Bom Gereja Makassar: Waspada, Tetap Jaga Persaudaraan Bangsa

0
146

Sangkhalifah.co — Kita kembali dikejutkan dengan ledakan bom di tempat ibadah. Kali ini, ledakan terjadi di depan Gereja Katedral Makassar pada Minggu 28 Maret 2021. Ledakan bom tersebut membuat 20 orang luka-luka. Sedangkan pelaku yang berjumlah dua orang langsung tewas di tempat dengan sepeda motor yang dikendarainya. Diketahui, pelaku menggunakan jenis bom panci dalam melakukan aksi kejamnya tersebut.

Berdasarkan keterangan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, 1 dari 2 pelaku atau tersangka yang melakukan aksi bom di Gereja Katedral Makassar berdasarkan identifikasi, ada kaitannya dengan jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Pelaku berinisial L tersebut diketahui memiliki keterkaitan dengan peristiwa bom di Gereja Katedral Jolo Filipina pada Januari tahun 2018 (cnbcindonesia.com, 29/03/2021).

JAD, kita semua tahu, adalah organisasi yang berafiliasi ke ISIS. Di dalam melakukan serangan dan aksi teror, mereka cenderung serampangan. Sebagaimana pendapat Pakar Terorisme Noor Huda Ismail, bahwa pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar tersebut terkait jaringan JAD karena cenderung melakukan aksi amatiran, jika dibandingkan dengan jaringan Jemaah Islamiah yang lebih rapi dan terarah (voaindonesia, 28/03/2021).

Melihat begitu banyaknya terduga anggota teroris yang ditangkap Densus 88 akhir-akhir ini, membuat mereka mulai terdesak. Jumlah anggota yang semakin menyusut karena ditangkap, bahkan ada yang ditembak mati, membuat anggota-anggota yang tersisa marah dan putus asa, sehingga nekat melancarkan aksi teror.

Menurut pengamat intelijen dan terorisme Al Chaidar, bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar diduga dilakukan anggota JAD Makassar sebagai aksi balas dendam karena anggota mereka ditangkap dan ditembak polisi pada bulan Februari 2021 lalu. Mereka, kata Chaidar, marah dan putus asa karena sebanyak 20 orang anggotanya ditangkap dan dua di antaranya ditembak hingga tewas.

Karena mereka tahu akan ditangkap dan ada kemungkinan ditembak mati, maka mereka lebih memilih untuk menyerang terlebih dahulu dengan bom bunuh diri. Al Chaidar juga mengatakan bahwa jumlah anggota JAD Makassar kini hanya tinggal sekitar 7 orang, setelah 20 orang ditangkap dan dua di antaranya ditembak hingga tewas (Republika.com, 29/03/2021).

Tenang dan Waspada

Di tengah situasi tersebut, jelas kita harus terus meningkatkan kewaspadaan. Kita harus tetap tenang, tidak panik, namun harus waspada. Ketenangan dan kewaspadaan tersebut diwujudkan dengan terus mengawal agar pihak kepolisian bisa mengusut tuntas pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar tersebut, sembari tetap waspada dan menjaga lingkungan masing-masing.

Selain itu, terkait kejadian bom bunuh diri di Gereja Katredal Makassar tersebut, kita harus tetap menjaga situasi tetap kondusif. Dalam arti, jangan sampai kita mudah terprovokasi dengan berbagai kabar negatif yang berhembus terkait kejadian bom bunuh diri tersebut.

Hal tersebut, terutama di media sosial. Jangan sampai kita mudah percaya dengan berbagai bentuk konten provokasi yang mencoba menunggangi kejadian bom bunuh diri tersebut untuk tujuan-tujuan tertentu, dengan memanfaatkan emosi dan sensitifitas sebagian masyarakat. Waspada dengan narasi-narasi provokatif yang memanfaatkan momentum terjadinya bom bunuh diri untuk menyebarkan kebencian kepada kelompok tertentu.

Ketika terjadi teror bom di tempat ibadah, kita harus terus menjaga persaudaraan dan persatuan bangsa. Ikatan persaudaraan antarumat beragama harus terus diperkokoh dengan menjaga silaturrahmi, komunikasi yang intens, dan selalu menjunjung tinggi toleransi.

Yang jelas, segala bentuk tindakan teror terhadap rumah ibadah sama sekali tidak bisa dibenarkan. Sebagaimana keterangan dalam fiqih jihad, bahwa warga warga sipil, anak-anak, perempuan, lansia, hingga pendeta tidak boleh dibunuh dalam keadaan perang. Dalam keadaan perang tidak bisa dibenarkan membunuh orang-orang tersebut, apalagi dalam kondisi atau situasi damai seperti di Indonesia saat ini.

Oleh karena itu, jelas bahwa kita semua mengutuk aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar tersebut. Selain identifikasi pelaku, kita berharap dalang aksi bom tersebut juga bisa segera diusut secara tuntas sampai ke akar-akarnya. Tak boleh ada tempat bagi kekerasan, teror, dan tindakan radikal-terorisme di Indonesia. [Al Mahfud]

Leave a reply

error: Content is protected !!