Bisnis Khilafah: Berbungkus Agama Untuk Menipu Umat

3
226

Sangkhalifah.co — Sudah sejak tahun 1924 khilafah menjadi sistem yang sudah tidak dibutuhkan lagi oleh umat. Bukan saja karena sudah tidak relevan dengan kondisi umat yang menginginkan terbentuknya negara bangsa dengan tetap memegang teguh agama, tetapi juga karena tragedi berdarah di masa khilafah yang tidak mencerminkan ajaran Islam. Saling menikam antar khalifah karena nafsu kekuasaan menjadi sejarah yang tidak bisa ditutup-tutupi dalam sejarah khilafah.

Perebutan kursi jabatan melalui kudeta satu khalifah terhadap khalifah yang lain sudah bukan menjadi rahasia umum masa khilafah. Oleh sebab demikian merupakan suatu yang tak mendasar bila para penyeru khilafah beranggapan sistem khilafah merupakan sistem paling sempurna. Adalah sebuah kebodohan menganggap khilafah merupakan sistem yang dapat memberikan solusi segala macam persoalan umat.

Meski demikian para kaum fanatik khilafah tidak mau tahu. Bagi mereka khilafah adalah segala-galanya dan melebihi apapun. Cara berfikir demikian dinisbatkan dengan fenomena pandemi Covid 19. Para penyeru khilafah beranggapan bahwa virus Corona yang sampai saat ini belum bisa ditangani karena umat tidak menerapkan khilafah. Demokrasi dan Pancasila tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyudahi pandemi Covid 19, sebagaimana dikatakan oleh akrivis eks HTI Abu Mumtazah pada 23 April 2020 dalam postingan Facebooknya. Khilafah dijual seperti dijualnya kucing dalam karung.

Sistem yang tidak jelas dan tidak ada bukti konkrit telah melawan pandemi tapi terus ditawar-tawarkan di tengah umat. Justru di masa khilafah sendiri pada masa Khalifah Umar pernah kedatangan wabah virus menular yang bernama Al-Mawas. Apakah sistem khilafah yang menyudahi penyakit itu? Tidak. Yang memberikan kesembuhan kepada para pasien hingga virus itu menghilang adalah kerjasama medis dan masyarakat secara komunal dengan fokus pada penekanan kesehatan dan keselamatan. Bukan dengan dasar sistem negara, termasuk tidak menggunakan sistem khilafah untuk menyelesaikan wabah menular di masa sahabat Umar itu.

Bukan hanya mengkampanyekan khilafah sistem gagal itu, aktivis khilafah juga menyalahkan sistem demokrasi dengan menganggap biang semakin rancunya penanganan virus Corona. Salah satunya akun Facebook “Khairin Bee” yang suudzan menganggap demokrasi sebagai sistem bisnis pemerintah dengan rakyatnya. Adanya tes kesehatan virus Corona yang memang berbayar dituduh sebagai kebobrokan sistem demokrasi yang sudah menjadi sistem bisnis di tengah pandemi.

Padahal kalau mau membuka mata dan hati, pemerintah melalui sistem demokrasi telah menyalurkan berbagai bantuan baik dalam bentuk uang langsung (BLT) ataupun sembako. Informasi terbaru sebagaimana dikutip dari Kompas, bantuan uang bagi masyarakat yang terdampak Covid akan diberikan hingga akhir bulan Desember, dan bisa jadi terus berlanjut manakala kondisi masih belum terkendali. Ini bukti bahwa demokrasi merupakan sistem yang adil, yang memperhatikan masyarakat kecil, bukan seperti khilafah yang tidak pernah miliki peran sama sekali di negeri ini, namun cita-citanya menguasai pemerintah.

Lantas apakah adanya tes kesehatan virus Corona merupakan efek negatif dari sistem demokrasi? jelas jawabannya tidak. Kalau mau fear menyalahkan sistem demokrasi sebagai sistem yang saat ini menjadi sistem bernegara di Indonesia, harusnya (para penyeru khilafah) ketika khilafah tumbang oleh Khalifah Kemal Attaturk, yang disalahkan adalah sistemnya, yaitu sistem khilafah, bukan menyalahkan Attaturknya, sebagaimana mereka menyalahkan demokrasi, bukan orang-orang yang mengambil kesempatan dan berbisnis di tengah pandemi.

