Dua Umar: Teladan Pemimpin Adil dan Toleran

1
235

Sangkhalifah.co — Saat ini, bisa dikatakan bangsa ini sedang mengalami krisis kepemimpinan. Pemimpin ideal yang benar-benar amanah, tegas, adil dan jujur menjadi sesuatu yang langka. Media seakan tak henti mengabarkan para pemimpin atau pejabat yang ditangkap karena terlibat kasus suap dan korupsi. Sementara penegakan hukum juga masih dirasa lemah, belum mampu menciptakan rasa keadilan bagi seluruh elemen masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, menjadi penting menghadirkan contoh atau teladan para pemimpin yang ideal. Dalam sejarah Islam, kita mengenal nama Umar ibn Al-Khattab dan Umar ibn Abdul Aziz sebagai pemimpin panutan. Sejarah mencatat, keduanya merupakan contoh pemimpin yang terbukti memiliki ketegasan, adil, jujur, sehingga bisa menciptakan kesejahteraan dan keharmonisan bagi seluruh rakyatnya.

Umar ibn-Al Khattab

Nama Umar ibn al-Khathab tak hanya abadi dalam catatan sejarah Islam, namun sudah menjadi bagian dari catatan sejarah dunia. Namanya tercatat sebagai salah satu penakhluk terhebat yang pernah ada. Michael Hart mencantumkan namanya sebagai satu-satunya tokoh Muslim—selain Nabi Muhammad Saw—yang masuk dalam 100 orang paling berpengaruh sepanjang masa.

Selama pemerintahannya, khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar di masa Khulafaurrasyidin ini berhasil membawa banyak kemajuan bagi umat Islam. Selama kepemimpinannya, kesejahteraan rakyat merata berkat pengelolaan Baitul Mal yang baik. Selain itu, hal yang menonjol dari Khalifah Umar ibn al-Khattab adalah ketegasan dan kejujuran.

Di dalam buku The Great of Two Umars (Zaman: 2016) dikisahkan, pernah suatu ketika Umar ibn al-Khattab menjatuhkan vonis hukuman mati kepada seorang gubernur yang telah melakukan pelanggaran. Meski istrinya sendiri, Atikah, meminta keringanan untuk gubernur tersebut, Umar tak goyah dan tak mau diintervensi atas keputusan tersebut.

Tak hanya tegas, Umar ibn al-Khattab juga menciptakan rasa keadilan di tengah masyarakat. Hukum ditegakkan bagi semua golongan. Beliau tak segan-segan menetapkan hukuman untuk anak bangsawan, panglima, hingga gubernur yang memang terbukti bersalah. Bahkan, khalifah Umar ibn al-Khathab pernah menghukum cambuk anaknya sendiri yang minum khamar.

Selain tegas dan adil, khalifah Umar ibn al-Khattab juga menjunjung tinggi toleransi dan melindungi serta menciptakan rasa aman bagi seluruh golongan. Dalam perjanjian dengan penduduk Iliya (Yerusalem), Umar ibn al-Khattab menegaskan, “Inilah janji perlindungan keamanan dari hamba Allah, Umar Amirul Mukminin, pada penduduk Iliya, yaitu keamanan bagi diri mereka, harta benda, gereja-gereja, salib-salib, serta segala keperluan peribadatan mereka…”

Umar bin Abdul Aziz

Sekitar empat puluh tahun setelah masa-masa kejayaan muslim di bawah kepemimpinan Umar ibn al-Khathab, lahir seorang pemimpin muslim fenomenal yang juga bernama Umar. Dialah Umar bin Abdul Aziz, yang juga merupakan cicit dari Umar ibn al-Khathab. Umar bin Abdul Aziz adalah khalifah Bani Umayyah yang hanya memimpin sebentar, sekitar dua tahun lima bulan. Namun, dalam waktu yang relatif singkat tersebut ia mampu menorehkan catatan gemilang selama kepemimpinannya.

Seperti Umar ibn al-Khattab, Umar bin Abdul Aziz pun menciptakan keadilan bagi seluruh rakyat. Umar bin Abdul Aziz banyak membongkar tradisi lama yang merugikan masyarakat dan hanya menguntungkan kelompok tertentu. Begitu dilantik menjadi khalifah, Umar mengumumkan ke seluruh rakyatnya: Siapa yang memiliki hak pada gubernur atau salah seorang Bani Umayah atau pernah dizalimi oleh mereka, dipersilakan mendatangi beliau dengan membawa bukti. Alhasil, banyak orang datang membawa bukti tersebut dan Umar segera mengembalikan hak mereka seperti tanah, ladang, harta, dan lainnya (Fuad Abdurrahhman: 2016).

Umar bin Abdul Aziz juga menghapus pajak yang dibebankan ke para mawali (orang Nasrani, Yahudi, dan Majusi yang memeluk Islam). Kemudian, mengutip Edi Mulyono dalam buku Islam yang Menyenangkan (2017: 79) dalam salah satu suratnya kepada Gubernur Bashrah Ady Aibn Artha’ah, Umar bin Abdul Aziz juga memerintahkan:

“…hapuskan kewajiban bayar (jizyah) kepada ahli dzimmah (nonmuslim yang hidup dalam pemerintahan Islam) dan biarkan mereka memakmurkan bumi… Ahli dzimmah yang sudah tua, lemah, dan tak mampu lagi bekerja, beri mereka bagian dari Baitul Mal kaum muslim secara proporsional…”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz juga mampu memberi rasa aman dan perlindungan bagi semua golongan, termasuk umat agama lain. Dalam The Great of Two Umars (Zaman: 2016), diceritakan suatu ketika khalifah Umar bin Abdul Aziz mendapat laporan dari kaum Kristen dzimmi bahwa gubernur Damaskus telah merobohkan sebagian gereja Yohana demi perluasan masjid Umayyah. Mendengar laporan tersebut, khalifah Umar berkata, “Tanah gereja harus dikembalikan dan sebagian bangunan yang terlanjur dirusak harus dibangun kembali”. Hal ini menggambarkan Khaliah Umar bin Abdul Aziz tak ingin rumah Tuhan dibangun dengan melukai hati umat lain.

Umar ibn al-Khathab dan Umar bin Abdul Aziz memberi teladan dan pelajaran berharga tentang bagaimana menjadi pemimpin yang amanah. Pemimpin yang benar-benar menjadikan jabatan dan kekuasaannya untuk menciptakan keadilan, keamanan, dan kesejahteraan rakyatnya. Sebuah renungan berharga, terutama di tengah banyaknya pemimpin saat ini yang hanya menjadikan jabatan sebagai jalan mengeruk keuntungan pribadi atau kelompoknya sendiri. [Al Mahfud]

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!