Cerita Kebiadaban FPI: Memukul dan Merugikan Orang Lain

0
1077

Sangkhalifah.co — Mantan Anggota Front Pembela Islam (FPI) asal Nagroe Aceh Darussalam (NAD) Teuku Rifaldi Putra, menceritakan pengalamannya selama mengikuti berbagai aktivitas FPI sejak 2015, saat ia sedang nyantri di Pondok Pesantren Dayah Istiqamatuddin.

Pada setengah perjalanan di pondok pesantren itu, Aldi tertarik dengan FPI. Menurut pandangannya ketika itu, ormas Islam yang identik dengan seragam putih ini sangat luar biasa dalam memberantas maksiat dengan tegas, terutama di Aceh, di tanah kelahirannya sendiri.

Ia mulai aktif sebagai pengurus FPI pada sekira akhir 2015 atau awal 2016. Aldi diangkat sebagai Sekretaris Dewan Tanfidzi DPD FPI Nangroe Aceh Darussalam yang berkantor di Lhokseumawe, Pimpinan Tgk Muslim At-Tahiri.

Namun, jabatannya tak mendapat SK karena ia sempat keluar tidak mengikuti pelantikan atau baiat suci. “Jadi saya dianggap hanya sebagai mata-mata dan dikeluarkan dari grup,” ucapnya, dikuti Media Sang Khalifah dari Kanal Youtube NU Isme, pada Senin (23/11).

Menurutnya, ajaran FPI adalah Ahlussunnah wal Jamaah karena menjadi pengikut dari Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Namun selama di FPI, Aldi merasakan banyak pergolakan di hati dan benturan pada pikirannya.

“Hati dan pikiran saya tidak sinkron,” katanya.

Baca: Politisasi Agama Jadi Biang Aksi Intoleransi

Salah satunya, Aldi menceritakan saat dirinya turut serta membersamai para laskar FPI di Aceh untuk membubarkan acara tahun baru masehi 2017. Menggunakan sarung putih, baju putih, serta rompi yang menjadi ciri dari FPI, Aldi ikut membasmi kemaksiatan ketika itu.

“Di situ saya melihat, mereka membubarkannya ada banyak kekerasan dan pemukulan kepada para peserta yang ada di lokasi, di Waduk Lhokseumawe. Orang-orang di sana dipukul, digertak, ditempeleng oleh para laskar FPI,” kata Aldi.

Tak hanya sampai di situ, Aldi juga menceritakan soal kejadian mengenaskan yang lain. Kali ini, membuat hatinya gundah. Ia pernah ikut pula bersama para laskar mendatangi salah satu kafe yang sedang ada karaoke. Di dalamnya, laki-laki dan perempuan saling berkumpul.

Ketika masuk para laskar, semua orang yang ada di dalam kafe berlarian tunggang-langgang menghindari kebiadaban laskar FPI yang datang untuk mengusir. Namun, hal yang membuat Aldi sedih adalah ketika ia melihat seorang ibu pemilik hape.

Dengan perasaan yang sangat sedih, ibu-ibu itu berteriak, “Jangan diusir, jangan diusir. Mereka belum bayar, rugi aku.”

“Saya kalau teringat ibu itu, jadi sedih. Saya sudah tak jumpa lagi sampai hari ini. Kalau jumpa saya ingin minta maaf. Saya disitu melihat, kok kita bergerak atas nama agama memberantas kemunkaran, justru malah menimbulkan kemunkaran dan kerugian bagi orang lain,” kenang Aldi, haru.

Di beberapa titik di Aceh, Aldi pun melihat kebiadaban FPI yang lain. Misalnya terjadi pemukulan terhadap perempuan yang bonceng tiga di atas motor. Tak hanya, orang yang sedang pacaran, juga pasti terkena pukul dari FPI.

“Tapi jangan salah, pemukulan ini tidak ada instruksi dari pimpinan. Ketika sudah ada di lapangan, adrenalin para laskar ini semacam terpacu. Nah ketika terjadi pemukulan terhadap perempuan, anak gadis, dan orang pacarana, alhamdulillah saya masih punya nurani,” kata Aldi.

“Nurani saya berkata begini, Ya Allah saya bergerak atas nama Islam, tapi kenapa saya merusak nama Islam dengan terjadi hal-hal demikian?” lanjutnya.

