Catatan Hitam Hizbut Tahrir: Teror dan Kekerasan

8
469

Hizbut Tahrir di dunia, bukan pergerakan yang baru lahir. Sebab itulah, catatan hitam atas organisasinya sudah ada. Semua negara di dunia tidak ada satu pun yang menyetujui keinginannya untuk mengganti sistem-sistem yang ada; para ulama-ulama skala nasional dan internasional pun, yang mu’tabarah tidak ada yang sepakat.

Pernyataan-pernyataan bahwa khilâfah dirindukan umat hanyalah klaim kelompok pribadi tanpa legitimasi dari ulama-ulama non-HTI. Misalnya pernyataan tokoh nasional yang diakui dunia, KH. Hasyim Muzadi, “jangan berkhayal kalau HTI akan menerima NKRI karena mereka (HTI) merupakan bagian dari jejaring pergerakan internasional. Mungkin ibadahnya sama, tetapi cara bernegara mereka berbeda.”

“Jangan berkhayal kalau HTI akan menerima NKRI karena mereka (HTI) merupakan bagian dari jejaring pergerakan internasional. Mungkin ibadahnya sama, tetapi cara bernegara mereka berbeda.”

Fatwa-fatwa ketidakbolehan mengikuti organisasi ini disebabkan agama dijadikan alat legitimasi gerakan politik global dan kepentingan para petingginya. Disamping itu, H. Yaqut Cholil Qoumas menyatakan bahwa hal “yang mengerikan dari kelompok ini adalah karena mereka berusaha merekrut para pejabat pemerintahan, militer dan elite-elite penguasa yang memiliki posisi sentral di negara masing-masing untuk menjadi anggota mereka” (hlm. 10).

Baca: Khilafah: Membawa Berkah atau Malapetaka?

Strategi ini diterapkan kelompoknya di seluruh dunia. Bukti catatan hitam―salah satunya―adalah penyusupan Hizbut Tahrir ke tubuh militer di Pakistan. Saat itu yang terdakwa bernama Brigadir Khan yang ingin menggulingkan pemerintahan sah di Pakistan. Namun umumnya, anggota-anggota mereka yang ditugaskan untuk menyusup dan berperan di publik, kemudian tertangkap, maka Hizbut Tahrir akan melepasnya sebagai bagian dari cuci tangan.

Cuci tangan itu kerap diwakilkan dari narasi-narasi Pengurus DPP HTI―kita ambil contoh di Indonesia, katanya tidak ada kaitannya dengan kekerasan dan terorisme. Mohammad Nuruzzman―penulis buku ini―mencatat bahwa “pada hari Senin, tangal 31 Juli 2006, dua bom ditemukan di stasiun kereta api di Jerman. Bom tersebut ada dalam sebuah koper, sementara kereta api sudah bergerak. Bom pertama ditemukan dalam kereta api yang sudah mendekati stasiun Dortmund, dan yang kedua ditemukan dalam kereta api yang sedang menuju Koblenz… beberapa hari kemudian, pada tanggal 19 Agustus, pelajar Muslim Lebanon berusia 21 tahun bernama Youssef Mohammaed al-Hajdib ditangkap… dan satu minggu kemudian, pada tanggal 25 Agustus, sekongkolan al-Hajdib yang berasal dari Suriah bernama Fadi al-Saleh juga ditangkap oleh pihak keamanan Jerman” (hlm. 96-97).

Baca: Nalar Maqashid Al-Syariah dalam Diktum Pancasila

Siapakah mereka? Salah satu orang yang menggunakan nama samaran atau kode “Hamza” adalah anggota Hizbut Tahrir. Bahkan narasi-narasi berjihad yang bernuansa kekerasan terdapat dalam majalahnya, Al-Vai. Saat itu sebuah artikel berjudul How To Become A Shakhid, berbunyi sebuah paragraf, “umat Muslim! Singkirkan kepala suku yang tidak menjalankan syariat Allah, kirimlah pejuang untuk berjihad dan mengusir orang-orang Yahudi. Mungkin ada korban, mungkin juga perlu menderita dan berperang di atas jihad fi sabilillah, dan menjadi seorang syahid” (hlm. 110).

Seruang-seruan secara verbal atau literal di Indonesia pun mudah kita temui. Di Indonesia aktivis-aktivis dan simpastisan mereka pun telah ditemukan. Misalnya, Junaidi yang ditangkap Densus 88 Anti Teror, karena keterlibatannya dalam aksi penembakan di Thamrin Jakarta pada tanggal 14 Januari 2016 adalah anggota Hizbut Tahrir Indonesia.

Buku karya Mohammad Nuruzzaman ini didedahkan kepada masyarakat Indonesia guna mengungkap fakta dan upaya ‘ngeles’ dari HTI yang kerap bernarasi bahwa mereka bebas dari upaya-upaya kudeta dan kekerasan di negara-negara tempat mereka “menginap”―sebuah istilah bahwa mereka tidak memiliki negara yang tetap karena ditolak dimana-mana. Dan sudah saatnya lagi, pemerintah tegas dalam menyikapi kajian-kajian mereka di seluruh Indonesia agar jangan sampai mereka terus merongrong walau legal formal dan status hukumnya dicabut pemerintah. []

8 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!