Dua Tokoh Islam Ini Sindir Kelakuan Habib Rizieq Shihab

2
1200

Sangkhalifah.co — Beberapa hari terakhir, masyarakat Indonesia dihebohkan oleh aksi yang dilakukan Habib Rizieq Shihab dan para pengikutnya yang melanggar protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.

Berbagai aksi itu mulai dari kegiatan penjemputan Rizieq di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, gelaran acara Maulid Nabi di Bogor, hingga acara pernikahan putri Habib Rizieq Shihab yang dihadiri banyak tamu dari massa Front Pembela Islam (FPI).

Padahal di Indonesia tengah berkutat dalam penanganan Covid-19. Sementara Jakarta masih berstatus sebagai zona merah. Berdasarkan data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19, pada 19 November 2020 kasus aktif Covid-19 terdapat 4.798. Sehingga, angka kasus Covid-19 di Indonesia sejak Maret 2020 menjadi 484 ribu.

Sedangkan pasien Covid-19 di Indonesia yang berhasil sembuh terdapat 407 ribu dan meninggal dunia sebanyak akibat virus mematikan sejumlah 15 ribu lebih. Dengan kata lain, Indonesia belum berhasil lolos dari jeratan Covid-19, selama sembilan bulan ini.

Aksi pelanggaran protokol kesehatan yang dilakukan Rizieq Shihab itu disayangkan oleh banyak pihak. Salah satunya Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang secara tak langsung menilai tindakan Imam Besar FPI itu telah mengusik persatuan Indonesia. Lebih-lebih, kalimat yang keluar dari mulut Rizieq tak mencerminkan ajaran Nabi yang santun dan ramah.

Bahkan dengan tegas, Kiai Said mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh kelompok FPI itu sedang mencoba menganggu keutuhan bangsa. Segala macam perbuatan yang berusaha mengganggu keutuhan NKRI, kata Kiai Said, adalah musuh bersama.

BACA: Politisasi Agama Jadi Biang Aksi Intoleransi

“Apa pun atau siapa pun yang ingin melakukan hal-hal yang negatif yang mengganggu persatuan NKRI, mari kita sikapi dan kita lawan. Itu merupakan musuh bangsa, musuh bersama kita semuanya,” tegas Kiai Said, dari video yang beredar di media sosial pada 16 November lalu.

“Dari pihak mana pun atas nama apa pun, mari kita rawat kita cintai NKRI dengan semangat ukhuwah wathoniyah, solidaritas sebangsa dan setanah air,” lanjut Kiai Said.

Kiai kelahiran Cirebon ini juga meminta semua pihak tak mudah terprovokasi. Ia mengingatkan agar jangan sampai bangsa ini pecah-belah oleh sekelompok orang. Perjuangan para pendiri bangsa harus dilanjutkan agar NKRI tetap kokoh.

“Saya atas nama Ketua Umum PBNU, Ketua Umum Persahabatan Ormas-Ormas Islam, dan Ketua Umum Persahabatan Ormas Keagamaan Nasional mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.

Kemudian secara khusus, Kiai Said mengimbau umat Islam agar menjaga, merawat, dan mengawal keutuhan keselamatan NKRI dalam menyongsong usia 100 tahun.

Hal senada juga disampaikan oleh Cendekiawan Muslim, Buya Ahmad Syafi’i Maarif. Ia mengatakan bahwa rakyat Indonesia harus bersatu melawan segala bentuk kekerasan, ketidakberesan, persekusi, dan hal-hal lain yang mengusik persatuan NKRI.

“Orang yang siuman seperti kita ini jangan diam. Sebab kalau diam, yang akan marajalela mereka yang menganut teologi maut,” ujarnya dalam sebuah video yang beredar di media sosial pada 17 November 2020.

Buya Syafi’i juga menjelaskan bahwa teologi maut adalah sebuah teologi yang mengajarkan berani mati dengan tidak berani hidup. Hal tersebut adalah sebuah bentuk sikap paranoid. Ia menekankan bahwa yang terpenting saat ini adalah orang-orang normal tidak boleh acuh tak acuh dan membiarkan problematika di dunia ini yang terus berlangsung.

“Jangan diam. itu sangat berbahaya bagi Indonesia, untuk demokrasi kita dan generasi kita yang akan datang,” katanya.

Pria yang pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah ini juga tak menampik bahwa tidak ada sistem politik yang sempurna. Bahkan kata dia, sistem demokrasi bisa menciptakan orang seperti Hitler, Mussolini, dan Franco.

Begitu pula Amerika Serikat sebagai kiblat demokrasi tetap melahirkan orang-orang fenomenal yang mewarnai ketidaksempurnaan itu seperti Donald Trump.

“Orang-orang Amerika yang saya temui mereka malu menjadi warga negara Amerika, tapi itulah yang terjadi,” ujarnya.

Buya Syafi’i pun mengutip ucapan Giddens bahwa ‘Dunia Sedang Lintang Pukang’. Artinya dunia sedang dalam kondisi tak pasti. Hal itu terlihat dari arus persebaran informasi di medsos tak terkendali.

“Ini tantangan terberat tapi itulah hidup. Hidup tanpa tantangan, itu bukan hidup. Kalau takut dengan tantangan gak usah datang ke bumi,” tutupnya. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!