Cacat Humanisme dalam Konsep Rahmatan lil ’Alamin

3
151

Sangkhalifah.co — Konsep rahmatan lil’alamin yang seharusnya sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan, ternyata masih sebatas jargon yang lantang disuarakan di negeri muslim terbanyak, namun sunyi dalam praktik keseharian. Kasus terorisme, kekerasan, korupsi dan sejuta kasus serupa, adalah bukti matinya nilai-nilai kemanusiaan. Pengkroyokan anggota polisi atas nama Bripda Muhammad Adi Saputro oleh 10 orang tak dikenal (3/02/20). Kasus serupa yang juga terjadi pada Brigpol Ahmad Jamhari, seorang anggota satuan Sabhara Polres Lampung Timur yang dikeroyok hingga meninggal saat mengawal acara hajatan salah satu warga. Kasus kekerasan yang terjadi di Karawang, seorang istri dianiaya hingga tewas oleh mantan suaminya. Ancaman teror bom juru parker yang mewarnai pada rencana aksi 22 Mei pada tahun 2019 lalu, dan masih banyak lagi kasus serupa. Sederet kasus-kasus kekerasan tersebut merupakan bukti matinya kemanusiaan (humanisme) dalam konsep rahmatan lil’alamin di Indonesia.

Nilai-nilai humanisme tidak hanya cacat pengaplikasian oleh kalangan awam, banyak para penceramah (muballigh) dan sejumlah tokoh-tokoh agama yang gemar mengobral dalil agama, tapi mendistorsi konsep rahmatan lil’alamin itu sendiri, bahkan tidak jarang provokatif dan memotivasi kalangan awam untuk bertindak seperti yang disampaikannya. Jika tokoh agama yang menjadi panutannya saja mendistorsi konsep rahmatan lil’alamin, bagaimana dengan kalangan bawah dan akar rumput (grass root) yang mengidolakannya. Mereka tetap berdalih menyebarkan Islam rahmat, tapi dengan penafsiran egois dan subjektif.

Dalam praktiknya, nilai-nilai humanisme dalam konsep rahmatan lil ’alamin, sangat kontras sekali. Banyak even-even positif, namun diwarnai dengan saling mencaci maki, fitnah dan menghina satu kelompok dengan kelompok lalinnya. Terlebih saat agenda-agenda politik, pengangkatan pemimpin sebuah negara sebagai kewajiban dalam agama, justru diwarnai dengan kampanye hitam, suapmenyuap, berbagai tindak anarkis dan lain sebagainya.

Menuntut Hak Tapi Lupa Kewajiban

Pada dasarnya, setiap individu memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi secara seimbang, tetapi dalam realitanya tidak sedikit manusia yang hanya menuntut hak-hak mereka, sementara kewajibannya sendiri sebagai makhluk sosial diabaikan begitu saja. Sebagai haknya, manusia pada dasarnya memiliki hak sebagai manusia, yaitu untuk memperoleh penghormatan dan penghargaan dari lingkungannya. Ia akan berusaha semaksimal mungkin mendapatkan keduanya. Ditambah lagi minimnya pembekalan pendidikan karakter dalam dirinya, ini membuat seseorang buta akan nilai-nilai.

Seseorang yang ingin mendapatkan hak kesejahteraan ekonomi misalnya. Ia menganggap dirinya harus tercukupi kebutuhan hidupnya, baik untuk dirinya maupun orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. Tetapi dia lupa tanggung jawab yang merupakan sebuah keniscayaan dari hak tersebut dan buta terhadap nilai-nilai. Akhirnya demi mendapatkan kewajiban tersebut dia -misalnya- mencuri, merampok dan tindakan anarkis lainnya. Tanpa ia sadari telah merampas hak-hak orang lain yang dirugikannya.

Seseorang yang merasa hak-hak sebagai warga negara misalnya, ia akhirnya melakukan perlawanan terhadap pemerintah yang sah dengan aksi-aksi fitnah, teror, dan apapun itu. Ia ingin menuntut haknya sebagai warga negara dan ingin menyuarakannya, tetapi dengan cara yang salah.

Pemahaman yang Segmental

Termasuk faktor yang menyumbang distori nilai-nilai humanisme dalam konsep rahmatan lil ’alamin adalah adanya pemahaman yang septong-sepotong terhadap konsep rahmatan lil ’alamin. Jika dalam memahaminya saja segmental, tentu dalam praktiknya juga demikian. Mereka yang memahami secara segmental, biasanya cenderung egois dan subjektif. Kelompok ini meyakini bahwa apa yang mereka pahami dan praktikan sudah sesuai konsep rahmatan lil ’alamin, tetapi tidak menurut definisi umum sebagaimana seharusnya. Dalam praktiknya, penceramah dan tokoh-tokoh agama yang demikian akan mengampanyekan pada publik, kemudian diikuti dan dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kepentingan Pribadi

Sudah menjadi realita, agama adalah branding yang paling menjual di pasaran publik. Apapun yang dibungkus dengan kemasan suci (dalil al-Quran dan hadis), akan mendapat peminat masif di masyarakat. Agenda-agenda politik yang sarat kepentingan, dibungkus seapik mungkin dengan dalil-dalil agama. Banyak masyarakat dibutakan dan akhirnya kepentingan politik berubah menjadi sebuah “agama” yang harus diikuti. Bahkan narasi kafir kerap dialamatkan pada lawan politik. Berbagai tindak kekerasan dan penghalalan darah kubu lawan adalah ekspresi kontra-humanis yang kerap mewarnai agenda-agenda politik negeri dengan muslim terbanyak ini.

Untuk menyadarkan kewajiban sebagai makhluk sosial, perlu adanya sosialisasi lebih luas, terutama bagi mereka yang jauh dari pendidikan nilai-nilai agama. Sehingga di samping harus memperjuangkan hak-haknya, juga harus memenuhi kewajiban sebagai manusia. Dengan ini, akan terjadi keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Sementara pemahaman segmental tentang konsep rahmatan lil ’alamin dan distorsi lewat kepentingan, bisa ditangani dengan pemahaman agama yang komprehensif. Sehingga konsep rahmatan lil ’alamin dipahami dengan kebenaran umum, subjektif dan tidak mudah dibodohi oleh kepentingan-kepentingan kelompok tertentu.

Konsep rahmatan lil ’alamin sejatinya sangat erat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai tersebut akan tetap utuh jika manusia tetap menyadari hak dan kewajibannya secara seimbang sebagai manusia dan memahami agama secara komprehensif, tidak sepotong-potong. Agama tanpa kemanusiaan bagaikan lilin di tumpukan gunung kapas. Bukan malah menerangi, tapi justru membakar dan menimbulkan ketakutan. []

3 comments

  1. Miftahul Ulum 5 Januari, 2021 at 02:28 Balas

    agama dijadikan bungkus keegoisan para pemangku kepentingan. itulah yang tejadi saat ini. semoga Allah selalu melimpahkan rahmatNya, sehingha negara ini akan menjadi *Baldatun Toyyobatun Warabbun Ghofur*

Leave a reply

error: Content is protected !!