Divisi Humas Mabes Polri Gelar FDG Kontra Radikal di Kalimantan Barat

0
115

Sangkhalifah.co — Divisi Humas Mabes Polri menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Kontra Radikal bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat di wilayah Kota Pontianak yang dilaksanakan di aula Polresta Pontianak, Senin, (6/12/2021).

Kegiatan tersebut di buka langsung oleh Kombes. Pol. Sugeng Hadi Sutrisno selaku Kabag Anev Divisi Humas Polri yang didampingi Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol. Donny Charles Go. Ia menyampaikan kegiatan ini adalah program khusus dari Mabes Polri untuk melihat sejauh mana masyarakat memiliki daya tangkal terhadap paham-paham radikal di lingkungan masyarakat.

“Paham radikal-terorisme merupakan paham yang tidak sesuai dengan aturan dan norma hidup yang ada, dimana dalam pemahamannya terdapat suatu kebencian karena paham tersebut menganggap pihak lain salah, dan dia yang benar seluruhnya,” katanya.

Dengan berkembangnya tekonologi informasi yang begitu pesat, ia menilai saat ini perkambangan paham radikal sangat cepat berkembang, oleh sebab itu ia mengimbau kepada masyarakat lebih berhati – hati dan harus memiliki daya tangkal dalam dirinya.

“Bila masyarakat memiliki daya tangkal, maka paham radikal-terorisme ini bisa tidak masuk, bila mana ada paham-paham yang tidak sesuai ajaran dan norma yang ada ini harus segera disampaikan kepada kita,” tutur Kabag Anev Divisi Humas Polri.

Pada kegiatan ini pihak kepolisian menghadirkan Pengurus Harian BPET MUI (Badan Penanggulangan Ekstrimis dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia) Pusat, Muhammad Makmum Rasyid. Menurutnya radikal-terorisme menjadi tugas kita bersama dalam mencegah dan menanggulanginya.

“Dalam kehidupan bernegara khususnya di Indonesia yang multi etnis dan multi agama, sebagai warga harus memiliki rasa saling menghargai, tenggang rasa dan empati terhadap sesama. Sebab itu, segala upaya pemecah belah bangsa dan negara harus kita tangkal secara bersama-sama,” pungkasnya.

Makmun Rasyid melanjutkan bahwa Kalimantan Barat ini sebagai sebuah tempat yang dihuni oleh ragam suku dan etnis harus dikelola dengan baik. Jangan sampai tercipta konflik kemudian diikuti dengan sentimen keagamaan.

“Kita harus memberikan ruang untuk perbedaan, tapi jangan sampai perbedaan menjadikan pertikaian. Apalagi pertikaian yang distempel oleh agama,” tutupnya. []

Leave a reply

error: Content is protected !!