Director Film JKDN Batal Hadir Diskusi, Prof Oman: Tidak Ada Jejak Khilafah di Nusantara

2
6118

Sangkhalifah.co — Diretor Film Jejak Khilafah di Nusantara Nicko Pandawa membatalkan hadir dalam diskusi virtual bertajuk ‘Khilafah di Nusantara, Benarkah ada Jejaknya?’ di Kanal Youtube Historia.ID bersama Pemimpin Redaksi Historia Bonnie Triyana. Semula, Nicko akan diperhadapkan dengan Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Oman Fathurahman.

Akademisi yang akrab disapa Kang Oman itu mengaku sudah membaca tuntas hasil penelitian Nicko Pandawa. Nicko sendiri adalah mahasiswa Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta.

“Saya terus terang sudah membaca penelitian Nicko karena kebetulan dia adalah mahasiswa saya juga di UIN Syarif Hidayatullah,” kata Kang Oman, Selasa (25/8).

Ia menegaskan bahwa kesultanan-kesultanan yang ada di Nusantara tidak sama sekali menjadi bagian dari sistem pemerintahan khilafah di Turki. Kang Oman sudah melakukan kajian sejumlah manuskrip dari Aceh, Palembang, Jawa, dan Cirebon.

“Manuskrip-manuskrip itu tidak mengindikasikan sama sekali bahwa kesultanan di Nusantara adalah bagian dari Khilafah Utsmani pada saat itu,” tegas Kang Oman.

Namun, ia mengutip pernyataan Profesor Azyumardi Azra dalam buku ‘Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII’ memang ada jejak hubungan diplomatik antara kesultanan Islam di Nusantara dengan khilafah utsmani.

“Tapi itu hanya sebatas hubungan diplomatik. Bukan kemudian kesultanan Islam di Nusantara menjadi bagian dari khilafah di sana,” tegas Alumni Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat ini.

Kalaupun ada hubungan diplomatik, tambah Kang Oman, pertanyaannya kemudian apakah dinasti utsmani itu bisa dianggap sebagai ideologi khilafah dalam Islam? Menurutnya, untuk menjawab pertanyaan tersebut membutuhkan perdebatan yang panjang.

“Sebagian mengatakan yang disebut sebagai khilafah itu adalah yang benar-benar manhaj nabawiyah. Yakni yang ada pada masa Khulafaur Rasyidin. Bahkan dari keempat pemimpin itu saja, yang pemilihannya berdasarkan musyawarah adalah Abu Bakar dan Umar,” jelas Kang Oman.

Ketika Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali, proses pemilihannya tidak lagi melalui musyawarah, melainkan terjadi pertumpahan darah. Lebih-lebih jika sudah memasuki masa dinasti Muawiyah-Abbasiyah yang sarat dengan pertempuran perebutan kekuasaan.

“Jadi kalau yang dimaksud khilafah itu adalah sistem pemerintahan dan kita adalah bagian dari sistem pemerintahan dinasti utsmani, saya kira tidak. Tapi kalau ingin menyebutnya bahwa Nusantara ini punya jejak-jejak peradaban Islam dari Turki, Mesir, Timur Tengah, itu sangat ada,” jelasnya.

Staf Ahli Menteri Agama ini juga pernah menulis tentang hubungan Aceh dengan Turki Utsmani karena salah seorang murid dari Syekh Abdurrauf Singkel, yakni Syekh Baba Daud Rumi, pernah melanjutkan menulis Tafsir Melayu Turjuman Al-Mustafid.

“Tapi itu pun juga tidak dalam konteks sistem pemerintahan,” pungkasnya. []

2 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!