Baca: Fenomena Dakwah Yang Mengajak Pemberontakan

Saat membicarakan pengalamannya ini, Aldi benar-benar memasrahkan diri kepada Allah karena ia bicara soal kebenaran. Ia tidak takut jika kelak laskar FPI menggerebek rumahnya. Kali ini, katanya, pasti akan dilawan.

“Saya lawan bukan berarti saya pukul, tapi saya lawan dengan hukum. Karena negara kita adalah negara hukum,” ungkapnya.

Pengalaman Mantan HTI

Sementara itu, Mantan Anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ayik Heriansyah ikut bercerita soal pengalaman buruk masa lalunya. Ia sengaja menceritakan pengalaman buruk di masa lalu agar orang lain tidak sampai mengikuti jejaknya.

Selain itu, Ayik juga berharap agar orang-orang yang sedang mengalami pengalaman buruk menjadi seorang radikal, segera bertobat. Menurut Ayik, orang yang terpapar paham radikal sedang bermasalah pada wawasan keagamaan yang minim.

“Dan mereka mengalami kesulitan dalam mengaktualisasikan atau mengontekstualisasikan ajaran agama Islam,” ungkap Ayik.

“Saya tidak menemukan tempat untuk melakukan aktualisasi dan kontekstualisasi dari ajaran Islam yang saya pelajari. Artinya, dari sisi pengetahuan agama, saya tidak awam-awam banget. Namun kendalanya, bagaimana saya mengamalkan agama ini,” imbuhnya.

Ia mencontohkan, di NU tidak ada sama sekali masalah dalam hal beribadah. Nahdliyin, soal ibadah tidak akan mungkin beralih ke kelompok lain. Akan tetapi, hal yang rawan itu adalah persoalan ideologi dan siyasah.

“Jadi orang-orang NU yang terpapar paham radikal itu karena mereka tidak bisa atau tidak memiliki basis pemahaman ideologi politik yang kuat dari NU,” tutur Ayik.

“Karena harus kita akui, kalau kita nyantri itu kan babnya tidak pernah sampai ke ujung. Jarang yang sampai selesai membahas soal siyasah, khilafah, dan imamah. Karena kita keburu tamat,” imbuhnya.

Padahal, kata Ayik, situasi dunia saat ini sedang bergolak. Sementara setiap orang dituntut untuk bisa merespons setiap isu yang berkembang berdasarkan sudut pandang tertentu. Sedangkan sudut pandang tersebut tidak dimiliki oleh orang-orang NU kecuali kalau sudah terjun ke bidang politik.

“Artinya, santri-santri itu sebenarnya secara ideologi masih polos. Di sinilah kemudian diisi oleh kelompok-kelompok radikal. Kita akan melihat nanti bagaimana fenomena kaum santri yang radikal. Jadi ibadah ala NU tapi politiknya ala HTI,” tutur Ayik.

“Jadi saya terus terang saja, secara ideologi tidak mendapatkan dari NU. Jadi saya kurang wawasan kebangsaan, kenegaraan, politik global,” tambahnya.

Wawasan Kebangsaan di Pesantren

Intelektual muda Nahdlatul Ulama Rifqil Muslim mengatakan, pemahaman tentang wawasan kebangsaan di pesantren menjadi semacam pelajaran wajib. Karena di pesantren diajarkan hubbul wathan minal iman, yakni doktrin untuk mencintai tanah air yang baik dan benar.

“Tapi mungkin terjadi kekosongan karena apa yang mereka kaji ketika mereka sudah pulang terkadang berbeda dengan yang ada di kitab. Di kitab kita harus amar makruf nahi munkar bil hal, bil qowl, bil qolb,” jelas Gus Rifqil.

Para santri yang baru pulang dari pesantren itu, terutama yang kerap ikut agenda bahtsul masail, selalu merasa aneh dan tidak sepakat dengan persoalan atau keputusan kebijakan PBNU yang dianggap terlalu lembek atau berkompromi dengan yang lain.

“Mereka (santri) mungkin tidak lihat dari sisi yang lain, yang justru NU ini lebih mengedepankan prinsip tawassuth dan tasamuh,” tutur Gus RIfqil.

