Cacat Nalar Klaim Demokrasi Sistem Kafir dan Sistem Dajal

0
129

Sangkhalifah.co — Dunia Islam sejak tahun 1924 telah menolak sistem khilafah. Bukan tanpa alasan, sistem ini ditolak karena tidak lagi memberikan kemaslahatan. Sistem khilafah justru melahirkan permusuhan antar khalifah, bahkan usaha saling mengkudeta satu sama lain. Sejarah mencatat, misalnya, Abdullah Ibn Muljam membunuh dengan memenggal kepala cucu Rasulullah Sayyidina Husain sebab ego politiknya.

Contoh lainnya, bagaimana Hajjaj bin Yusuf, salah satu Gubernur Bani Umayyah memblokade Makkah dan menghujani penduduknya dengan panah api hingga Ka’bah terbakar. Perilakunya lagi-lagi karena kepentingan politik di bawah naungan khilafah. Dunia pun berbondong-bondong meninggalkan khilafah dan mengangkat demokrasi sebagai penggantinya.

Diangkatnya demokrasi menjadi sistem di banyak negara, termasuk di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim, karena demokrasi sesuai dengan visi agama Islam yang menghargai pendapat setiap individu dengan musyawarahnya. Demokrasi sejalan dengan tatanan hidup islami yang mengedepankan keadilan baik bagi pemimpin atau rakyatnya. Secara esensial, sistem demokrasi sudah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad ketika memimpin Madinah. Nabi Muhammad memberikan peluang kepada semua individu dan kelompok yang ada di Madinah untuk bersuara menyampaikan pandangan dan pendapatnya untuk kemaslahatan kota Madinah.

Merupakan pernyataan yang mengada-ada jika mengklaim demokrasi sebagai sistem kufur atau sistem Dajjal. Memang secara penamaan demokrasi lahir dari dunia Barat. Tetapi sebagai Muslim yang cerdas tidak akan menolak begitu saja nilai-nilai yang ada di dalamnya dan sebaliknya tidak mengadopsi secara keseluruhan apa-apa yang lahir dari Barat. Sebab Nabi pun mengajarkan umat Islam untuk belajar dan mengambil inspirasi dari siapapun dan dari apapun.

Jika pun diklaim sebagai sistem yang bukan lahir dari Islam, bukankah orang pertama yang mengabarkan akan kerasulan Nabi Muhammad adalah orang non-Islam, yaitu Waraqah bin Naufal, seorang Nasrani yang menjadi imam Nestorian. Sudah banyak hal positif dari luar Islam yang telah kita adopsi, seperti sistem pendidikan, sistem belajar di pesantren, dan lain sebagainya.

Pernyataan yang dilontarkan oleh akun Instagram dengan nama projecmimart yang berasumsi sistem demokrasi sebagai sistem kafir dan sistem Dajal adalah pernyataan ngawur. Sistem negara dalam model apapun merupakan sistem yang mati (tidak bisa bergerak kecuali digerakkan manusia). Sedangkan istilah kafir sendiri memiliki arti seseorang yang menutup dan menolak kebenaran yang ia ketahui, tetapi tetap menjalankan kesalahan. Mempredikatkan sifat bagi yang berakal kepada yang tidak berakal merupakan cacat nalar yang tidak patut ditiru. Istilah kafir hanya bisa dipredikatkan kepada orang-orang yang menutupi kebenaran, meskipun hakikatnya ia mengetahui bahwa sesuatu itu adalah benar.

Istilah Dajal juga merupakan penamaan atas satu tokoh dalam eskatologi Islam yang akan muncul ketika hari kiamat datang. Ia seseorang yang gemar memfitnah dan berbohong. Mempredikatkan istilah Dajal pada sistem demokrasi juga sebuah pernyataan yang cacat logika, seperti menyatakan ‘motor yang rajin’ atau ‘laptop yang cerdas’. Sebab sesuatu yang mati tak bisa dipredikasikan dengan sifat bagi yang berakal.

Dajal sendiri dalam keyakinan orang Islam akan muncul pada hari datangnya kiamat. Sebelum kemunculan Dajal, manusia juga akan diuji dengan kemarau dan kelaparan, tidak turunnya hujan, serta musnahnya pepohonan selama tiga tahun berturut-turut. Selain itu hewan ternak di dunia semuanya pada mati. Pertanyaannya, apakah peristiwa-peristiwa ini sudah muncul di sekitar kita?

Menyematkan istilah Dajal pada sistem demokrasi merupakan sebuah kesimpulan yang dibangun tanpa nalar yang sehat. Sistem demokrasi yang sudah lahir sejak 508-507 SM disematkan dengan sifat seseorang yang bahkan tanda-tanda pun tidak pernah muncul sekalipun di dunia. Perlu ditegaskan kembali, memang dari sisi kelahiran dan namanya demokrasi bukanlah sistem Islam.

Ia merupakan mazhab politik dan filsafat yang lahir di Yunani Kuno, tepatnya di negara-negara Athuna. Akan tetapi nilai-nilai demokrasi, yaitu musyawarah, keadilan, persamaan, dan kebebasan berpendapat, semuanya terkonfirmasi oleh agama Islam yang sudah sejak lahir mengharuskan umatnya bersifat inklusif, adil, dan menghargai perbedaan. []

Leave a reply

error: Content is protected !!