Bersikap Elegan dalam Menyikapi Perbedaan

0
186

Sangkhalifah.co — Perbedaan merupakan sunatullah yang tidak bisa dihindari di muka bumi. Ibn Qayyim Al-Jauzi pernah mengatakan, ikhtilaf adalah perkara yang meski terjadi pada manusia, hal demikian karena setiap manusia memiliki keinginan, pemahaman, dan kekuatan dalam pemahaman satu sama lain. Pandangan ini berbeda dengan sebagian kelompok yang mengaku beragama dan membela Islam namun enggan mau menerima perbedaan.

Kelompok radikal dan teror misalnya, beranggapan bahwa pemahaman atas agama hanyalah satu. Yang paling benar adalah apa yang dipahami kelompoknya saja. Sehingga kerap kali mereka merasa bahwa diri mereka telah mendapatkan pengajaran langsung dari Nabi Muhammad dan berujung pada tindakan menyesatkan dan mengkafirkan orang lain yang berbeda.

Apa yang dipahami oleh kelompok teror yang selalu mengatasnamakan agama untuk memerangi mereka yang berbeda keyakinan tentu adalah sebuah kefatalan yang tidak dimaafkan oleh agama. Ibn Abidin dalam kitab Ad-Dur al-Mukhtar menegaskan bahwa perbedaan merupakan salah satu dari pengaruh rahmat. Maka semakin banyak ikhtilaf semakin banyak pula rahmat yang akan didapatkan oleh umat.

Di lain kesempatan, Rasulullah pernah bersabda yang artinya: “Selagi kalian mendapatkan di dalam Kitabullah maka harus melaksanakannya. Tidak ada alasan untuk meninggalkannya. Jika tidak mendapatkan maka dari Sunnahku. Dan jika tidak mendapatkan juga maka dari sahabat-sahabatku. Maka manakala kalian mengambil dari mereka adalah sebuah petunjuk. Perbedaan di antara sahabatku adalah rahmat.”

Khalifah Umar Bin Abdul Azis dalam satu kesempatan juga pernah menegaskan arti pentingnya menghadapi perbedaan secara elegan. Ia berkata, “Tidaklah menyenangkan bagiku jika sahabat Rasulullah tidak berbeda, sebab jika mereka tidak berbeda maka tidak akan ada istilah rukhshah.” Di lain itu, Imam Malik pernah berkata menjawab tawaran Harun Ar-Rasyid ketika ia ingin agar kitab Al-Muwattha karya Imam Malik akan disebarkan ke penjuru dunia.

Imam Malik menolak bahwa semua orang benar mengikuti apa yang mereka benarkan. Semua orang berada dalam hidayah dan petunjuk Allah. Ini membuktikan akan sikap rendah hati Imam Malik di dalam menghadapi suatu perbedaan. Walaupun Imam Malik dikenal memiliki karya monumental yang berpotensi dijadikan sebagai tuntunan umat, namun ia menolak demi menghargai perbedaan yang ada di tengah umat.

Kesadaran akan perbedaan di tengah umat, menurut Syaikh Abdullah bin Bauyah harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, menghormati pendapat yang berbeda. Hal ini seperti ketika Imam Malik menghargai perbedaan di tengah umat manakala Harun Ar-Rasyid hendak menjadikan kitab Al-Muwattha sebagai rujukan semua umat. Kedua, mengedepankan objektifitas.

Dalam menghadapi perbedaan umat Islam dituntut untuk se-objektif mungkin, jangan sampai tidak adil dalam menilai sesuatu sehingga menjadikannya terlalu subjektif dalam menentukan sebuah hukum. Ketiga, tidak memusuhi pemilik pendapat yang berbeda sebab demikian merupakan akibat dari hawa nafsu. Maka demikian harus dihindari. Perpecahan yang terjadi di tengah umat sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku beragama Islam tidak lain sebab timbul dari hawa nafsu, agama tidak sesekali mengafirmasi tindakan perpecahan dan brutal di tengah umat.

Keempat, menyepakati demi menjaga persatuan. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Ibn Mas’ud ketika tidak setuju dengan Sayyidina Utsman yang memiliki pendapat untuk menyempurnakan salat di tengah jalan. Meskipun demikian, Ibn Mas’ud tetap bermakmum kepada Sayyidina Usman dan berkata bahwa berselisih itu berbahaya. Ibnu Mas’ud meskipun dirinya memiliki pandangan yang berbeda dengan orang lain namun ia mengedepankan sikap elegan yang optimal. Tidak sekadar dengan menunjukkan melalui pernyataan akan tetapi dengan tindakan langsung. Begitu semestinya umat Islam, meskipun tidak sepakat dengan orang lain dalam suatu persoalan tidak semestinya ia memusuhi orang lain yang berbeda, akan tetapi harus menghargai dan bahkan ikut andil dalam melakukan hal yang berbeda itu demi harmonisasi umat.

Terkait dengan poin kelima ini, Ibn Taimiyah telah membuat pernyataan yang amat indah. Bahwa, ia lebih baik memilih tidak melakukan hal-hal yang disunahkan dalam Islam ketimbang tidak bisa menciptakan rasa persatuan dan perdamaian di tengah umat. Sebab menurutnya, kemaslahatan dan perdamaian lebih utama dibandingkan dengan amalan sunah. Sebagaimana telah lama dipraktikkan oleh Baginda Rasulullah SAW yang tidak merubah posisi bangunan Ka’bah demi persatuan dengan orang-orang Kafir Quraisy. Para ulama salaf telah dengan baik mempraktikkan sikap persatuan dan perdamaian, bahkan walau harus meninggalkan melakukan amalan sunah. Sebab tujuan agama sendiri adalah untuk kemaslahatan. Maka ibadah apapun, sebesar apapun tidak ada guna bilamana tidak mengandung unsur kemaslahatan yang merupakan tujuan agama itu diturunkan.

Sebagai umat Islam yang mengaku umat Rasulullah kita perlu memaklumi perbedaan yang terjadi dengan cara elegan. Elegan dalam arti tidak tersulut dengan adanya perbedaan pandangan agama dan keyakinan. Sebab perbedaan tidak lain kecuali rahmat Tuhan.

Ibn Qayyim menambahkan, bahwa jika dalam satu masalah tidak ditemukan hadis atau ijmak ulama, masih ada ijtihad yang bisa menjadi alternatif, dan hasilnya itu tidak bisa diingkari, baik hanya dikerjakan oleh Mujtahid sendiri atau oleh muqallid. Maka jika umat Islam dapat berlaku demikian, mereka akan dapat menolak potensi gejolak yang akan timbul di tengah umat. Jika umat Islam sadar akan pesan-pesan damai dan kemaslahatan hukum Islam, maka semestinya tidak ada lagi perpecahan di tengah mereka. []

Leave a reply

error: Content is protected !!