BNPT: 85 Persen Generasi Milenial Rentan Radikalisme

1
220

Sangkhalifah.co – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengeluarkan hasil survei terbarunya tentang potensi radikalisme pada tahun 2020. Hasilnya mengejutkan berbagai kalangan. Dalam survei ditemukan sekitar 85 persen generasi milenial rentan terpapar paham radikal. Hasil survei itu diumumkan di sela-sela penutupan Rakornas Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di Nusa Dua, Bali, Rabu (16/12/2020) malam.

“Dengan hasil survei yang ada, kita diingatkan untuk mewaspadai pergerakan spread of radicalisation di dunia maya. Tidak hanya di Indonesia, tapi seluruh dunia,” ujar Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar.

Dia memaparkan, pandemi Covid-19 banyak belajar secara online dan aktivitas perkantoran banyak melaksanakan Work From Home (WFH) membuat generasi milenial dan masyarakat banyak menggunakan waktu untuk berselancar di dunia maya. Mengambil ragam asupan untuk akal dan mengisi aktivitas sehari-harinya tanpa filter seperti nalar kritis dan sejenisnya.

Menurutnya, generasi milenial yang mengakses internet ibarat masuk ke hutan belantara. Saat mencari konten keagamaan misalnya, ada kecenderungan menerima preferensi ceramah keagamaan dengan durasi singkat sehingga tidak diterima secara utuh. Banyak yang mencari dengan prinsip kemudahan dan instan. Tidak dibantu dengan nalar kritis dan pengecekan latar belakang penceramah yang didengarkannya. Disisi lain, kelompok radikal-teroris dengan masif memanfaatkan media sosial selama pandemi ini.

“Generasi muda ini belum tumbuh niat dalam menggunakan media sosial untuk tujuan yang bermanfaat,” ucap  Boy.

Di lain kesempatan pula, BNPT telah melakukan upaya identifikasi hal-hal strategis untuk tahun 2021, berperan aktif melawan paham radikalisme berbasis online. Kondisi seperti saat ini membuat kelompok  radikal-teroris pun melakukan pemetaan untuk menarik massa dan simpatisan yang lebih banyak. Dimana hampir setiap hari dalam data monitoring yang didapatkan, perkembangan mereka tidak menurun selama tahun 2020 ini.

“Melawan paham radikal berbasis online. Kita melihat penyalahgunaan dunia maya cukup tinggi berkaitan dengan penyebarluasan paham terorisme intoleran dan radikalisme yang sangat menghiasi ruang publik kita di dunia maya,” tutup Boy.

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!