Dear Felix: Kembalilah Ke Pangkuan Ibu Pertiwi

3
853

Sangkhalifah.co — Suatu hari saya di-chat oleh Felix Siauw pasca artikel berjudul “Baim Wong, Khilafaters dan Perorganisasian” tayang di media ini. Tak ada kekesalan yang tampak dari chat-nya kepada saya. Sebab, artikel itu menjadi yang pertama kali saya mengkritik secara tertulis kepadanya. Sebagai seorang teman, saya berharap bahwa Felix tetap menjadi motivator yang baik namun berlepas diri menjadi bagian penegakan Khilafah Tahririyah di Indonesia. Sebab, doktrin Khilafah Tahririyah itu akan menghapus tatanan yang mapan, yang telah disepakati bersama sebelum Hizbut Tahrir Indonesia ada di bumi pertiwi.

Kekesalan Felix tampak ketika saya menjadi saksi atas pelaporan Juru Bicara HTI Ismail Yusanto oleh Ayik Heriansyah. Felix menuliskan chat kepada saya, “dari muslim ke muslim lainnya, hanya nasihat, walau saya nggak berharap, hanya menyelesaikan kewajiban. Hati-hati atas kedzaliman yang nggak disadari, apalagi disengaja. Bukan hanya antum yang punya doa, orang lain juga bisa. Bertakwa pada Allah, semoga Allah mengampuni antum dan saya. Saya nggak melihat ada niatan baik dari antum untuk negeri, apatah lagi untuk Islam. semoga saya salah, barakallahu fiikum.”

Saya pun menjawab, “Semuanya sesuai dengan perspektif dan pandangan masing-masing, ustadh. Taat kepada aturan negara merupakan bagian dari ajaran Islam pula. Terkadang tulisan tidak bisa memberitahukan yang bersangkutan dan tetap pada pendiriannya, maka yang bersangkutan pun harus siap pada konsekuensi yang ada. Saya, ketika diminta menjadi saksi, di samping telah mempertimbangkan ragam aspek, baik keagamaan dan kenegaraan, dan sesuai dengan kompetensi saya di ranah akademik.”

Adalah Felix Yanwar Siauw yang lahir di Palembang Sumatra Selatan pada tahun 1984. Ia menjadi seorang muallaf pada tahun 2002, yang sebelumnya seorang Katolik. Felix mempelajari Islam melalui aktivis HTI, kala itu di Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Seandainya Felix belajar Islam tidak melalui aktivis-aktivis HTI, tentunya dia akan menjadi seorang super dahsyat. Mengapa? Pembekalan keilmuan, baik yang bersifat agama maupun negara, di dalam HTI dengan di ormas seperti NU dan Muhammadiyah akan berbeda 180 derajat. Ibarat menulis karya ilmiah, belajar di HTI seseorang telah disodori kesimpulan terlebih dahulu. Kemudian barulah mencari sebab-sebab mengapa kesimpulannya harus Khilafah Tahririyah—sebuah tawaran sistem yang cocok dibandingkan Khilafah Islamiyah yang dipahami mayoritas kaum Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Felix bukanlah orang berbahaya yang mesti kita takuti tapi harus kita ayomi. Bagaimana agar Felix kembali ke pangkuan bumi pertiwi dan setia pada Pancasila. Di dalam keluhuran Pancasila, pada tata laksananya memang masih belum signifikan. Disinilah tugas kita bersama-sama mewujudkannya. Dan bukan membongkar sangkarnya. Felix hanyalah terbuai oleh siraman rohani dan ragam janji yang diberitakan elit-elit HTI tentang kejayaan jika sistem Khilafah Tahririyah yang ditawarkan Hizbut Tahrir Indonesia tegak. Felix tidak menyadari bahwa sesungguhnya, tawaran itu bukanlah murni dari Allah sekalipun landasannya dari Islam. Dimana antara landasan dan penafsiran memiliki jarak kesucian dan kebenaran. Maka menerima apa yang diberitakan elit HTI sebagai kebenaran yang nomor satu dalam Islam—saya tidak menggunakan “mutlak” karena ini milik-Nya—merupakan kesalahan yang fatal dalam beragama.

