Bibit Radikalisme, Ken Setiawan: Cirinya Suka Mengkafirkan dan Anti Budaya

0
994

Sangkhalifah.co — Perang melawan radikalisme dan terorisme belum usai termasuk meminimalisir penyebaran ideologinya. Selama ini perang melawan terorisme ditujukan kepada NII, JAD, JI dan sejenisnya, namun yang termasuk kolaborasi NII dan paham impor yaitu salafi haraki, salafi ikhwani dan salafi jihadi yang ternyata masih punya banyak pengikut dan juru bicara di Indonesia masih bebas berkeliaran.

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan membenarkan bahwa kesemua paham disebut di atas merupakan benih-benih yang terlebih dahulu merasuki jiwa kaum teroris sebelum doktrin jihad dengan senjata mereka lakukan.

“Takfiri atau mengkafirkan orang lain di luar kelompoknya dan anti budaya kearifan lokal merupakan bibit radikalisme dan cikal bakal terorisme di Indonesia. Apapun afiliasinya, selama ada bibit radikalisme itu, mereka akan muncul sebagai teroris,” ujarnya.

Dalam sistem demokrasi, mereka bebas dan dijamin undang-undang untuk berkumpul dan menyatakan pendapat, termasuk mengadakan kajian keagamaan di masyarakat. Padahal kebebasan mereka terbatasi oleh undang-undang yang ada di Indonesia.

“Para pelaku propaganda itu juga berperan penting untuk memberi semangat pengikutnya melakukan aksi teror, apapun jenis dan bentuknya, namun yang bisa ditindak oleh aparat adalah orang atau kelompok yang sudah melakukan tindakan terorisme. Disinilah problem utama kita di Indonesia,” tambahnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, lemahnya hukum yang diberikan kepada aparat keamanan kita adalah mereka bisa menindak manakala sudah terdapat indikasi bergabung dan melakukan tindakan teror.

“Jadi orang atau kelompok yang hanya mengkampanyekan negara Islam atau khilafah belum bisa ditindak dengan pasal terorisme, kecuali mereka yang sudah bergabung dalam kelompok dengan berbaiat dan melakukan latihan untuk persiapan terorisme, itu bisa ditindak dengan ‘preventif strike’ atau pencegahan keras, jadi sebelum melakukan aksi mereka sudah bisa ditangkap aparat,” jelas Ken.

Secara garis besar, kelompok radikal atas nama agama di Indonesia baik yang latar belakangnya NII, salafi haraki dan salafi jihadi mereka bersaing mencari anggota di Indonesia dengan cara masing masing. Jadi wacana yang dilemparkan mereka tidak bisa dianggap sesederhana itu seperti doktrin Wahabi.

“Salafi menginduk kepada doktrin Wahabi dan pendapat duo ulama pro Kerajaan Arab Saudi—Bin Baz dan Nashirudin al-Albani. Kajian mereka membahas ‘syirik kubur’ dan anti-bid’ah. Mereka apolitis, tidak menyentuh wilayah ‘syirik undang-undang’ atau demokrasi. Ini bisa dimengerti karena kiblat mereka adalah Arab Saudi yang berbentuk kerajaan. Ada Salafi-Ikhwani yang menginduk kepada al-Ikhwan al-Muslimun (IM) Mesir yang didirikan Hasan al-Banna. Dari rahim IM inilah lahir paham salafi-jihadi,” tegasnya.

Jika di luar negeri mereka-mereka ini telah ditetapkan sebagai organisasi terlarang tapi di Indonesia hukum saja tidak menyentuh mereka. Ini disebabkan karena perangkat hukum kita belum mewadahinya.

“Di Indonesia Ikhwanul Muslimin dibawa oleh seorang putra komandan NII atau Panglima militer DI TII Danu Muhamad Hasan yiatu Hilmi Aminudin yang belajar ke Mesir dan akhirnya dikembangkan menjelma menjadi partai politik PK dan sekarang menjadi PKS,” jelasnya.

Bahkan menurutnya, IM yang di Indonesia bermetaformosis menjadi PKS itu di negara asalnya ditetapkan sebagai organisasi terlarang. Sampai deretan nama-nama dari afiliasi IM dinyatakan teroris karena ikut terduga terlibat dalam aksi-aksi teror.

“Di Saudi Ikhwanul Muslimin di tetapkan sebagai gerakan Teroris, UEA juga menetapkan IM sebagai teroris termasuk negara asal IM yaitu Mesir menetapkan sebegai teroris, bahkan 50 ulama IM masuk dalam daftar teroris. Sementara di Indonesia IM masih bebas dan bahkan menjadi salah satu partai peserta pemilu, tokoh agamanya pun bebas menyampaikan pahamnya atas nama demokrasi dan kebebasan berpendapat. Mereka menguasai bebarapa kampus dan masjid masjid pemerintahan,” tutupnya.

Leave a reply

error: Content is protected !!