Bom Gereja Katedral, Salah Kaprah Mati Syahid dan Keterlibatan FPI

3
404

Sangkhalifah.co — Indonesia kembali diguncang peristiwa pemboman di salah satu gereja Katedral, yakni di Makassar, pada Minggu (28/03/2021). Selain telah mencoreng nama agama, tindakan biadab itu telah melukai sendi-sendi persatuan dan kesatuan antar anak bangsa. Akun Instagram dengan nama “abo.hld3209” yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri itu mengaku sebagai calon mati syahid, penegak khilafah dan pengemban amanah jihad di jalan Allah.

Ia memanipulasi agama sebagai legitimasi aksi kekerasannya itu yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Bom bunuh diri ini melukai persatuan bangsa, karena yang menjadi target salah satu tempat ibadah pemeluk agama dan pelakunya diduga oleh penganut agama lain.

Islam memastikan tindakan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral bukan mati syahid. Karena mati syahid dalam konsep Islam, sebagaimana dituturkan oleh Irwan Masduqi dalam buku Beragama Secara Toleran, adalah mati mempertahankan agama Allah manakala agama secara nyata telah diinjak-injak dan penganutnya tidak boleh melakukan ibadah atas keyakinannya itu.

Faktanya di Indonesia, agama Islam justru menjadi agama yang dianut banyak masyarakatnya, dijunjung tinggi oleh negara, bahkan kalau boleh dikatakan, agama Islam dianakemaskan dibanding agama-agama lain sebab mayoritas. Umatnya bebas melakukan ibadah di mana saja, kapan dan di manapun tanpa ada rasa takut dilarang oleh siapapun.

Tindakan bom bunuh diri yang dilakukan untuk menimbulkan kecemasan dan rasa takut ini jelas bukan tindakan untuk mati syahid, tetapi murni tindakan biadab yang melukai diri. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An-Nisa: 29-30).

Diperkuat oleh salah satu hadis Nabi riwayat Imam al-Bukhari, bahwa barang siapa yang melukai dirinya maka kelak di hari kiamat akan diazab dengan apa yang ia lakukan ketika di dunia (HR. Bukhari). Artinya, pelaku bom bunuh diri bukan akan mendapatkan predikat syahid, namun justri akan disiksa dengan bom kembali di akhirat kelak.

Salah kaprah memaknai jihad dan mati syahid sungguh tindakan kecerobohan. Di dalam hadis yang lain, Rasulullah bersabda bahwa, “Barang siapa yang semasa di dunia melukai dirinya dengan besi, maka besi itu akan ditempatkan pada tangannya dan ia gunakan untuk menyiksa dirinya.” (HR. Bukhari).

Bom Gereja Katedral Makassar (sekali lagi) bukan upaya agar seseorang mati syahid. Tindakan tersebut merupakan tindakan biadab, sebuah kemaksiatan yang masuk dalam kategori dosa besar yang kelak akan disiksa dengan siksaan yang pedih. Mati syahid yang sebenarnya ialah mati karena mempertahankan agamanya yang diserang, dilecehkan, dan direndahkan serta umat tidak boleh melakukan ibadah sama sekali.

Di balik peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar ada hal yang menarik untuk dianalisa yakni dugaan kuat keterlibatan organisasi terlarang di Indonesia dalam peristiwa bom tersebut. Bila dilihat dari serangkaian penangkapan teroris di berbagai daerah, seperti di Jakarta Timur, Bekasi, Bima dan Makassar, ada barang bukti yang diamankan Polisi di rumah terduga teroris di Condet Jakarta Timur, yaitu didapatinya atribut Front Pembela Islam.

Dilansir tirto.id, beberapa barang bukti yang merupakan atribut FPI ialah buku berjudul FPI Amal Ma’ruf Nahi Munkar, Spirit 212 Tabligh Akbar Atas Bela Islam, dan Fisika Modern. Selain itu juga ditemukan kartu beratribut FPI. Meskipun memang Irjen Muhammad Fadil Imran belum mengungkap keterlibatan pelaku teror dengan ormas terlarang FPI itu.

Tetapi, keterlibatan ini cukup sulit untuk dibantah. Peristiwa bom bunuh diri apalagi ketika pelakunya sudah tertangkap oleh aparat, selalu membangunkan sel-sel teroris di wilayah yang lain. Modal sosial yang dibangun antar satu pelaku dengan calon pelaku yang lain saling terkait erat.

Dan, peristiwa baik bom bunuh diri maupun penangkapan terduga teroris di berbagai daerah oleh Densus 88 terjadi tidak lama setelah sidang perkara HRS yang menimbulkan aksi demonstrasi atas asumsi ketidakadilan hakim dalam peradilan karena sidang dilaksanakan dengan online. Ketika ada seorang yang dianggap tokoh oleh sekelompok orang, dan ia “dikriminalisasi” (dalam pandangan mereka), maka tindakan perlawanan oleh simpatisan-simpatisannya akan dilakukan dengan cara apapun.

Analisa sederhana ini memang belum terbukti sebelum penegak hukum kepolisian menyatakan secara resmi bagaimana peran FPI dan atau organisasi-organisasi lain dalam peristiwa bom bunuh diri Gereja Katedral Makassar itu. Tetapi, beberapa indikasi, seperti adanya atribut-atribut organisasi terlarang itu dalam konferensi pers Kapolda Metro Jaya dan waktu kejadian bom bunuh diri dan penangkapan beberapa jaringan teroris di berbagai daerah yang terjadi pasca sidang kasus-kasus HRS, memberi dugaan kuat akan keterlibatannya.

Ditambah lagi, keterlibatan anggota FPI dengan aksi teror tak bisa dibantah. Sebagaimana dilansir CNN Indonesia (2020), Kompolnas Irjen (purn) Benny Mamoto membuka data adanya 37 anggota FPI yang tergabung dengan JAD dan MIT dan organisasi lainnya yang terlibat aksi teror. []

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!