Buku Intoleransi dan Radikalisme; Kuda Troya Politik dan Agama

0
342

Sangkhalifah.co — Intoleransi dan radikalisme adalah kata-kata yang melekat dalam setiap peradaban manusia. Ia bisa hinggap kepada siapa saja, baik kepada yang beragama atau yang tidak mempercayai keyakinan apa pun. Namun bagi manusia yang beragama, setidaknya terdapat keyakinan paling mendasar bahwa semua agama dilahirkan dengan basis kemanusiaan dan kedamaian. Dalam setiap agama selalu ada perbuatan yang dilarang dan ada yang diwajibkan.

Dosa dan pahala serta halal dan haram, adalah dua sisi perlambang ketaatan dan pembangkangan. Tapi semua aturan agama tak sesederhana itu. Di tangan manusia, ia berelaborasi dalam berbagai interpretasi. Dari berbagai rujukan dengan disiplin keilmuan agama, manusia lalu menuangkannya secara lebih rinci dalam laku kehidupan sehari-hari. Inilah yang disebut “tafsir-tafsir” itu.

Karena pemikiran setiap manusia selalu berbeda, maka penafsiran terhadap yurisprudensi hukum agama juga akan berbeda. Dari sini lahirlah berbagai perbedaan dari setiap hukum agama, yang kemudian memunculkan madzhab, ijtihad, aliran dan sekte-sekte. Kita semua hari ini adalah pemeluk tafsir-tafsir itu, dan sudah barang tentu semua mengaku yang paling benar.

Klaim ini yang seringkali membuat sebagian orang berusaha mendegradasi keyakinan orang lain. Jangankan terhadap yang berbeda agama, bahkan kepada yang seagama sekalipun. Seringkali karena keyakinan atas tafsir-tafsir, kita melupakan fungsi dasar agama sebagai norma untuk menertibkan akhlak atau moral manusia. Sungguh tidak mungkin agama diturunkan agar manusia saling hujat, saling serang, terlebih lagi saling bunuh satu sama lain.

Dengan beragama, manusia seharusnya tidak gelisah oleh keyakinan orang lain. Karena semua agama sejatinya berkonsep luhur dengan dasar kemanusiaan dan kedamaian. Menganggap paling benar terhadap keyakinan kita, tidak harus dengan menyalah-nyalahkan keyakinan orang lain. Mencintai agama yang kita peluk, tidak harus dengan membenci agama orang lain.

Dalam konteks setiap keyakinan, ketika kita mengkafirkan orang lain, orang lain juga akan mengkafirkan kita. Ketika kita menghujat sesembahan orang lain, orang lain juga akan menghujat sesembahan kita. Dalam Islam, sikap ini sangat dilarang. Karenanya, jangan pernah mencaci maki keyakinan orang lain, karena agama akan kehilangan fungsinya.

Sikap intoleran akan membentuk radikalisme dalam beragama. Tahap berikutnya akan bersentuhan dengan ekstremisme. Dan jika semua proses itu telah diakomodasi, seseorang akan dengan mudah melakukan resiliensi dengan terorisme. Berbagai aksi kekerasan dengan pembenaran agama yang selama ini terjadi, berawal dari sikap-sikap intoleransi itu.

Berbagai esai yang ditulis oleh rekan saya, Islah Bahrawi, ini adalah bagian dari upaya untuk mengembalikan agama kepada konsep awalnya: kemanusiaan dan kedamaian. Apa pun agama dan tafsir yang diyakininya, jika dua prinsip ini dijalankan secara utuh maka agama tidak akan melenceng di kalangan penganutnya.

Terlebih lagi di tengah gempuran berbagai narasi digital yang penuh ambiguitas hari ini, melalui buku “Intoleransi dan Radikalisme”, masyarakat diharapkan tidak terombang-ambing dalam sekat-sekat kebencian karena perbedaan. Agama akan kembali dalam daya tariknya: sebagai sarana untuk mempertebal rasa kemanusiaan, kedamaian, saling cinta dan saling mengenal satu sama lain.

Yaqut Cholil Qoumas (Menteri Agama Republik Indonesia)

 

Info Pemesanan: 0857 1791 3473 (WA Only)

Info Pemesanan: 0857 1791 3473 (WA Only)

Leave a reply

error: Content is protected !!