BPET MUI Pusat, Makmun Rasyid: Diskusi Poso Sebagai Upaya Memecah Kebuntuan

0
118

Sangkhalifah.co — Pemerintah diminta memberikan porsi yang lebih dalam melibatkan masyarakat sipil dan civil society dalam menangani masalah terorisme di Poso, Sulawesi Tengah. Menurut anggota Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Pusat, problem di Poso tidak saja berkaitan dengan 9 orang di Gunung Biru, tetapi juga problem lama yang masih terngiang-ngiang di benak masyarakat. Ia menjelaskan masalah klasik yang bergulir selama 22 tahun bisa menjadi pemicu.

“Sejarah klasik bisa menjadi pemicu tumbuh kembangnya tindakan kekerasan. Sebab itu, penanganan di Poso harus multi-perspektif dan ragam model penanganan. Sebagaimana Malino dan sejarah sejenis, Poso kita tidak bisa samakan model penanganannya dengan daerah di Jawa dan sekitar,” ujar Makmun Rasyid usai diskusi daring yang dihelat Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Pusat.

Co-Founder CICSR ini menambahkan, pihak keamanan seperti Densus 88, Brimob dan TNI yang turun di lapangan, bukan juga dalam rangka mengambil alih peran masyarakat. Melainkan bentuk kepedulian negara dalam menyelesaikan masalah.

“Masalah tidak mungkin tuntas manakala tidak adanya sinergisitas di antara kita. Dan tidak mungkin masyarakat Poso bisa memberesi masalah ini secara mandiri. Artinya, pemerintah, civil society dan masyarakat harus duduk bersama mencari solusi yang tepat dan menyelesaikan secara perlahan-lahan,” tambahnya.

Kemudian, ia pun menolak anggapan bahwa pihak keamanan yang diturunkan ke Poso hanya dalam rangka memperoleh kenaikan pangkat dan jabatan.

“Ya, anggapan begitu datang dari mereka yang tidak percaya pada pemerintah. Tidak semua jabatan yang didapatkan aparat kepolisian karena mereka ke Poso, termasuk Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo. Tapi kalau ada yang mendapat pangkat itu memang yang diturunkan ke lapangan adalah pasukan terbaik demi mewujudkan keamanan dan ketentraman masyarakat di Poso,” jelasnya.

Makmun menjelaskan bahwa mari kita sudahi saling curiga. Karena pihak keamanan juga percaya bahwa masyarakat di Poso melalui tokoh-tokoh seperti Ust Adnan Arsal, Lukman S Thahir dan lainnya telah berupaya melakukan sebisa dalam memecah problem di Poso.

“Kedepannya yang harus kita lakukan satu: sinergisitas. Dan Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Pusat melakukan diskusi ini untuk kita saling introspeksi diri dan menatap masa depan yang cerah. Kita harus berproyeksi kedepan untuk mewujudkan Poso yang damai, tentram dan sejahtera. Dan tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar,” tutupnya.

Leave a reply

error: Content is protected !!