Oleh karena itu, katanya, perlu dipahami bahwa sesuatu yang dikehendaki oleh NU adalah demi menjaga keutuhan NKRI. Segala hal yang dilakukan PBNU tidak serta-merta atau seenaknya. Melainkan melalui sebuah proses atau tahap yang panjang.

“Jadi dicari dulu permasalahannya, klasifikasi, dan justifikasi. Jadi di bahtsul masail itu kita dihadapkan pada satu permasalahan yang terdiri dari berbagai macam perbedaan pendapat,” kata Gus Rifql.

“Nanti perbedaan pendapat itu diambil yang paling pas dengan keadaan yang ada di zaman ini, tidak selalu yang paling kuat. Kalau untuk bahtsul masail pendapat harus didulukan yang bisa diaplikasikan di kehidupan nyata,” tambahnya.

Hal tersebut berbeda dengan bahtsul masail yang terjadi di pesantren. Siapa orang yang paling tebal kitabnya maka pasti akan menang. Sementara di PBNU, dalam konteks berkehidupan di masyarakat tidak bisa seperti itu.

“Jadi kita harus mengambil sebuah solusi yang bukan hanya persoalan halal-haram. Karena yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi,” katanya.

Kemudian Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Gus Saad Mu’afi mengatakan bahwa NU lahir atas dasar kecintaan kepada NKRI. Sedangkan gerakan ekstremisme dan intoleransi itu rerata muncul dari organisasi transional seperti HTI.

“Lalu ada FPI yang didirikan awalnya Pam Swakarsa yang tidak punya ideologi dan arah perjuangan tidak jelas. Tapi hari ini mereka menjelma menjadi sebuah organisasi yang merasa paling Ahlussunnah wal Jamaah,” ungkap Gus Saad.

Ia mengatakan bahwa doktrinasi yang dilakukan FPI dan HTI sangat luar biasa. Sementara doktrinasi yang dilakukan NU belum ada apa-apanya. Menurut Gus Saad, hal ini menjadi fakta yang harus diakui.

Gus Saad bercerita, pernah pergi ke Lamongan mendatangi atau ziarah ke makam Teroris Bom Bali, Amrozi. Ia berencana untuk menemui kakaknya Amrozi yang merupakan seorang kiai. Memiliki santri banyak.

“Saya terlebih dulu menemui santrinya yang masih berusia 18 tahun. Saya tanya sudah berapa tahun mondok di sini? Dia jawab, saya di sini tidak mondok, saya di sini ngajar menghafal Quran. Saya sudah 3 tahun di sini. Saya ngajar tentang bela diri, merakit bom, dan menembak,” kata Gus Saad, bercerita.

“Saya tanya lagi, sebelumnya kamu di mana? Dia jawab, sebelumnya 5 tahun di Abu Bakar Ba’asyir. Dia juga bilang bahwa dua tahun lagi dia harus ke Suriah untuk menjadi jihadis di sana. Apabila berhasil bertahan selama 4 atau 5 tahun, maka dia akan naik pangkat jadi jenderal kelompok teroris,” ungkap Gus Saad.

Kemudian ia menyampaikan sebuah ungkapan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bahwa apabila ingin menghancurkan Indonesia maka terlebih dulu hancurkan NU. Oleh karena itulah, katanya, kelompok yang ingin merongrong NKRI pasti punya bingkai yang sama.

“Karena mereka punya kepentingan yang sama, maka harus ada isu yang sama. Di Pasuruan ini FPI, HTI, persis, dan Wahabi masuk ke dalam frame yang sama dulu. Mereka sama-sama anti-Syiah. Mereka tidak segan-segan, kalau ada orang Syiah di tengah jalan pasti dipukul,” jelas Gus Saad.

Lebih lanjut, katanya, jika titik ini sudah bertemu mereka melakukan konsolidasi dari atas ke bawah. Lalu masuk dan merongrong kepada NU. Caranya adalah melemahkan kepercayaan kepada pimpinan NU.

“Kita lihat hampir semua yang diserang adalah tokoh-tokoh utama NU, khsuusnya yang struktural. Mereka membabat habis Gus Dur, dan Kiai Said hari ini. Gus Yahya Staquf juga. Habib Lutfi mereka juga serang,” katanya.

“Pola ini sudah lama mereka lakukan, mereka lakukan dengan tujuan yang sama. Kita sebagai kader NU berat perjuangannya,” tutupnya.

Leave a reply

error: Content is protected !!