Darimana Datangnya Ekstremisme Dalam Islam?

5
595

Sangkhalifah.co — Dalam kitabnya, Fi Dzilal al-Qur’an, Sayyid Qutb sangat gemar membahas tentang konsep Jahiliyah, atau kebodohan. Jumlah kata “jahiliyah” ada 1740 kali, sementara kata “nur”, atau cahaya, disebut 430 kali. Ini sekedar indikasi bahwa kata “jahiliyah” sangat mendominasi pemikiran Sayyid Qutb. Dalam kitab itu, ia mencampur-adukkan antara akidah dengan fikih (juga akhlak di dalamnya), yang pada akhirnya berujung terhadap “hakimiyah” – penghakiman kekafiran terhadap orang lain yang tak sepaham, yang menjadi konsep dasar dari semua pemikiran Sayyid Qutb.

Akidah adalah persoalan hati, sedang amal perbuatan tidak termasuk di dalamnya. Jika berbuat maksiyat dan pelanggaran syariat lainnya, menurut Sayyid Qutb: Anda telah menjadi Kafir. Ia menyebutkan bahwa; “masalah “tasyri” (pensyariatan) adalah masalah “hakimiyah”, dan hakimiyah adalah masalah iman; masalah agama dan akidah.” (Fi Dzilal al-Qur’an, Vol 3, hal 1205 dan 1235).

Semua itu berawal dari sana. Sayyid Qutb menterjemahkan surah Al-Maidah ayat 44; “Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang kafir.” Ayat ini yang menjadi rujukan awal, bahwa semua pemerintahan non Islam di seluruh dunia adalah pemerintahan kafir yang harus diperangi. Dan masyarakat yang berdiam di dalamnya adalah kaum Jahiliyah. Sayyid Qutb menafsirkan sendiri ayat tersebut, sehingga Al-Qur’an kehilangan “maqashid” (tujuan) syariatnya. Sementara ratusan ulama lainnya berpendapat berbeda, termasuk Ibnu Mas’udi dan Fakhruddin al-Razi. Bahkan Imam Ghazali mengatakan; kafir adalah tidak berhukum kepada Allah karena mendustakan dan memerangi hukum tersebut. (Al-Mustashfa, hal 168).

Pemikiran Sayyid Qutb tentang konsep “hakimiyah” ini sebenarnya diambil dari Abu ‘Ala al-Maududi, yang lalu dikembangkan melalui teori anjuran “takfir” (pengafiran). Konsep inilah kemudian yang dipakai oleh Hasan al-Banna dalam karyanya “Risalah al-Mu’tamar al-Khamis” dan melahirkan nalar pemikiran melalui organisasi Ikhwanul Muslimin secara utuh. Kelak, yurisprudensi inilah yang membangun militansi Islam yang brutal; membangkitkan ekstrimisme dan terorisme dalam dunia Islam.

Pemikiran “hakimiyah” takfiri dari Sayyid Qutb seperti meniupkan api ke tumpukan sekam. Saleh Sariyah dalam kitabnya “Risalah al-Iman”, mengajak semua orang untuk mengafirkan pemerintah dimanapun yang tidak menggunakan hukum Islam. Melabelnya sebagai “thoghut” (melawan perintah Allah), menjadikan wilayahnya sebagai “dar harb” (wilayah perang), dan menganggap rakyat yang berdiam di dalamnya adalah kaum jahiliyah yang halal darahnya.

Konsep itu disebarkan melalui organisasi bawah tanah dan diserukan dalam berbagai manifesto. Abu Muhammad al-Maqdisi dan Abu Mus’ab al-Zurqani mengeluarkan banyak buku untuk menularkan pemikiran radikal itu. Konsep “takfiri” menyebar tak terkendali seiring dengan mundurnya lembaga keilmuan besar, seperti Al-Azhar, Al-Qarawiyin, termasuk juga pesantren yang sejatinya mengajarkan ilmu-ilmu yang lebih otentik (Turats). Paham Takfiri juga mendompleng gerakan-gerakan yang mengaku sebagai revivalis Islam—menyebar ke seluruh dunia Islam dengan siraman uang dari negara-negara penghasil minyak.

Al-Qaeda, ISIS maupun Taliban, adalah pengusung faham Takfiri yang membangun militansi perlawanan terhadap negara-negara “thoghut” itu tadi. Kondisi ini dimanfaatkan oleh berbagai pihak sebagai alat bentur sosial dan politik antar umat, dengan doktrin; supaya tidak menjadi bagian dari masyarakat jahiliyah, maka rakyat harus memberontak. Memaksa untuk membangun pemerintahan Islam dan melawan demokrasi yang dianggap konsep kafir – baik dengan cara perang maupun propaganda ideologi secara diam-diam.

Banyak negara mengalami kecamuk akibat benturan pemikiran ini; Suriah, Mesir dan Libya. Di Afrika ada Somalia, Nigeria dan Republik Afrika Tengah. Di Asia Selatan ada Afghanistan, Pakistan dan Sri Lanka. Filipina sedang diterpa oleh gerakan ini yang mengarah kepada separatisme, sebagian juga menyebar di negara kita.

Konsep “takfiri” lalu dimanfaatkan oleh kepentingan ekonomi dan politik global agar terbentuk Islamofobia. Agama diarahkan menjadi mesin perang, bukan lagi juru damai. Semua ini akibat berangkat dari pola pikir yang sama; “yang paling benar hanya saya, yang berbeda adalah kafir ahli neraka”. Dan konsep begini, sudah marak di sekitar kita. []

*Islam Bahrawi, Penikmat/Pembaca Buku

5 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!