Buanglah Khilafah Pada Tempatnya

4
561

Sangkhalifah.co — Hingga hari ini masih ada sebagian kelompok yang mengatasnamakan Islam demi keinginan kekuasaan. Ia menjual agama demi keinginan nafsu sesaat. Simbol-simbol Islam didramatisir menjadi bagian sakral agama. Ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dibajak untuk memuluskan aksinya. Khilafah menjadi jurus andalan yang ditawarkannya. Sistem yang sudah ditolak di negara-negara dunia baik negara mayoritas Muslim maupun minoritas Muslim itu terus dienduskan demi hasrat yang kotor. Sudah mengerti khilafah tidak dibutuhkan oleh umat Islam, mereka masih saja menjajakannya di mana-mana. Sudah tahu kalau khilafah tidak pernah ada bukti nyatanya di masa sekarang bahwa telah memajukan umat Islam, namun mereka kekeuh memasarkannya dengan harga murahan.

Jualan ideologi dengan mengatasnamakan agama memang paling agak memukau. Sekalinya ada orang yang mengkritisi dicap sebagai orang yang melawan Tuhan atau telah kafir. Setiap ada yang mengkritik nalar sesatnya dianggap telah merendahkan Islam. Dan, itulah yang selama ini dilakukan oleh para pengusung khilafah baik HTI maupun ISIS. Mereka berpoya-poya jualan ideologi khilafah bentukan Taqiyuddin Annabhani dan Abu Bakar Al-Baghdadi namun dengan mengatasnamakan ajaran Islam. Siapa berani menolak khilafah ia akan dicap melawan hukum Tuhan. Siapa berani tidak setuju dengan khilafah gagasannya dituduh sebagai penista agama Islam. Agama dijual guna memenuhi nafsu sesaat para pengusung khilafah yang kian hari semakin tidak laku itu.

Namun karena Allah Maha Tahu, mereka pun di tolak di mana-mana. Kebohongan dengan mengatasnamakan agama Islam dibalas oleh Allah Swt dengan direndahkan serendah-rendahnya. Buktinya, khilafah kian semakin dijual murah oleh para pengusungnya. Khilafah dijual dengan harga murah di emper-emper Sekolah Menengah. Para penyerunya bercuap-cuap mengatasnamakan perjuangan atas nama Islam. Sungguh mereka hina sehina-hinanya. Bagaimana tidak, Allah Swt telah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa siapa yang berbohong atas nama agama ia adalah orang yang terhina (QS. Al-Mâ’ûn: 1-5). Karakteristiknya, mereka membawa simbol-simbol agama, akan tetapi kerap tidak peduli dengan kemiskinan, abai dengan Anak Yatim, bahkan lalai dengan kewajiban shalatnya.

Proyek khilafah hanyalah cita-cita fatamorgana dari para pengusungnya yang sangat primitif. Mereka tidak mau membuka mata dengan modernisasi sistem negara. Nafsunya selalu diarahkan kepada khayalan-khayalan masa lalu khilafah yang sama sekali tidak ada hebatnya. Bagaimana tidak, jika khilafah tegak, meski ini mustahil tingkat dewa, maka Indonesia jelas akan bubar. Model negara kebangsaan akan sirna oleh oleh cita-cita para pengusung khilafah yang menginginkan berdirinya model negara transnasional. Pancasila yang merupakan kesepakatan founding fathers akan ditendang oleh para penyeru khilafah yang buta sejarah tidak mau menghargai jasa pahlawan Indonesia. UUD 1945 akan di buang diganti dengan hukum primitif atas nama Islam yang hanya akan merendahkan banyak pihak.

Khilafah bukanlah sistem negara yang sedikitpun akan cocok bagi bangsa Indonesia. Dalam sistem khilafah, setiap orang tidak memiliki kesetaraan dalam hukum. Non Muslim misalnya, bisa ditindas semena-mena oleh sistem perusak martabak orang itu. Non Muslim menjadi manusia nomor dua yang berhak dikebiri masa depannya. Ia menjadi manusia yang tak sama sekali ada harganya di bawah naungan khilafah. Atau misal lain, di bawah naungan khilafah perempuan tidak bisa menjadi pemimpin, bekerja pun masih di larang. Perempuan hanya boleh bekerja dalam urusannya dengan kasur dan dapur. Di luar itu, perempuan akan dihukum dengan hukuman cambuk yang menyengsarakan perempuan atas nama tuntunan agama Islam. Betapa khilafah tidak ada cocoknya sama sekali dengan konteks Indonesia. Khilafah sangat diskriminatif, yang itu bertentangan dengan Islam yang sarat akan kesetaraan (musâwa).

Dalam fakta sejarah, sistem yang diskriminatif selalu akan ditendang oleh zaman. Misalnya sistem apartheid di Afrika Selatan, Nazi-nya Hitler, atau Komunis di beberapa negara, semuanya hancur dan menghilang ditendang oleh alam karena diskriminasi yang ada di dalamnya. Ia akan ditolak oleh langit dan akan dihabisi oleh bumi. Begitu pun khilafah, sistem yang sangat diskriminatif yang harus ditendang oleh bumi dan langit sejak dalam pemikiran. Tidak boleh nampak di negara mana saja, sebab berdirinya khilafah sama dengan mengundang diskriminasi yang akan terjadi di lini kehidupan. Lihat saja contohnya daerah-daerah semenanjung Timur Tengah yang diklaim ISIS sebagai daerah kekuasaan khilafahnya, kotanya porak poranda, hancur lebur, dan masyarakatnya hampir setiap hari ketakutan dengan adanya bom dan senapan yang dilancarkan oleh para pengasong khilafah ISIS.

Pada akhirnya, khilafah harus dibuang bukan saja dalam praktiknya, tetapi harus dilenyapkan sejak masih di fikiran siapa saja, terutama para generasi milenial penerus bangsa. Jangan mudah tertipu oleh rayuan para pengasong khilafah, yang jualan ideologi dengan harga murah dengan mengatasnamakan agama dan Islam. Padahal banyak tidak diketahui di balik apa yang diperjuangkan ISIS maupun HTI atas nama khilafah Islamiyyah, tidak lain adalah kekuasaan dan dana dari luar negeri demi kesejahteraan para pembesar-pembesar kedua kelompok tersebut.

Jangan sampai kita tertipu oleh intriknya yang sangat membahayakan bagi bangsa. Mereka ISIS dan HTI bukan memperjuangkan Islam, akan tetapi memperjuangkan uang dan kekuasaan. Tugas kita bersama adalah sekuat tenaga dan fikiran untuk selalu berjuang membuang khilafah pada tempatnya. Membuang khilafah pada tong sampah masa lalu yang tak perlu kembali diperjuangkan apapun alasannya. []

4 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!