Dari Makassar Ke Trunojoyo

0
339

Sangkhalifah.co — Setelah serangan masjid di Selandia Baru, ditemukan adanya faktor psikologis—selain ideologis—yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan teror dan kekerasan massal. Kemajuan teknologi dalam mempermudah penyebaran propaganda ekstremisme lalu menambah runyam semuanya.

Pakar radikalisme, Brian Jenkins menulis: “Teroris ingin banyak orang menonton, bukan banyak orang yang mati. Karena mereka menginginkan dampak publisitas sesuai dengan propaganda mereka. Media sosial dan Internet sangat memungkinkan publik untuk menontonnya”. Artinya, dunia teror akan menjadi panggung yang semakin memicu eksibisi bagi kelompok teroris di masa depan.

Arie Kruglanski penulis buku The Three Pillars of Radicalization merinci soal ini. Menurutnya, ada banyak motivasi teror yang dilakukan manusia: pemujaan dan kesetiaan berlebih terhadap pemimpin, motivasi religius, bahkan ego-feminisme yang sekedar ingin menunjukkan bahwa wanita juga bisa melakukan aksi yang selama ini didominasi laki-laki. Tapi yang mendasari semua motivasi ini adalah kebutuhan universal manusia untuk memiliki makna. Hampir semua manusia ingin diperhatikan, ingin ditonton. Kebanyakan orang ingin mencapai dominasinya melalui cara yang dapat diterima secara sosial.

Perkelahian dan kekerasan yang cenderung menarik bagi kaum muda akan menjadi komoditas utama. Ini adalah primordial universal, sarana untuk mendapatkan makna. Begitulah cara hewan mendapatkan makna. Begitu juga dengan cara anak muda menyelesaikan konflik mereka. Begitu juga cara kelompok tertentu untuk mendapatkan “kedigdayaan” dengan metode kekerasannya. Ini soal propaganda dan publikasi dengan memanfaatkan dunia digital.

Bom Katedral Makasar dan teror di Mabes Polri adalah masa transisi itu. Dari cara konvensional ke cara digital. Mereka tidak peduli soal jumlah korban, atau adanya perubahan revolusioner setelah teror dilakukan. Dalam ajaran agama yang diselewengkan, tujuan mereka hanya ingin menuju surga dan aksinya bisa mempengaruhi orang lain untuk berbuat yang sama. “Self radicalization” harus kita waspadai di masa depan. Peran keluarga dan lingkungan menjadi sangat penting dalam mencegah semua ini. []

*Islah Bahrawi, Pegiat Media Sosial

Leave a reply

error: Content is protected !!