Cinta Tanah Air Bagian Dari Syari’at Islam

0
121

Sangkhalifah.co — Tanah air menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah negeri tempat kelahiran. Sementara dalam bahasa Arab tanah air biasa diungkapkan dengan kataاwathan (الوطن) yang menurut kamus Lisan al-Arab berarti tempat manusia menetap. Membincang tanah air memang sedari belia manusia telah ditanami rasa cinta pada tanah kelahiran. Cinta tanah air merupakan fitrah yang tersimpan di hati manusia.

Sebab itu sepanjang usia pula kita warga negara Indonesia telah diajari bagaimana memupuk serta merawat rasa cinta pada tanah kelahiran agar tetap tumbuh subur dalam sanubari. Tidak ada yang mempersalahkannya apalagi membenturkan cinta tanah air dengan agama.

Sampai datang kelompok asing yang hendak merusak rasa cinta masyarakat Indonesia pada tanah airnya. Kelompok ini menamai dirinya Hizbut Tahrir Indonesia, tanpa rasa malu mereka menyatakan cinta tanah air atau biasa disebut dengan nasionalisme adalah racun. Bahkan sampai tersiar kabar salah satu tokoh dari kelompok ini berujar nasionalisme bukanlah ajaran Nabi, tidak ada dalilnya.

Entah dari mana inspirasi tokoh ini sampai berani menyatakan cinta tanah air tidak ada dalilnya. Padahal dalam kitab-kitab hadis, kitab yang memuat ucapan, perilaku, persetujuan, dan sifat nabi banyak sekali termuat berbagai ekspresi Nabi yang mencintai tanah airnya.  Berikut kami hadirkan teks hadis yang menggambarkan betapa Nabi mencintai tanah airnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ وَقَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْحَزْوَرَةِ فَقَالَ عَلِمْتُ أَنَّكِ خَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ الْأَرْضِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنَّ أَهْلَكِ أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di atas Hazwarah bertempat di Makkah seraya bersabda: “Aku tahu, kamu adalah tanah Allah yang terbaik dan paling dicintai Allah. Kalau bukan karena pendudukmu telah mengusirku, maka aku tidak akan keluar.” (H.R. Ahmad)

Dalam hadis ini dikatakan Makkah merupakan tanah yang paling dicintai Allah. Sesuatu yang amat dicintai Allah tentu dicintai juga oleh Rasul-Nya. Terbukti dari sabda Nabi yang sebenarnya tak menginginkan dia terusir dari tanah kelahirannya. Hadis ini sekaligus menjadi bukti bahwa memang mencintai tanah air merupakan fitrah manusia Nabi Muhammad yang merupakan manusia tak terhindarkan dari kecintaan ini.

Pada riwayat lain, Nabi juga mencintai Madinah tempat di mana ia tinggal dan tempat di mana Islam tumbuh berkembang dengan pesat. Kecintaan Nabi pada Madinah ini terekam dengan cukup detail dalam kitab yang dianggap paling shahih menurut umat Islam setelah al-Quran, yakni shahih Bukhari :

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا

Dari  Anas radhiyallahu ‘anhu berkata; Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila pulang dari bepergian dan melihat dataran tinggi kota Madinah, Beliau mempercepat jalan unta Beliau dan bila menunggang hewan lain Beliau memacunya karena kecintaannya (kepada Madinah). (H.R. Bukhari)

Amat jelas bagaimana hadis ini menggambarkan ekspresi kecintaan Nabi pada kota Madinah yang merupakan tempat Nabi bersujud, berdakwah, berbaring. Lebih jauh Ibn Hajar Al-Asqalani mengomentari hadis ini dengan redaksi berikut :

الحديث دلالة على فضل المدينة، وعلى مشروعية حب الوطن والحنين إليه

Hadis ini menjadi dalil keutamaan Madinah dan dalil pensyari’atan cinta serta menyayangi tanah air.

Dari komentar Ibn Hajar dapat kita simpulkan bahwa cinta tanah air tidak hanya sekadar fitrah manusia, melainkan cinta tanah air adalah syariat! Dengan adanya religiusitas dan nasionalisme dalam hati seseorang, hampir dapat dipastikan negaranya atau tanah airnya akan sangat sulit diporak-porandakan kekuatan asing. Kehancuran negara-negara Timur Tengah cukuplah menjadi peringatan bahwa religiusitas tanpa diiringi nasionalisme akan menimbulkan kerentanan kekacauan negara.

Maka dari itu, ulama Indonesia itu komplit selain memiliki jiwa religius juga memiliki jiwa nasionalis yang tinggi. Terbukti, sampai sekarang Indonesia yang sedikit banyaknya terbentuk karena jasa ulama agamis-nasionalis sulit dihancurkan oleh pihak lain. []

Leave a reply

error: Content is protected !!