Berawal ‘Kajian Sunnah’ dan Berakhir di JAD

0
690

Sangkhalifah.co — Tidak kali ini oknum polisi tidak netral, disinyalir banyak saudara-saudara kita di kepolisian tertipu dengan kedok Sunnah, hal ini wajar di era derasnya informasi dan sosial media, jika dulu kita bersusah payah mendatangi majelis taklim tertentu, belum lagi mendapatkan tazkiyah (rekomendasi), dulu mungkin kita agak kesulitan, tetapi tidak untuk hari ini, siapa saja bisa mengakses ke kelompok ini.

Saudara kita di kepolisian sejatinya punya niat mulia, ingin salih, baik dan masuk surga, tetapi sayangnya mereka tertipu dibalik bahwa kelompok sunnah itu melarang demo, melarang melawan negara, bahwa Jokowi itu Ulil Amri, karena alasan itulah banyak anggota kepolisian akhirnya berbondong-bondong masuk pengajian sunnah, mereka mengajak istri anak mereka ke dalam majelis taklim ini.

Ini mirip apa yang dikatakan oleh anggota pengajian polisi sunnah di Polda Maluku Utara, saya diundang oleh Polda Maluku Utara, ceritanya ada anggota polwan yang bernama Bripda Nesti dan Rini, mereka berdua kemudian masuk kelompok JAD, yaitu kelompok teroris yang tergabung dengan 1515, pihak Polda Maluku Utara mengundang saya karena kasus tersebut, Bripda Nesti dan Rini awalnya ikut pengajian sunnah, lalu entah mengapa lama kelamaan mereka menyebrang ke Salafi Takfiri, ternyata memang semua ada prosesnya.

Ketika dikumpulkan anggota polisi yang ikut pengajian Sunnah tersebut mengatakan kepada saya, bahwa kami pak ustaz, itu tidak disuruh nge-bom, kami tidak boleh berdemo, kami mengakui bahwa Jokowi itu Ulil Amri dll, lalu saya jawab, “ya mereka ketika merekrut anda memang tidak akan menyuruh hal tersebut, ya kan, pasti anda akan melaporkannya, tetapi antum semua akan membenci orang di luar kelompok Anda bukan, amalan Aswaja itu bid’ah kan dll, lalu dari mereka yang Polisi yang agak militan menjawab kembali, “lah em emang mereka melakukan kebid’ahan kan ustad, itu dilarang dalam agama kita! Nah di situ celahnya, antum semua tidak di ajarkan Salamatus Sadr (lapang dada) melihat perbedaan, antum tidak punya sikap toleransi terhadap saudara se-muslim di luar kelompok antum. Selesai!

Sikap intoleransi ini lah yang menjangkiti kelompok sunnah ini, disinyalir mereka menyusup ke tubuh Polri dan TNI agar mereka terlindungi dari perundungan dan bully-an masyarakat, mereka mendekati institusi keamanan secara person agar mereka terus terlindungi dalam menyebarkan paham mereka, sementara problem pengajian di kepolisian itu sama dengan problem masyarakat urban perkotaan pada umumnya, mereka ingin menjadi orang baik tetapi salah cari pengajian.

Masalahnya adalah jika kepolisian tidak lagi netral, maka kelompok intoleransi ini akan merepotkan institusi kepolisian, mereka membuat tidak obyektif menyelesaikan persoalan-persoalan di masyarakat kita, termasuk kasus diskusi ilmiah antara Aswaja dan Salafi di Polres Payakumbuh, yang di sinyalir polres ini kesusupan paham intoleransi ini.

Bukan kali ini saja institusi kepolisian tersusupi paham radikalisme, walau belum sampai ke tindakan terorisme, tetapi paham terorisme itu semua berproses dan bertahap, dikhawatirkan jika pengajian sunnah selalu mengkampanyekan sikap toleransi nya tidak mustahil akan ada oknum anggota polisi yang menjadi teroris, seperti Brigadir Sofyan Tsauri, Bripda Nesti dan Bripda Rini (Polda Maluku Utara) Briptu Indra Saputra (menjadi bom bunuh diri di Mosul), Kopka TNI Juli Karsono (menembak mati 4 Polisi), Sabar Subagyo alias Daeng Koro (eks Kopassus yang bergabung dengan MIT) Briptu Syarif Tabubun (membunuh 5 Brimob di Loki Ambon) Serda Ismail dihukum seumur hidup (satu SPK dengan Syarif Tabubun) dan masih banyak lagi.

Walau di tubuh Salafi ada cabang-cabangnya, tetapi mereka sama-sama pengagum Muhammad bin Abdul Wahhab, dan para teroris di seluruh dunia semacam ISIS dan Al-Qaeda itu sering menjadikan kitab-kitab Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai referensi utama, atau setidaknya Muhammad bin Abdul Wahhab sebagai inspirasi dakwah mereka, apa yang dikatakan Buya Arrazi Hasyim itu benar terkait zombie-zombie haus darah, cukup lah kami dan yang saya sebutkan di atas menjadi zombie haus darah dulunya. Alhamdulillah saya punya kesempatan bertaubat dan memperbaiki kesalahan kami. Waallahu’Alam []

*Sofyan Tsauri, Eks Napiter Jamaah Anshorud Daulah

Leave a reply

error: Content is protected !!