Catatan Hitam Taqiyuddin Al-Nabhani, Pendiri HT Yang Ekslusif dan Otoriter

1
525

Sangkhalifah.co — Membicarakan persoalan Hizbut Tahrir (HTI jika di Indonesia) memang layak untuk terus dilakukan meskipun badan hukumnya di Indonesia sudah dicabut dan HTI resmi terlarang di negeri ini. Demikian itu dilakukan untuk terus menghalau narasi-narasi jahat kelompok khilafah yang melempar ideologi radikal bahkan teror ke tengah bangsa Indonesia yang beragam.

Dalam faktanya, aktivis khilafah memang dikenal sebagai orang-orang banal (nakal), bandel, dan tidak punya telinga. Sebab, sudah tahu organisasinya terlarang di Indonesia akan tetapi masih saja menjualkan ideologinya ke tengah masyarakat. Karena sudah di larang berjualan ideologi di dunia publik, mereka mengobral ideologinya dengan harga murahan ke anak-anak yang berpengetahuan awam. Setelah terperanjat dengan ideologi khilafah, otomatis seseorang menjadi ekslusif, pemikirannya otoriter, dan orang-orang yang berpendidikan pun tiba-tiba menjadi bodoh ketika bergabung dengan HTI.

Namun ada hal yang patut ditelisik dari Hizbut Tahrir, yaitu soal sang pendirinya; Taqiyuddin Al-Nabhani. Mengapa aktivis khilafah jarang sekali membahas profil tokoh pendirinya? Kenapa mereka seakan-akan menyembunyikan latar belakang pencetus organisasinya dengan menyamar bahwa mereka ‘hanya’ mengkampanyekan ajaran Islam? Ada banyak jawaban untuk menjawab itu.

Setidaknya karena mereka tidak mau mengkultuskan (atau bahkan sebetulnya tidak mau tahu) siapa Al-Nabhani. Rupanya mereka tidak mau mengkultuskan atau bahkan enggan mau mengikuti jejaknya secara maksimal. Seperti salah satu kader HTI asal Cirebon, Fahmi Al-Anjatani, yang mengkritik NU karena dianggap terlalu mendewakan kiai-kiainya, HTI tidak mau mendewakan Al-Nahbani. Padahal dalam keilmuan sanad, profil seorang guru amatlah penting untun menunjang seberapa validitas ilmu yang kita dapatkan.

Membahas sosok pendiri Hizbut Tahrir menarik untuk ditelisik lebih mendalam. Dia orang yang lahir antara 1909-1977. Pada tahun 1945 ketika perang dunia berakhir ia berumur 36 tahun. Setelah perang dunia berakhir kita tahu ada perang dingin yang dikenal perseteruan antara Amerika dan Uni Soviet, dengan dua ideologi yang bersebrangan dan dikampanyekan ke berbagai negara dunia, yaitu Kapitalisme dan Sosialisme. Pada 1953 inilah kemudian Al-Nabhani mendirikan partai, Hizbut Tahrir, dan menawarkan ideologi Islam (ala dirinya). Parahnya, dia menganggap Islam sebagai ideologi, sebagaimana Kapitalisme dan Sosialisme. Padahal jelas-jelas Islam adalah agama, yang memiliki nilai-nilai luhur dan etika yang dapat mengatur segala hidup manusia, bukan ideologi. Posisi Islam sebagai agama sangat tinggi, sementara ketika menjadi ideologi menjadi turun, bahkan direndahkan. Di sinilah pada hakikatnya, Hizbut Tahrir bukan berjuang meninggikan Islam, tapi merendahkan Islam.

Al-Nabhani sangat ekslusif, jika menganggap Islam hanya sebagai ideologi. Bukan hanya direndahkan, jika ia dijadikan sebagai ideologi sangat mungkin banyak dikritik bahkan ditinggalkan. Sejarah membuktikan banyak ideologi politik yang gagal dan tidak bisa merealisasikan visinya maka ia akan dicemooh dan bahkan diabaikan dari kehidupan. Tidak menutup kemungkinan jika ekslusifisme Al-Nabhani terus diwarisi oleh para aktivis khilafah pada akhirnya dapat menjadikan Islam akan ditinggalkan oleh masyarakat dunia. Tentu ini tidak boleh terjadi, dan kita sebagai orang Islam wajib melawan pemikiran khilafah ala HTI untuk membendung terjadinya sikap cemoohan dan merendahkan atas agama Islam.

Ekslusifisme Al-Nahbhani juga dapat ditilik dari ketidakmampuannya melihat populisme, politik identitas dan dunia yang multikultural. Sisi-sisi tersebut merupakan dampak globalisasi dunia, yang membuat masyarakat dunia menyuarakan kembali untuk tetap mempertahankan primordialnya. Masyarakat beramai-ramai menolak keterpengaruhan arus globalisasi. Misalnya, Inggris keluar dari Uni Eropa sebab tidak mau diatur oleh kekuasaan bangsa lain, yaitu didikte oleh birokrat Brusseles. Al-Nabhani tidak memikirkan ini, bagaimana bila satu bangsa disuruh-suruh oleh bangsa lain? Misalnya, Arab disuruh-suruh oleh Presiden Turki? Atau bagaimana jika misalnya Afghnistan didikte oleh Raja Arab? Tentu yang akan terjadi adalah kekacauan dan peperangan. Inilah akibat yang akan terjadi bilamana Hizbut Tahrir tegak di suatu negara, yang ada hanya kekuasaan yang mendikte dan otoriter.

Bukan organisasi Hizbut Tahrir yang ditakuti menguasai dunia, akan tetapi yang menjadi catatan adalah jika fasisme agama ala Hizbut Tahrir yang lahir dari pemikiran Al-Nabhani ini terus berkembang, tidak lain dan tidak bukan hanya akan melahirkan kekerasan dan terorisme. Kelompok militan Hizbut Tahrir akan berjuang dengan kekerasan meski mengatasnamakan agama. Ini sudah ada buktinya, misalnya di Inggris, para militan Hizbut Tahrir yang tidak puas dengan kebijakan Hizbut Tahrir mereka keluar dari Hizbut Tahrir dengan nama Al-Muhajiroun, organisasi sempalan Hizbut Tahrir yang lebih ekstrim. Mereka di Inggris memperjuangkan ideoloi khilafah dengan cara-cara kekerasan dan bahkan teror. Tidak lain, semua itu berawal dari pemikiran ekslusif Al-Nabhani.

Mengakhiri tulisan ini dapat ditarik benang merah bahwa apa yang diperjuangkan Al-Nabhani bukan agama Islam, akan tetapi ideologi politik rekayasanya yang dibalut dengan nama Islam, untuk mengalahkan dua ideologi pada masa perang dingin itu. Wajar jika para aktivis khilafah amat fasih bicara dua ideologi itu dan mempertentangkannya dengan Islam (baca ideologi khilafah ala Al-Nabhani). Namun demikian, para aktivis khilafah enggan mau membesar-besarkan tokoh pendirinya, Al-Nabhani, karena mereka, sangat mungkin, tidak mau taat dengan apa yang diperjuangkan Al-Nabhani, sebuah perjuangan yang ekslusif dan hanya akan melahirkan ideologi yang otoriter di dunia. Namun demikian, alih-alih aktivis khilafah hendak menyembunyikan identitas ekslusif dan otoriter Al-Nabhani, mereka justru sudah otomatis menjadi aktivis yang ekslusif dan otoriter secara otomatis. []

Leave a reply

error: Content is protected !!