Dilema Agama di Era Internet

1
839

Sangkhalifah.co — Tidak bisa dipungkiri, internet telah merevolusi masyarakat dunia sejak awal milineum ketiga. Kekuatan internet terletak pada kecepatannya menyampaikan informasi, daya jangkauanya yang hampir tak terbatas, cara penggunaannya yang mudah dan biaya pemanfaatannya murah. Menurut data di laman Kominfo secara keseluruhan, jumlah pengguna internet di seluruh dunia diproyeksikan bakal mencapai 3 miliar orang pada 2015. Tiga tahun setelahnya, pada 2018, diperkirakan sebanyak 3,6 miliar manusia di bumi bakal mengakses internet setidaknya sekali tiap satu bulan Jumlah pengguna internet akan bertambah terus seiring pembangunan infrastruktur dan jaringan.

Dengan internet, pekerjaan manusia menjadi lebih mudah dan cepat diselesaikan. Pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan fisik, kini bisa dikerjakan tanpa harus tatap muka. Cara manusia bekerja berubah. Selain itu, muncul jenis-jenis pekerjaan baru yang membuka lapangan pekerjaan baru seperti web designer (desainer web), web developer (pengembang web, desainer grafis, blogger professional, penerjemah buku, penerjemah dokumen, penulis artikel untuk konten web, editor online dan lain sebagainya.

Sebagai buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi, internet bersifat netral dan bebas nilai. Internet tidak mempunyai agama dan ideologi tertentu. Tujuan pemanfaatan internet sangat ditentukan oleh penggunanya. Sebab, pengguna internet menganut, agama, ideologi, kecenderungan, kepentingan, dan nilai-nilai tertentu. Wajar, bisa bila internet membawa dampak positif dan negatif.
Hubungan agama dan internet sulit dipisahkan. Memang, tidak semua umat beragama mengakses internet dalam urusan keagamaan mereka, akan tetapi agama yang dimediatisasi melalui internet menjadi arus baru yang semakin membesar yang hampir mustahil bisa dihindari. Internet menjadi media penting bagi komunikasi sesama umat beragama. Internet juga menjadi alat penyebaran paham-paham keagamaan, membangun jaringan komunitas-komunitas berbasis agama dan sarana rekrutmen.

Dalam perspektif Piere Bourdieu, internet adalah habitus dan arena baru dalam segala bidang kehidupan termasuk bidang keagamaan. Haryatmoko menjelaskan, habitus adalah kerangka penafsiran dan menilai realitas dan sekaligus penghasil praktik-praktik kehidupan yang sesuai dengan struktur-struktur objektif. Kedua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Habitus menjadi dasar kepribadian individu. Pembentukan dan berfungsinya habitus sangat memperhitungkan hasil dari keteraturan perilaku dan modalitas praktiknya mengandalkan pada improvisasi dan bukan pada kepatuhan pada aturan-aturan. Jadi, ada dua gerak timbal balik, pertama struktur objektif yang dibatinkan; Kedua gerak subjektif (persepsi, pengelompokkan, evaluasi) yang menyingkap hasil pembatinan berupa nilai-nilai. (Haryatmoko, 2016).

Mediatisasi agama mengubah kepada pola interaksi hubungan agamawan dan umatnya. Peran agamawan sebagai pemilik, penyimpan, penjelas, penyebar dan pengendali ilmu pengetahuan agama menjadi terbagi-bagi kepada orang-orang awam tanpa bisa dikendali. Ilmu pengetahuan bukan lagi monopoli agamawan. Dengan internet orang awam bisa menyimpan, menjelaskan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Orang awam merasa punya hak, kewajiban dan otoritas yang sama dengan agamawan.

Agamawan yang tidak siap menghadapi kenyataan ini, emosi, merasa ilmu dan kedudukannya tidak dihargai. Lalu mereka menarik diri dari media-media yang terkoneksi dengan internet. Mereka merasa, menyebarkan ilmu agama di internet, sama saja dengan merendahkan agama dan kedudukan mereka karena orang-orang pun bisa melakukan hal yang sama, tanpa harus melalui proses yang lama dan panjang untuk menjadi agamawan. Padahal penghormatan terhadap ilmu agama dan agamawan syarat pertama dan utama bagi orang awam yang ingin belajar ilmu pengetahuan agama. Oleh sebab itu, mereka frustasi dan menganggap tidak ada manfaatnya menyampaikan ilmu di dunia maya.

Di sisi lain, kelompok-kelompok radikal sangat antusias memanfaatkan internet untuk menyebarkan paham mereka. Pada umumnya, mereka tergolong orang-orang yang awam dalam ilmu pengetahuan agama. Radikalisme dan lahirnya komunitas-komunitas hijrah beraliran radikal efek lain dari internet. Mereka membentuk jaringan-jaringan komunitas. Kebanyakan diikuti oleh kelas menengah atas dan figur publik (artis, bankir, jenderal, pejabat, selebritis) yang meninggalkan profesi lamanya menuju kehidupan baru sebagai muslim yang salih. Orang-orang awam kemudian mengikutinya. Mereka membuat komunitas-komunitas hijrah sebagai wadah silaturahmi, saling menguat diri dan belajar ilmu-ilmu agama.

Kepentingan kelompok radikal terhadap internet bersifat ideologis, bukan kepentingan ilmiah. Mereka menciptakan suasana radikal di media-media yang terkoneksi dengan internet, tanpa peduli akan akurasi dan validasi konten dan narasi yang mereka sebar. Hal ini berbanding lurus dengan antusiasme warganet terhadap agama. Fenomena antusias terhadap sesuatu yang sedang viral tanpa pengetahuan yang akurat dan valid ditandai dengan sikap enggan melakukan konfirmasi terhadap suatu informasi karena merasa sudah cukup tahu. Walau hoaks sekalipun.

Akhirnya, harapan agar internet menjadi “public sphere” seperti yang digambarkan oleh Habermas (1991) yaitu suatu area dalam kehidupan sosial di mana individu dapat secara bebas mendiskusikan dan mengidentifikasikan masalah-masalah sosial, dan melalui diskusi tersebut dapat mempengaruhi tindakan politik (Alimi, 2018) dan keagamaan, tidak tercapai. Alih-alih menjadi media pencerahan umat beragama dan tercipta umat beragama yang shalih dan rukun, mediatisasi agama melalui internet malah membawa masalah baru berupa radikalisme dan benturan antar umat beragama dan sesama agama.[]

*Ayik Heriansyah, Penulis Buku “Dosakah Menjadi Indonesia? Eks HTI Menjawab”

Leave a reply

error: Content is protected !!