Di luar HTI, mayoritas Muslim bukan berperan sebagai seseorang yang menutupi dalil-dalil Khilafah Islamiyah. Namun perbedaan penafsiran sudah ada sebelum HT/HTI hadir di muka bumi ini. Felix harus menyadari bahwa lahirnya HT karena persoalan politik-ekonomi yang berkembang kala itu. maka Taqiyuddin Al-Nabhani membentuk perkumpulan dengan orang-orang yang dulunya tergabung dalam Ikhwanul Muslimin dalam rangka “mengamuk” atas kondisi sosio-politik yang mengitarinya. Dan teks-teks agama yang mendukung gerakannya dijadikan sarana menarik perhatian orang lain. Lahirlah seperti teks “siapa yang tidak menegakkan khalifah (satu untuk seluruh dunia, pen) maka akan berdosa” dan lain sebagainya. Ini bukan perkara baru dalam dunia Islam, Sayyid Qutb dkk telah mendahuluinya bahkan sejak Partai Ba’ath yang berfungsi sebagai partai pan-Arab dengan cabang di beberapa negara Arab. Partai ini berideologikan Nasionaliem, Sosialisme dan Sekularisme. Kemudian aktivis-aktivis mereka melakukan kudeta di Irak kala itu.

Dengan model yang sama dan asal muasal terbentuknya, mustahil bagi HT/HTI mampu mengambil alih sebuah kepemimpinan jika tidak melakukan kudeta. Mungkin Felix dkk bisa berkilah, di Indonesia itu tidak pernah terjadi. Tapi aktivis-aktivis HT di luar Indonesia telah melakukan seperti yang dilakukan Partai Ba’ath di negara-negara tempat mereka berkembang biak. Saya memberitahukan ini karena informasi soal kudeta dan keterlibatan aktivis HT tidak saja dari dalam negeri, tapi luar negeri, disamping referensi-referensi otoritatif yang tersebar dan saya miliki.

Daer Felix… saya berharap Anda tidak terus menerus memperjuangkan kepentingan politik global yang diperintahkan amir tertinggi. Mungkin Anda bertanya, apa salahnya memperjuangkan Khilafah di Indonesia? jelas salah. Penerimaan nation-state dan konsensus Pancasila yang secara otomatis akan sirna manakala Khilafah versi HTI tegak. Sekarang ini baru gejolak dan penolakan yang bersifat wajar. Namun jika indikasi HTI sudah terbaca oleh pemerintah untuk menggulingkan pemerintahan yang sah, maka gejolak itu akan sangat dahsyat.

Ajakan kembalinya Anda ke pangkuan ibu pertiwi bukan sebab saya benci HTI apalagi anti-Islam. Jelas dalil agamanya, kita tidak boleh menaruh benci pada sesama dan orang lain. Namun marilah beragama dan bernegara yang menganut mazhab mayoritas. Ibarat mangkuk saat terisi bakso, dan baksonya tidak enak maka baksonya yang kita buang bukan mangkuknya. Dan bersama mayoritas kita akan terjaga dari ragam kesalahan yang memiliki mafsadah besar. Di saat Anda bersama kami dan keluar dari perkumpulan HTI, Anda akan disambut oleh banyak orang melebihi pengikut Anda saat ini di HTI. Mungkin Anda berdalih, tujuan syiar bukan sebab itu dan mungkin akan menggunakan dalil sewaktu Nabi berdakwah. Tapi harapan saya, potensi terbaik Anda dalam mendidik umat akan memiliki jangkauan yang lebih luas dan leluasa jika keluar dari HTI. Anda akan disambut penuh kecintaan dan kemesraan. Bersambung []

https://www.youtube.com/watch?v=kx_3KjzsUHI

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!