Jadi dari sini tidak ada kaitannya antara orang-orang yang memanfaatkan situasi Covid 19 dengan kesalahan demokrasi, sebagaimana para fanatik khilafah menganggap tidak ada relevansinya antara khilafah dengan runtuhnya sistem tersebut. Oleh sebab itu yang perlu kita tegur dan beri pelajaran adalah mereka yang memanfaatkan pandemi demi bisnis pribadinya, bukan sistem demokrasinya. Sebab perilaku demikian jelas dikecam agama yang tidak melegalkan sikap egois dan mementingkan kepentingan kelompok sendiri.

Sistem khilafah hingga hari ini tidak pernah membuktikan sebagai sistem terbaik, sempurna, sebagaimana klaim para simpatisan eks HTI. Tidak ada negara di dunia yang berhasil menerapkan khilafah dan mensejahterakan umatnya. Boro-boro mau berhasil, kehadiran khilafah saja ditolak di mana-mana, baik di negeri Muslim atau non-Muslim. Di Mesir, Arab Saudi, Suriah, khilafah ditolak mentah-mentah dengan berbagai bukti kasus penggulingan dan kekerasan. Di negara Barat, seperti di Jerman dan sebagian negara Eropa lainnya khilafah juga tidak boleh eksis karena terbukti bukan mencerminkan umat Islam yang sejatinya, yang ramah, santun, namun justru terlibat kudeta kekuasaan.

Untuk menarik masa, mereka selalu berjualan agama, menjadi bakul agama, dengan mencari pembeli dari kalangan yang bodoh, enggan mau belajar Islam secara komprehensif, dan dari mereka yang pintar namun diiming-imingi seabreg hal-hal duniawi. Mereka mengelabuhi orang-orang awam dengan menjual nama agama. Sehingga berujung pada lahirnya generasi yang cacat nalar menyalahkan sistem demokrasi dan Pancasila, tanpa mau berdiskusi secara terbuka dan dengan cara yang sehat.

Maka jelas perjuangan para penyeru khilafah bukanlah membawa umat menuju kebenaran, namun malah menipu umat dengan seabreg bisnis khilafah dan Islam. Perjuangan para penyeru khilafah bertentangan dengan visi misi Nabi Muhammad diutus di muka bumi untuk menyempurnakan akhlak, namun mendoktrin masyarakat awam agar menjadi pribadi yang gemar mencela, rajin mencaci maki pemerintah, dan hobi berhalusinasi. Islam sebagai agama yang rahmatal lil alamin tak sekalipun memerintahkan umatnya untuk mengolok-olok pemerintah, apalagi menjelekkan dengan balutan agama.

Islam memberi tata aturan bagi umatnya dalam melakukan kritik kepada penguasa dengan cara-cara yang santun, diskusi, dan musyawarah untuk menemukan titik kesepahaman. Islam tidak mengajarkan sikap fanatik buta sebagaimana fanatik terhadap khilafah tanpa mau melihat secara komprehensif dan objektif sejarah khilafah. Keselamatan di masa pandemi bukan dengan menerapkan sistem tertentu, apalagi khilafah. Keselamatan dari virus Corona adalah dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditentukan oleh pemerintah kita.

Demikian itu meskinya kita banyak berterimakasih kepada mereka, bukan justru mencaci demokrasi dan menawarkan khilafah sistem yang tidak permah memberi solusi menghadapi virus. Menganggap demokrasi sebagai sistem bisnis pemerintah dengan rakyat adalah perilaku kebodohan, justru pemerintah telah banyak membantu masyarakat terdampak wabah saat ini. Demokrasi dan Pancasila saat ini adalah sistem terbaik, yang tidak pernah dimiliki sistem khilafah, yang terbukti telah mempersatukan seluruh elemen bangsa di bawa naungan NKRI, termasuk para penyeru khilafah. Sudah semestinya para penyeru khilafah berterimakasih kepada demokrasi, yang justru telah membiarkan para penyeru khilafah menghirup udara segar di bawah puing-puing keindahan demokrasi.

3 comments

Leave a reply

error: Content is protected !!