Bias-Bias Ideologis Penafsiran Abu Rashtah (1)

1
368

Sangkhalifah.co — Sekalipun sangat halus, namun dapat ditemukan beberapa penafsiran Abu Rashtah yang sarat muatan ideologis berupa ajakan untuk menegakkan Khilāfah Islamiyyah. Contoh yang paling jelas terlihat yakni saat ia menafsirkan QS. Al-Baqarah: 30. Ayat ini biasa dijadikan landasan normatif ideologi Khilāfah Ḥizbut Taḥrīr. Ia menyatakan bahwa ayat ini memberitahukan bahwa selain dikarunai banyak nikmat yang telah disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya, Allah juga memberikan nikmat yang secara khusus hanya diberikan kepada nabi Adam dan keturunannya, yakni kapabilitas menegakkan sistem Khilāfah. Bahkan dalam hal menjelaskan posisi manusia sebagai penegak Khilāfah di muka bumi, Allah sendiri yang membantah prasangka para malaikat yang memperkirakan manusia akan berbuat kerusakan, tidak seperti malaikat yang pekerjaannya hanya mematuhi perintah Allah.

Nabi Adam diberikan kemampuan menjalankan Khilāfah melalui beberapa proses, hal ini dijelaskan oleh Abu Rashtah dalam tafsirnya. Pertama-tama, Allah mengajarkan nabi Adam nama seluruh makhluk, bahkan juga makhluk-makhluk yang khusus beserta ciri-cirinya. Pengetahuan ini adalah nikmat yang hanya Allah berikan kepada nabi Adam, tidak kepada malaikat. Pengetahuan ini kemudian menuntun nabi Adam menggunakan akal pikirannya untuk mengelola bumi sehingga beliau dan keturunannya memiliki kapabilitas menegakkan Khilāfah.

Dari ayat ini Abu Rashtah sampai pada pemahaman bahwa nabi Adam dan keturunannya diberi oleh Allah pengetahuan yang tidak diberikan kepada malaikat. Selain itu, Allah juga akan mempermudah hal apa saja yang memang sejak awal menjadi tujuan penciptaan suatu makhluk. Seperti halnya Khilāfah, Allah mempermudah dan memberikan kapabilitas bagi manusia untuk menegakkan Khilāfah, sebab Khilāfah adalah tujuan awal diciptakannya manusia. Sebaliknya, malaikat tidak mampu menegakkan Khilāfah sebab itu bukanlah tujuan awal penciptaan mereka.

Penafsiran Abu Rashtah tentang ayat ini kemudian dilanjutkan dengan pembahasan yang panjang dan mendalam tentang posisi akal pada manusia. Hal ini dianggap penting dibahas sebab dengan akal manusia mengetahui nama-nama makhluk yang diajarkan oleh Allah sehingga manusia memiliki kapabilitas menegakkan Khilāfah dan mengelola bumi.

Selain pada ayat tersebut, Abu Rashtah juga menyelipkan ideologi Ḥizbut Taḥrīr tentang janji tegaknya Khilāfah Islamiyyah dengan cara yang halus. Salah satunya saat menjelaskan tafsir QS. Al-Baqarah: 105.Rashtah. Dalam lanjutan penafsiran ayat ini, Abu Rashtah menjelaskan bahwa Khilāfah Islamiyyah yang telah dijanjikan oleh Allah akan segera tegak Kembali di muka bumi. Saat Khilāfah Islamiyyah tegak, kaum Yahudi yang biadab dan telah sangat lama menjajah Palestina akan segara mendapat balasan yang kejam dari Allah SWT. Abū Rashtah bahkan juga menggunakan redaksi reportase yang mengajak pembaca bersama-sama menyaksikan bagaimana nasib kaum Yahudi yang saat nanti mendapat azab dari Allah setelah tegaknya sistem Khilāfah Islamiyyah.

Contoh penafsiran lainnya yang secara halus mengajak pembaca ikut berjuang menegakkan Khilāfah Islamiyyah terdapat pada tafsir ayat ke-186 dari surah al- Baqarah. Setelah menjelaskan kandungan ayat secara global tentang seruan Allah kepada manusia untuk berdoa, Abū Rashtah menjelaskan sabab nuzul ayat tersebut berdasarkan kitab tafsir mu’tabar. Ia juga menyertakan beberapa ayat al-Qur’an yang kandungannya senada dengan ayat tersebut. Kemudian, ia mengambil tema inti ayat tersebut, yakni tentang doa dan membahas faidahnya secara luas dan dalam.

Pada penjelasan faidah doa yang ketiga, Abu Rashtah menyisipkan ajakan kepada para pembaca untuk ikut serta menegakkan Khilāfah Islamiyyah. Ia berkata bahwa siapapun yang menginginkan Khilāfah Islamiyyah kembali tegak di muka bumi, maka ia tidak cukup hanya berdoa, melainkan ia juga harus ikut berusaha bersama para pejuang lain yang berjuang menegakkan Khilāfah. Kemudian usaha tersebut harus selalu disertai doa agar Allah segera merealisasikan janji kembalinya Khilāfah Islamiyyah.

Dalam karyanya yang lain, yakni kitab Ajhizat Daulat al-Khilāfah, Abu Rashtah menjelaskan interpretasi dari QS. Al-Māidah: 48 sebagai landasan normative dari ideologi Khilāfah yang diusung Ḥizbut Taḥrīr. Ia menyatakan bahwa lafal fahkum dalam ayat ini menggunakan bentuk fi’il amar yang mengisyaratkan bahwa perintah ini tidak boleh ditunda. Menurut Abū Rashtah, perintah untuk memutuskan perkara berdasarkan hukum Allah hanya bisa dilaksanakan seorang hakim, yakni khalīfah yang memimpin menggunakan sistem Khilāfah. [Bersambung]

*Ahmad Fawaid & Nafi’ah Mardlatillah, Universitas Nurul Jadid, Probolinggo

1 comment

Leave a reply

error: Content is protected !!