyarakat menepis jauh-jauh segala bentuk kebencian, sentimen negatif, dan sikap-sikap intoleran hingga radikalisme yang bisa mengganggu dan melemahkan ikatan kebersamaan yang ada.

Ramadan, bulan suci di mana umat Islam menjalankan ibadah puasa, memang sudah semestinya menjadi berkah bagi semua. Dari tradisi Dugderan, kita melihat kebaikan Ramadan yang memancar ke semua kalangan, tak hanya di kalangan umat Islam namun juga umat agama lain, sehingga kemudian tercipta kerukunan, keharmonisan, dan perdamaian. Dengan demikian, kita melihat bagaimana beragama yang menjadi rahmat bagi semua. [Al-Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!